MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Keceplosan


__ADS_3

Jiwo dan para istri masih sibuk berbenah. Seperti yang disarankan Emak, Jiwo pun mulai memikirkan membangun kamar tambahan untuk istri istrinya. Selain itu, kamar tambahan itu juga bisa digunakan untuk istirahat kakak dan adik Jiwo jika sedang berkunjung menjenguk Emak atau ada acara.


Jiwo memperhatikan tanah kosong milik keluarganya. Tanah yang masih bisa dibangun satu rumah itu adalah tanah milik Bapaknya Jiwo. Tanah itu sengaja dibagi dua oleh Bapak. Satu untuk rumah dan satu untuk kebun pisang.


Setelah menerka nerka dan memperkirakan bangunan seperti apa yang dia inginkan, Jiwo mulai mengamnbil kertas dan bolpoin untuk membuat sketsa rumah yang ada dalam bayangannya. Nantinya gambar itu akan dia diskusikan dengan Emak serta tukang bangunan yang sudah ahli dalam bidangnya.


Saat ini sebagian istri istrinya sedang pergi ke pasar untuk berbelanja bahan dan alat yang diperlukan dalam prosese pembuatan beberapa jajanan sesuai yang di rencanakan Aisyah. Sedangkan istri istri yang masih di rumah, diberi tugas oleh Jiwo untuk mencatat sisa barang dagangan yang ada di lapak dan juga memcatat semua yang harus dibeli pada saat belanja nanti.


Istri istri Jiwo memang sudah diajari cara mengelola dagangannya, jadi Jiwo membiarkan para istrinya bekerja sendiri di ruang tamu. Jika ada kesulitan baru Jiwo turun tangan.


Sementara itu, di salah satu toko bahan roti, Aisyah, Alina, Aziza dan Andin nampak sedang menunggu giliran untuk di depan toko. Toko tersebut kelihatan rame. Menurut orang orang pasar, toko bahan roti dan peralatannya itu terkenal karena harga yang murah juga.


Saat giliran istri Jiwo hendak dilayani, tiba tiba terdengar suara wanita yang protes minta dilayani terlebih dahulu.


"Mas, aku duluan dong? Aku sedang terburu buru nih?" ucap wanita itu dengan sedikit keras.


"Maaf, Mbak, tapi mereka duluan yang datang ke toko, jadi mereka dulu ya?" jawab pelayan toko pelan dan sopan.


"Ya nggak bisa gitu dong, Mas. Biar bagaimanapun juga aku kan orang sini," ucap wanita itu memaksa.

__ADS_1


"Emang apa bedanya, Mbak? Sama sama pembeli juga? Bentar ya?" balas pelayan itu masih bersikap ramah. Namun nampaknya pembeli wanita itu semakin tidak senang dengan sikap yang di tunjukan pelayan toko. Wajahnya semakin terlihat kesal.


"Ya beda dong, Mas! Aku tuh penduduk asli negara ini, sedangkan mereka kan hanya pengungsi. Kebetulan aja mereka menikah dengan orang sini."


Sontak semua yang ada disana menatap heran dengan wanita itu. Begitu juga dengan Aisyah dan yang lainnya. Mereka paham betul kalau wanita itu sedang menyindir mereka. Wajah Nadin bahkan sudah meram padam karena tersulut emosi, tapi Aisyah dengan sabar menahannya.


"Loh? Kok jadi merembet kemana mana sih, Mbak?" ucap Pelayan toko.


"Udah, Mas. Layani dia aja dulu, nggak apa apa," ucap Aisyah memilih mengalah daripada terjadi keributan.


"Nah gitu dong, tahu diri. Pengungsi harus banyak mengalah dan sabar," ucap wanita itu sabar.


Di saat bersamaan, dari dalam toko terlihat dua orang pria dan wanita turun dari lantai atas toko tersebut.


"Itu, Mbak Mel, Mbak yang itu minta dilayani dulu, padahal baru datang, harusnya mereka dulu yang di layani, eh mbak itu maksa," adu si pelayan toko.


Si pemilik toko itu pun langsung menatap wanita yang sedang melempar senyum kepadanya. "Maksud Mbak Titin apa menyerobot antrian kayak gitu?" tanya pemilik toko langsung ke intinya.


"Loh, Mel, kok kamu malah gitu? Aku kan langgganan di toko kamu, ya wajar dong, aku minta dilayani terlebih dahulu," balas Titin tak mau kalah.

__ADS_1


"Disini semua sama saja, Mbak. Mau pelanggan atau bukan, harus bisa antri. Jangan mentang mentang kamu jadi mantunya Pak Lurah, seenaknya nindas orang!" hardik pemilik toko lalu mendekat ke arah istri Jiwo berada. "Maaf ya, Mbak."


"Siapa yang nindas, Mel?" ucap Titin tak mau kalah.


"Emangnya tadi aku nggak dengar apa yang kamu omongin? Mau mereka pengungsi atau bukan, tujuan mereka disini buat beli, bukan untuk mencuri. Kamu jangan seenaknya gitu dong!" hardik pemilik toko dengan lantang.


"Udah udah, biar aku yang layani mereka," ucap suami dari si pemilik toko yang sedari tadi diam memperhatikan tindakan istrinya. "Dit, kamu layani wanita itu!"


"Iya, Mas Jaka."


"Kenapa Mbak Melati malah belain mereka?" ucap Titin tetap tidak menyadari kesalahannya.


"Wajarlah aku ngebelain mereka. Kamu ini kalah sama anak TK, mereka aja tahu antri, kamu yang udah tua malah seenaknya aja," balas pemilik toko sambil menahan sabar.


"Apa Mbak Melati belain mereka karena mereka viral? Cih! Mereka viral dan terkenal juga gara gara postingan Mas Malik, Mbak."


"Apa!"


...@@@@@@...

__ADS_1


Yang suka berpetualang dibumbui kisah asmara, mampir yuk di mari. Ceritanya di jamin mantap.



__ADS_2