
Hari kini kembali berganti. Hari ini Jiwo kembali libur jualan karena ada yang harus dia kerjakan dan juga bahas dengan para istrinya. Jiwo masih terlelap disaat jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dua ronde yang dia lewati semalam, membuat dia tertidur sangat larut. Bahkan mata Jiwo terpejam hampir jam tiga pagi, sedangkan Alena terpejam dua jam lebih awal. Maka itu Alena masih bisa bangun pagi dan melakukan pekerjaan seperti biasanya bersama istri istri Jiwo yang lain.
Sementara itu di rumah yang lainnya tapi masih satu desa dengan Jiwo, ada yang sedang merasakan hawa tegang dan panik. Ketegangan itu terjadi di rumah Pak lurah dimana tempat tinggal Jiwo berada. Pemimpin tertinggi di desa itu nampak murka kepada anak dan memantu karena ulah mereka yang sangat memalukan dimata Pak lurah.
Berita keributan antara Jiwo dan keluarga Titin kemarin, cepat sekali menyebar dari mulut ke mulut hingga berita itu sampai di telinga Pak Lurah. Sebenarnya Pak Lurah sudah sangat ingin marah sejak berita itu dia dengar, tapi karena banyaknya progam desa yang harus dia ikuti lumayan menguras tenaga, Pak Lurah memilih mengistirahatkan dirinya lebih awal.
Dan pagi ini adalah kesempatan Pak Rohim, nama dari lurah tersebut untuk meluapkan segala hal yang dia pendam dari kemarin. Sedangkan anak dan menantunya hanya bisa terdiam. Setiap pembelaan yang mereka lontarkan selalu dapat dipatahkan oleh sang Ayah.
Sedangkan istri Pak Lurah memilih berdiam diri di kamar. Dia sendiri sebenarnya dulu, kalau bukan karena hamil duluan, Bu Lurah enggan mempunyai menantu seperti Titin. Sekarang malah mendengar besannya membuat ulah yang sangat memalukan. Makin bertambahlah rasa benci Ibu Lurah kepada menantunya itu.
"Kalian itu benar benar bodoh atau gimana? Nggak bisa dikasih nasehat yang baik. Kalian punya malu nggak sih sebenarnya?" cecar Pak Rohim penuh emosi. "Apa mau kalian? Hah! Apa yang sebenarnya kalian inginkan dari Jiwo sampai nggak punya rasa malu? Apa?"
"Aku cuma ingin dia nggak sombong dan nggak belagu, Pak."
"Yang sombong dan Belagu itu kamu, Malik! Kamu masih punya dendam dan sakit hati gara gara dulu Jiwo nggak merestui kamu sama adiknya? Iya?"
Malik terkesiap. Matanya nyalang menatap sang Bapak lalu dia melirik ke arah istrinya. Kenyataannya memang seperti itulah keadannya. Keluarga Malik memang tahu alasan Malik membenci Jiwo karena apa. Tapi mereka tidak menyangka, bencinya Malik bisa sampai mendarah daging seperti ini.
"Lebih baik kalian segera minta maaf sama Jiwo," titah Pak Rohim.
__ADS_1
"Apa? Minta maaf? Nggak mau? Aku nggak salah," tolak Malik lantang.
"Jadi kamu lebih memilih nunggu Jiwo bertindak? Oke! Silakan hadapi sendiri, Bapak tidak akan pernah mau ikut campur. Bapak nggak mau nama Bapak ikutan buruk diakhir masa tugas Bapak!" hardik Pak Rohim tajam. Dia langsung pergi meninggalkan anak dan menantunya yang terkejut dengan keputusan sang ayah.
"Aduh, Mas, gimana ini? Bapak nggak mau bantu?" keluh Titin terlihat sangat khawatir.
"Loh, kamu, bukannya ikut ngomong, malah diam aja!" hardik Malik semakin dibuat kesal oleh rengekan istrinya.
"Aku kan nggak enak ngomongnya," balas Titin membela diri. "Disini aku kan cuma menantu."
"Mending kita cari orang yang kemarin ngomong sama kita. Kita harus bisa buktiin kalau kita itu tidak salah," usul Malik.
"Ah, sial!"
Sementara itu orang yang sedang dicari Malik saat ini sedang bersiap diri untuk kembali ke kota, dimana ketiga belas gadis incarannya berada. Dengan dibekali mobil lagi, kali ini Hendrik menegaskan, Bejo dan dua rekannya harus berhasil membawa wanita wanita itu ke markas mereka. Dengan sangat yakinnya Bejo malah mengatakan kalau dia sudah menemukan orang yang akan membantunya memudahkan jalan untuk mengusir semua wanita dari kampung itu.
"Awas aja kalau sampai gagal lagi! Kalian akan tahu akibatnya seperti apa!" ancam Hendrik.
"Beres, Bos. Kali ini saya jamin, bakalan bawa mereka semua kesini dalam keadaan utuh dan bersegel," balas Bejo dengan yakinnya.
__ADS_1
"Aku pegang kata katamu, Jo."
"Siap! Kalau begitu kita berangkat dulu, Bos."
Hendrik hanya mengangguk sekali dan salah satu rekan Bejo yang bertugas pegang kendali, langsung tancap gas. Dalam perjalanan, Bejo dan rekannnya pun membicarakan rencana mereka.
"Kalau orang yang bantu kita gagal, kita gimana, Jo? Apa yang akan kita lakukan?" tanya rekan Bejo yang duduk di kursi belakang.
"Kalian tenang saja, kalau pasangan suami istri itu gagal, kita jalankan rencana yang telah kita bicarakan kemarin, gimana?"
"Emang kamu udah siapin semuanya?"
"Sudah dong."
"Wah! Sip, sip, sip."
Seringai jahat sontak tersungging dari bibir Bejo saat itu juga.
...@@@@@...
__ADS_1