MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Salah, Nggak Mau Ngaku!


__ADS_3

"Ada apa? Mau bikin keributan lagi?"


"Jangan belagu deh, Wo! Kami kesini juga karena terpaksa. Kalau bukan karena Bapak, mana mau kami kesini."


"Kalau terpaksa ya sudah sana balik! Bilang aja sama Bapak kamu! Kamu memilih dipenjara gitu! Gampangkan?" balas Jiwo tak kalah lantang, dan dia langsung melangkah masuk meninggalkan tamunya yang terkejut.


"Eh kurang ajar! Kita datang baik baik malah ditinggalin!" umpat Malik.


"Iya tuh! Dasar nggak sopan!" ucap Darmi ikut memaki. "Lebih baik kita pulang, nanti kamu bilang aja, kita udah minta maaf kalau Bapak kamu tanya!"


Mereka pun memutuskan balik badan dengan perasaan kesal, tapi di saat kaki mereka baru beberapa kali melangkah, mata mereka dikejutkan dengan dengan kedatangan orang yang sangat mereka kenal. Bahkan orang itu menghentikan laju motornya tepat dihadapan mereka.


"Bapak! Mau kemana?" tanya Malik agak gugup. Pak Lurah bukannya menjawab tapi memandang tajam ke arah tiga orang biang masalah yang akhir akhir ini membuat malu dirinya sebagai kepala desa.


"Sudah minta maaf?" bukannya menjawab, Pak Rohim malah melempar pertanyaan yang membuat tiga orang di hadapannnya langsung was was. Dari gerak gerik mereka yang seperti orang bingung jelas sekali kalau mereka belum melakukan perintah dari pemimpin tertinggi di desa itu.


Pak Rohim menghela nafasnya dalam dalam. Sebagai seorang ayah, dia sebenarnya merasa kecewa dengan perbuatan anaknya. Dari tiga bersaudara, memang Maliklah yang selalu menguji kesabaran orang tuanya. Dari tingkah dan pergaulan, Malik memang paling beda. Makanya disaat dua saudaranya sukses sebagai dokter dan dosen, Malik malah harus mengubur mimpinya dan memilih berdagang.


"Pasti belum, kan?" tebak Pak Rohim karena ketiga orang yang ditanya malah diam dengan kompak. "Kalian itu, usia udah tidak muda lagi, udah jelas salah tapi tidak mau ngaku salah, maunya apa sebenarnya?"

__ADS_1


"Siapa yang nggak mau ngaku salah, Pak? Orang kita udah datang tapi malah dicuekin sama pemilik rumah. Ya mending kita balik," ucap Malik dusta, dan sayangnya Pak Rohim tidak percaya begitu saja.


"Bener, Bu Darmi? Apa yang dikatakan oleh Malik?" tanya Pak Rohim dengan tatapan tajam ke arah besannya.


Darmi sontak gelagapan dilempar pertanyaan seperti itu. Dia sebenarnya malu harus berhadapan dengan besannya dalam keadaan seperti ini. Dia juga bingung hendak menjawab pertanyaan dari Pak Rohim. Sedangkan di sebelahnya, Malik seperti memberi kode kalau mertuanya harus mengatakan hal yang sama dengan dirinya.


"Ya sudah kalau nggak bisa jawab, saya lebih baik tanya sama orangnya langsung biar saya tahu, apa yang harus saya lakukan" ucap Pak Rohim terdengar seperi ancaman.


Sontak ketiga manusia yang ada dihadapannya langsung terkejut. Apa lagi Pak Rohim langsung menyalakan mesin motor dan melajukannya ke halaman rumah Jiwo.


"Ah, sial!" umpat Malik. Dia benar benar kesal dengan sikap ayahnya yang seperti tak sedikitpun ada niat buat membela anaknya.


"Ya mau gimana lagi? Kita harus ikut kesana, daripada nasib kita ke depannya semakin nggak baik," jawab Malik pasrah.


"Aku tuh heran sama Bapak kamu, Lik. Kok nggak sedikitpun ngebela anaknya, malah ngebelain anak orang lain," ucap Darmi dengan perasaan yang campur aduk. Malu, heran dan kesal dengan sikap besannya.


"Entahlah, aku sendiri juga kurang tahu, Bu."


Sementara itu disaat yang bersamaan.

__ADS_1


"Eh, Pak Lurah, silakan masuk, Pak," ucap Jiwo sedikit terkejut saat mengetahui siapa yang bertamu ke rumahnya. Tadinya Jiwo ingin istirahat karena merasa lelah setelah pulang dari pantai. Tapi salah satu istrinya memberi tahu kalau ada tamu yang mencarinya, Jiwo dengan malas pun keluar kamar dan menemui tamunya.


Pak Lurah pun masuk dan duduk di kursi yang ada di raung tamu. Sejenak Jiwo masuk ke dalam dan menyuruh istrinya membuat minuman dan menghidangkan getuk yang dia beli buat Pak Lurah.


"Ada angin apa nih, Pak? Saya jadi merasa terhormat didatangi Pak Lurah tiba tiba," ucap Jiwo sambil cengengesan.


"Bisa aja kamu, Wo," balas Pak Lurah sambil tersenyum lebar. "Gimana, Wo, rasanya punya banyak istri? Kayaknya mereka pada akur tuh."


Jiwo sontak tersenyum lebar, "Ya begitulah, Pak Lurah. Mereka memang mudah di atur."


"Wah, hebat kamu, Wo!" puji Pak Lurah, dan senyum Jiwo semakin melebar.


"Maaf ni, Pak Lurah, Bapak kesini memang ada perlu sama saya?"


"Ah iya, hampir lupa!" seru Pak Lurah sambil menepuk keningnya. "Apa anak saya udah kesini dan minta maaf sama kamu, Wo?"


Sejenak Jiwo tertegun, lalu dia tersenyum masam. "Bapak tanya langsung aja sama mereka," ucap Jiwo sambil menunjuk arah pintu yang terbuka, dimana di depan pintu itu berdiri tiga orang yang bermasalah dengan Jiwo.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2