
"Aku libur jualan, Sayang," ucap Jiwo dengan suara berat khas bangun tidur.
"Loh, kenapa libur mendadak? Mister sakit?" tanya Aluna dengan wajah terlihat khawatir.
"Enggak, Sayang."
"Lah terus? Kenapa nggak jualan?"
"Pengin masuk ke dalam lubang kamu lagi."
"Ini udah siang, Mister, Ayo bangun."
Bukannya bangun, Jiwo malah mengungkung tubuh Aluna dan memberi ciuman bertubi tubi. Aluna dibuat galau pagi ini. Dia ingin menolak keinginan Jiwo tapi dia sadar, suaminya lagi ingin dilayani. Aluna juga merasa tak enak dengan istri istri Jiwo yang lain yang pastinya sudah pada bangun dan mengerjakan tugas rumah tangga.
"Sebentar saja, Sayang," rengek Jiwo manja. Dia terus menyerang tubuh Aluna. Akhirnya wanita itu pasrah dan membiarkan Jiwo melakukan apa yang sedang diinginkannya.
Jiwo sangat agresif dan gerak cepat. Dia langsung membentangkan kedua kaki Aluna dan segera memasukkan benda yang sudah sangat menegang ke dalam lubang merah nan tembem milik istrinya.
Bless!
"Akhhh!"
Sementara itu di luar kamar Jiwo, seperti biasa, istri istri Jiwo lagi ngerumpi setelah tugas rumah mereka selesai. Mereka benar benar tidak mendengar kalau di dalam salah satu kamar itu, sedang terjadi percintaan panas antara suami mereka dan salah satu istrinya.
"Mister nggak dibangunkan?" tanya Aisyah.
"Nggak usah lah, biarkan Mister istirahat. Mumpung lagi libur juga," balas Anum.
__ADS_1
"Emang semalam kamu ngobrol sama Mister, sampai jam berapa, Fa?" tanya Adiba.
"Hampir pukul setengah satu malam. Mungkin Mister baru tidur sekitar jam satu," jawab Alifa.
"Makanya, biarkan saja Mister bangun agak siang, mungkin Mister memang lelah ingin istirahat," ucap Andin.
"Ni aluna juga belum bangun, apa dia juga kelelahan?" tanya Aisyah lagi.
"Ya bisa jadi. Apalagi kata Aluna kemarin pas mereka keliling, ampe nyasar jauh banget. Wajar sih jika dia juga kelelahan," balas Alana.
Tanpa mereka sadari, dua orang yang sedang mereka bicarakan justru sedang bermain kuda kudaan di dalam kamar Jiwo. Saat ini posisi Aluna sedang menungging. Jiwo benar benar melakukan segala gaya bercinta yang dia tahu.
Hingga hampir dua puluh menit lamanya, keduanya meraih puncak hampir bersamaan. Dengan nafas terengah engah, Jiwo dan Aluna terbaring melepas lelah dengan tubuh saling menempel.
"Sudah puas, Mister?" tanya Aluna sambil memijat pelan senjata Jiwo yang sudah tidak lagi.
"Ya udah, aku keluar dulu. Nggak enak ama yang lain."
Jiwo langsung mengiyakan. Aluna bangkit dan dan merapikan penampilannya serta memakai daster yang tergeletak dari semalam.
"Lubangnya buat jalan, sakit nggak?"
"Nggak tahu, tapi ini sedikit nyeri, nggak apa apa kok Mister. Masih bisa ditahan."
"Maaf ya, Sayang?"
"Ngapain minta maaf? Dah aku keluar dulu."
__ADS_1
"Ya udah, kalau yang lain tanya, bilang aku masih tidur ya?"
Aluna mengangguk lalu dia berdiri dan beranjak keluar kamar. Sedangkan Jiwo melepas kepergian istrinya dengan tersungging senyum di wajahnya. Dia kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Senangnya punya istri banyak dan mereka semua penurut," gumam Jiwo dengan senyum penuh kebahagiaan.
Sementara itu di kota lain, Bejo justru sedang dimarahi habis habisan oleh Hendrik karena keteledorannya. Bejo pikir dia pulang membawa kabar baik, tapi yang dia dapat justru amarah dari sang bos.
Ada beberapa penyebab yang membuat Hendrik murka pada Bejo dan dua anak buah yang lain. Selain karena masalah mobil, Hendrik juga murka karena bisnis yang dia jalani diketahui oleh orang luar yaitu suaminya ketiga belas wanita itu. Hendrik mengetahui berita itu dari pengakuan Bejo saat kejadian di kampung Jiwo.
"Astaga! Kalian ini bener benar bodoh! Harusnya kalian bertindak lebih tegas lagi! Masa lawan satu pria kampung aja kalah!" maki Hendrik dengan amarah yang sangat membuncah. "Terus kalau sudah begini kejadiannya bagaimana? Hah! Apa kalian mau masuk penjara? Hah!"
"Ampun, Bos. Kami benar benar nggak kepikiran sampe situ. Apa lagi banyak warga yang melindungi mereka, Bos. Itu yang membuat kita susah bertindak," balas Bejo memberi alasan.
"Tapi tindakanmu terlalu ceroboh!" bentak Hendrik lantang. Emosinya benar benar sudah sampai di ubun ubun.
"Terus, apa yang harus kita lakukan, Bos?"
"Cari kelemahan pria itu! Kasih dia ancaman yang bikin dia tak berkutik dan mau menyerahkan wanita wanita itu!"
"Sepertinya aku tahu siapa kelemahan pria itu," ucap Bejo dengan sangat yakin.
"Kalau tahu ya cepat bertindak! Kalau perlu pake kekerasan!"
"Siap, Bos!"
...@@@@@@...
__ADS_1