
Lampu sengaja dimatikan. Hanya nyala lilin, yang menerangi mereja berdua malam ini.
"Haruskan begini?" tanya Abi, mulai gelisah dengan kegelapan yang ada.
"Kenapa, ngga suka? Atau, takut?" tanya Nisa, yang menghentikan makan nya.
"Maaf, hanya...."
"Yaudah... Nisa hidupin lagi lampunya, ya?"
Abi hanya mengangguk, dan duduk diam menunggu lampu menyala kembali.
"Maaf," lirih Abi.
"Ngga papa. Nisa aja, yang suka aneh." tawanya renyah.
Makan malam pun berlanjut, hingga keduanya kenyang bersama. Nisa segera memberikan semua obat Abi, dan mengajaknya tidur di kamar mereka.
"Obat ini, ngga mau minum lagi?" tanya Nisa, yang memegang obat penenang Abi.
"Tak perlu minum, jika ada kau."
"Jadi, Nisa bisa menjadi penenang?"
"Tingkah anehmu, yang menjadi pengalihnya."
"Jadi, keterusan deh sampai sekarang..." Nisa kembali tertawa. Rasanya begitu bahagia ketika Abi mengakui dirinya meski sebagai pengalih perhatian.
Ia pun merapikan susunan obat-obatan yang ada dinakas itu. Menyusun sesuai fungsi dan kegunaannya. Bahkan, membuang beberapa yang tak lagi di perlukan.
__ADS_1
"Ya, Aku akan jadi penenangmu. Apapun, dan bagaimanapun caranya." ucap Nisa, begitu antusias.
Ia berjalan menghampiri Abi, merebahkan diri di sampingnya. Ia tampak gelisah, karena hidungnya yang mampet. Dan bahkan masih saja bersin-bersin tanpa kontrol.
Abi sesekali bangun dan mengusap minyak kayu putih di punggung dan dada Nisa, untuk melegakan pernafasannya. Cukup meringankan, beban hidung Nisa. Ya, meski bekerja dengan bibir terus meracau.
"Udah, jangan ngomel aja. Nisa tularin, nanti..."
"Kau mengancamku?"
"Iya, kesel. Udah tahu sakit, masih diomelin."
"Sakit kau cari sendiri,"
"Berhenti menggerutu!" Nisa menepis tangan Abi dari punggungnya, dan langsung menutup baju tidurnya kembali.
"Biarin. Biar penasaran, sama isinya gimana." Nisa menjulurkan lidah, lalu kembali berbaring membelakangi Abi.
Pria itu hanya diam, lalu berusaha memejamkan matanya untuk tidur. Berusaha menenangkan dirinya sendiri, meski begitu sulit.
*
Disebuah taman yang indah. Rumput begitu hijau dan segar dipandang. Abi tidur di pangkuan Rere, dengan mengusap wajahnya yang putih mulus itu. Mancung, dan matanya sipit. Gadis itu memejamkan matanya menikmati semua udara segar yang ada.
"Aku akan melamarmu," ucap Abi.
"Apa kau siap? Katamu, ingin memajukan perusahaan dulu. Aku masih siap menunggu." jawab Rere.
"Kita sudah begitu lama bersama. Aku hanya tak ingin kau bosan menunggu. Apalagi, begitu banyak pria yang mau denganmu.."
__ADS_1
"Cemburu?" goda Rere, mencolek hidung Abi dengan jari jemarinya yang lentik. "Kau memutar balikkan fakta, Bi. Harusnya aku yang cemburuan."
"Kenapa? Aku tak pernah selingkuh. Aku setia."
"Ya, kau sangat setia. Jika tidak, mana mungkin bertahan begitu lama."
"Lalu?"
"Kau terlalu ramah, Bi. Begitu dengan semua orang. Bahkan, ramahmu sering di salah artikan oleh perempuan lain."
"Ah, hanya perasaanmu saja."
"Bagaimana? Dita mengatakannya. Dia kewalahan, dengan semua wanita yang selalu berusaha cari perhatian padamu..." Rere membungkukkan tubunya, dan mengecup kening Abi dengan begitu hangat.
"Kau, tak cemburu dengan Dita?"
"Untuk apa? Meski dia yang selalu ada disampingmu, tapi dia yang menjagamu untukku." jawab Rere.
Abi mendongakkan kepalanya. Ia meraih bibir Rere yang begitu indah, dan memainkan jarinya disana. Ia hanya mendapat balasan senyuman manis.
*
Air mata Abi mengalir, meski matanya terpejam. Ia terisak, membangunkan Nisa yang pulas disampingnya.
"Loh, Mas?" Nisa bangun, dan berusaha untuk menyadarkan Abi dari mimpinya.
"Mas, bangun, Mas." Nisa menggoyangkan tubuh Abi. Namun, Abi tak kunjung membuka mata.
Tak ingin Abi larut dalam mimpinya. Ia meraih wajah Abi, dan memiringkan kepalanya. Bibirnya mengecup bibir Abi. Dan benar saja, pria itu langsung membulatkan matanya.
__ADS_1