MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Menguntit


__ADS_3

"Dek, coba deh lihat di sebelah sana! Aku kayak kenal sama orang yang berkaos hitam itu!"


Alina mengikuti tangan Jiwo yang menunjuk ke arah depan toko. Mata Alina seketika membulat melihat siapa yang Jiwo tunjuk.


"Itu kan orang yang menculik kita, Mister."


"Apa? Yang benar, Dek?" tanya Jiwo dengan wajah terkejut dan tidak percaya.


"Bener, Mister. Dia kan yang kemarin datang ke rumah dan hampir menangkap Alana dan Anum."


Pikiran Jiwo langsung bekerja cepat. Dia pun teringat kalau dia pernah merekam kejadian beberapa hari yang lalu. Jiwo langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel serta langsung dinyalakan. Jiwo langsung menggulir menu dan menekan menu galeri terus mencari video yang dia rekam sendiri.


"Ah iya, benar! Dia penjahatnya!" pekik Jiwo begitu melihat video yang dia putar. "Ada hubungan apa para penjahat itu dengan Malik dan Titin? Wah! Mencurigaan."


"Apa orang itu akan menangkap kami lagi, Mister?" tanya Alina terlihat sangat panik.


"Bisa jadi. Mungkin mereka sedang merencanakan hal lain. Tapi kamu nggak perlu takut. Kalau mereka macam macam aku laporin mereka dan buka kedok mereka semua."

__ADS_1


Sedangkan di sekitar tempat yang sama hanya dalam posisi yang berbeda, Bejo nampak terkejut dengan ajakan sepasang suami istri yang menghampirinya tadi. Bagaimana mungkin Bejo mau mengikuti ajakan Malik dan Titin untuk menemui orang tuanya? Sama saja dia membuka kedoknya sendiri tentang siapa Bejo sebenarnya.


Sedangkan dipihak Malik dan Titin, inilah kesempatan mereka untuk membuktikan kalau mereka tidak pernah bohong dengan tuduhannya yang mereka tujukan pada istri istri Jiwo. Bertemunya mereka dengan Bejo, akan menjadi peluang besar mereka untuk menjatuhkan nama baik Jiwo sejatuh jatuhnya hingga mereka sangat puas.


"Tapi aku lagi banyak urusan, Mas," ucap Bejo beralasan. Dia harus bisa secepatnya pergi dari menghindar dari Malik.


Nggak bisa. Kali ini kamu sebaiknya ikut saya. Cuma sebentar kok, Mas," cegah Malik. Pria itu juga tidak ingin kehilangan kesempatan bagus ini.


"Aduh, maaf banget, Mas. Aku nggak bisa kalau hari ini. Besok aja gimana?" tawar Bejo. Tentu saja itu hanya basa basi agar Malik percaya.


"Baiklah, tapi aku minta nomer ponsel dan alamat rumah kamu, Mas," ucap Malik dan permintaan itu kembali membuat Bejo merasa dilema.


"Aduh, gimana ya, Mas? Apa memang saya harus ikut? Bukankah kemarin saya sudah sangat jelas mengatakannya? Masa ngomong kayak gitu aja harus dengan bukti?" cecar Bejo agar bisa menemukan jalan keluar menghadapi Malik.


"Nyatanya saya memang butuh bukti. Bukankah kita akan sama sama untung? Jika saya bawa bukti maka kamu semakin mudah membawa wanita wanita itu kembali ke asalnya," terang Malik terlihat sangat meyakinkan hingga Bejo berpikir apa yang dikatakan Malik memang ada benarnya.


"Terus? Kenapa kamu mau ngajak saya menemui orang tua kamu? Emangnya orang tua kamu orang yang berpengaruh?" tanya Bejo mencoba menyelediki. Biar bagaimanapun dia merasa penasaran.

__ADS_1


"Ya tentu, Dong. Bapak saya itu lurah di kampung ini. Makanya saya ngajak kamu biar Bapak saya itu percaya dan langsung turun tangan mengusir para wanita itu. Tapi Bapak saya butuh bukti sebelum bertindak, dan kamu satu satunya bukti yang bisa untuk meyakinkan Bapak saya."


Bejo tercengang mendengar penjelasan Malik. Dia merasa kalau ini sebenarnya adalah kesempatan yang bagus untuk Bejo agar bisa menangkap para wanita itu. Tapi ini juga bisa jadi boomerang buat Bejo jika para wanita itu buka mulut tentang siapa dia sebenarnya.


"Gini aja deh, Mas. Besok kita ketemu lagi aja, gimana? Kita bahas masalah ini lagi besok?" usul Bejo. "Nanti aku bawa teman biar orang tua anda semakin yakin gimana?"


"Benarkah?" tanya Malik memastikan. Jelas sekali dia sangat senang dengan usulan Bejo barusan. Apalagi saat melihat Bejo mengangguk dengan cepat, Malik pun semakin yakin kalau dia bisa membuktikan ucapannya pada Bapak dan semuanya nanti. "Ya udah, saya minta nomer ponselnya. Mas."


Bejo dan Malik akhirnya saling tukar nomer ponsel. Setelah itu mereka saling berjabat tangan dan kedua orang yang memiliki misi khusus itu akhirnya berpisah tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang sedari tadi mengamati gerak gerik mereka dari seberang jalan.


"Apa yang mereka rencanakan ya, Mister?" tanya Alina pada sang suami."


"Nggak tahu, Dek. Sebaiknya kita ikuti mobil orang yang hendak menculikmu. Aku penasaran dia tinggal dimana?"


Jiwo dan Alina bergegas naik motornya kembali dan memutar arah mengikuti mobil yang dikendarai oleh Bejo.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2