MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Malam syahdu


__ADS_3

"Masih sakit?"


"Sedikit, agak perih."


"Nggak apa apa, nanti juga hilang kalau sudah dipijat."


Sang istri hanya tersenyum. Matanya sesekali terpejam menikmati pijatan lembut tangan sang suami di bagian bawah perutnya. Baru kali ini wanita itu merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa meski kenikmatan itu diawali oleh rasa sakit yang luar biasa pula.


Wajar jika rasa sakit itu ada, apa lagi bagi wanita yang mahkotanya masih terjaga. Hall itu juga yang dirasakan oleh seorang wanita yang sekarang lebih dikenal dengan nama Andin. Padahal sudah satu bulan dia menjadi istri seorang pria, tapi baru kali dia merasakan nikmatnya berbagi keringat, berbagi bibir, dan bersatunya dua benda kebanggaan manusia yang letaknya berada di bawah perut wanita dan pria.


Sedangkan bagi sang suami, ini bukanlah malam pertama bagi dia, tapi ini adalah istri terakhirnya yang dengan suka rela menyerahkan sesuatu yang berharga untuk dirinya seperti istri yang lainnya. Sang suami yang namanya sedang naik daun itu tidak pernah menyangka akan mendapat kesempatan menikmati tiga belas mahkota milik wanita cantik tanpa dia harus jadi pria nakal atau pria hidung belang.


Jari kekar Jiwo masih memijat lembut lubang nikmat istrinya sambil matanya terus manatap wajah Andin yang sedang menatap langit langit. Bibir Jiwo maju lalu mengecup pipi istrinya kemudian turun ke bawah dan menyesap salah satu bukit kembar yang sangat menggoda.


"Mister kayaknya suka banget sama dada ya?" ucap Andin sambil menatap kepala sang suami yang sedang seperti bayi kehausan.


"Tergantung, Sayang," balas Jiwo saat bibirnya terlepas dari pujuk bukit kembar dan kepalanya kembali ke tempat semula dia berbaring.


"Kenapa tergantung?" tanya sang istri dengan kening berkerut dan menatap suaminya.


"Kalau dadanya istri istriku ya aku suka, kalau bukan ya berarti tidak suka," jawab Jiwo asal.


Bibir Andin seketika mencebik. "Dih, pasti kalau lihat wanita cantik juga pikirannya kemana mana, hayo ngaku?"

__ADS_1


"Hahaha ... ya enggak lah," Jiwo mengelak. "Istriku aja cantik semua, ngapain mikirin cewek lain? Kadang aku tuh seperti nggak nyangka loh, kayak mimpi aja gitu."


"Nggak nyangka bagaimana?"


"Ya nggak nyangka kalau aku bisa memiliki kalian. Udah cantik semua, baik, akur, tidak saling egois. Kadang aku tuh takut, kalau aku tidak bisa adil sama kalian. Makanya aku selalu meminta kalian, kita harus terbuka biar aku tahu keluhan kalian dan aku bisa memperbaikinya."


Seketika senyum terkembang di bibir Andin. Wanita itu menggeser tubuh dan merapatkannya pada tubuh sang suami. "Mungkin karena Mister adalah orang baik, jadi Tuhan ngasih rejeki istri macam kami. Bahkan kami rela bertahan disini daripada pulang ke negara kami, karena kami tidak mau melepaskan diri dari pria sebaik Mister."


Jiwo langsung tersenyum dan mengusap kepala Andin dengan lembut. "Kamu bisa aja kalau memuji, Sayang."


"Loh, tapi itu kan kenyataan. Kalau nggak nyata mana mungkin kami mau bertahan dengan Mister?"


"Iya sayang iya, terima kasih ya?"


Keduanya saling merapatkan badan menyalurkan kebahagian yang mereka rasakan. Sejenak mereka terdiam seperti kehabisan bahan pembicaraan. Mata mereka terpejam tapi rasa kantuk belum datang. Jam di dinding baru menunjukkan pukul sepuluh malam kurang dua puluh menit.


"Besok kira kira ada kejutan apa lagi ya, Mister?"


"Nggak tahu, semoga aja ada kejutan yang baik baik."


"Mungkin kalau kita jualan akan ramai banget ya?"


"Semoga saja, Sayang. Berita itu membawa dampak baik buat kehidupan kita."

__ADS_1


"Terus, Mister mau usut nggak berita yang ngefitnah Mister?"


"Penginnya sih gitu, Sayang, tapi nanti kalau urusan sudah beres, baru bertindak."


"Kira kira ada nggak orang yang Mister curigai?"


"Ya ada sih, tapi biarkan aja dulu. Yang penting sekarang netizen tahu siapa yang benar, jadi aku tidak terlalu khawatir."


"Baguslah," ucap Andin sambil mengencangkan pelukannya. Jiwo pun melakukan hal yang sama juga.


Kembali, suasana mendadak menjadi hening. Andin yang kepalanya berada di dada sang suami, matanya memandang benda yang mengecil di bawah perut suaminya. Andin tersenyum merasa gemas, lalu tangannya bergerak meraih benda bersebut.


"Kamu ngapain, Sayang?" tanya Jiwo yang tersentak kaget saat merasa ada tangan yang menggenggam benda kesukaan istri istrinya.


"Pengin lihat dia membesar, Mister," jawab Andin sambil menggerakkan tangannya naik turun.


"Kalau dia membesar, kamu harus tanggung jawab loh kalau dia minta masuk lagi."


Andin bukannya menjawab tapi dia malah menggeser kepalanya ke arah bawah perut suaminya. Awalnya Jiwo tertegun lalu dia tersenyum saat merasakan lidah menempel pada benda yang perlahan tapi pasti mulai menbesar dan menegang. Jiwo sempat menggelengkan kepala karena tidak menyangka Andin mau bermain mulut dengan benda menegang miliknya, dan sekarang Jiwo sangat menikmatinya serta mempersiapkan diri untuk melakukan ronde kedua.


"Aaaaakkhhhh ..."


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2