
"Mas Abi! Balik badan!" pekik Nisa.
"Terlanjur!"
"Balik badan!!!" teriaknya semakin lantang.
Abi refleks mengikuti perintah itu, meski baru kali ini Ia menuruti wanita dan bukan Ibunya. Ia membelakangi Nisa, dan Nisa segera meraih handuk dan menutupinya kembali.
"Itu, mereka ngapain sih? Kok teriak-teriak begitu?" heran Mama Sofi, yang tengah memasak untuk makan malam mereka.
"Jangan balik badan... Stop!"
"Iya," pasrah Abi. Nisa segera memakai dressnya dengan rapi hingga semuanya selesai.
"Udah...." ucap Nisa. Abi pun berbalik, dan memberikan wajah datar nya seperti biasa. Namun, mana tahu dengan isi hati dan fikirannya saat ini.
"Aku sudah terlanjur melihatnya, kenapa kau tutupi? Bukankah, harusnya kau senang?"
"Loh, kenapa Nisa yang seneng?" tukas Nisa.
"Katamu, ingin menjadi istri yang baik?"
"Menjadi istri yang baik, untuk suami yang bagaimana? Yang bahkan belum mau menyentuh istrinya?" tantang Nisa, dengan membusungkan dada.
__ADS_1
Abi sedikit mundur, lalu meraih handuk yang Nisa kalungkan di lehernya.
"A-aku, mandi. Kau, tunggu diluar." gugupnya, lalu berjalan cepat menutup pintu kamar mandinya dengan kuat.
"Astaga... Kenapa wanita itu? Apa tak ada takutnya sedikitpun padaku?" gumam Abi, mengelus dada.
Nisa pun merias wajahnya sedikit. Alakadarnya, karena Abi bilang akan menjenguk temannya yang sakit. Toh, ketika Nisa dipuji, nama Abi pun akan melambung tinggi dengan segala pujian untuknya. Ia pun turun setelah selesai, tak ada niat sama sekali untuk membalas kelakuan Abi padanya.
"Hay, Ma." sapa nya pada sang mertua di dapurnya.
"Nisa mau kemana?"
"Mas Abi, ajak jenguk temennya." jawab Nisa, dengan segelas air di tangannya.
"Lah, kenapa dimasukin?" tanya Bik Nik
"Biar, Nisa sama Abi ngga pulang cepet buat makan malam." jawab Mama Sofi.
"Kenapa?"
"Biar mereka, pulangnya langsung dinner di restaurant."
"Lah, kita?" tanya Bibik lagi, agak bengong.
__ADS_1
"Aman, delivery aja. Bila perlu, Nisa sama Abi jangan pulang."
"Lah, kok gitu?" tanya Nisa yang meletakkan gelas tandasnya.
"Chek in aja sekalian, ke hotel." jawab Mama sofi, dengan nada yang begitu manis dan lembut.
"Hah?" sekarang giliran Nisa yang bengong. Untung saja, Abi segera datang menyalamatkan Ia dari cecaran ambisi sang mertua..
"Massss!" Nisa langsung berlari dan menggandeng tangan Abi.
"Loh, kenapa?" tatap Abi heran. Tapi, langsung faham ketika Ia menatap kearah Mama nya dengan segala tatapan antagonisnya disana.
"Bilang apa lagi?" tanya Abi, menggulung lengan kemeja panjangnya.
"Ngga papa. Ayo, cepet berangkat. Nanti keburu malem. Kalau engga..."
"Kalau engga, kenapa?"
"Kalau engga, Mama suruh kita nginep di hotel." lapornya.
"Astaga.... Yaudah, ayo pergi." ajak Abi keluar, menuju mobil yang terparkir di garasi.
Seepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Nisa masih terbayang kejadian tadi, dan begitu malu ketika mengingatnya. Sedangkan Abi, kembali pada mode fokusnya menatap jalanan lurus ke depan. Tanpa menoleh kemanapun meski ada Nisa di sampingnya.
__ADS_1
Mereka pun tiba. Turun di halaman sebuah rumah minimalis, yang begitu rapi dan bersih. Tampak sebuah mobil putih terparkir di garasi samping rumah itu. Nisa faham itu milik siapa, dan hanya bisa mendenguskan nafas kesal.