
Isaknya membangunkan Nisa. Ia menoleh langsung pada Abi yang tengah mengusap air matanya, lalu duduk menghampiri.
"Hey, kenapa? Mimpi lagi? Rere?" tanya nya, dengan begitu lembut. Meraih bahu Abi dan mengusapnya.
"Maaf, dia hadir lagi. Bahkan, terasa begitu nyata. Senyumnya, tawanya. Aku tak pernah bisa menghindar."
Nisa meraih kepala Abi, menariknya dalam dekapan hangat. Abi pun bersandar, dengan beberapa kali menghela nafasnya. Begitu berat, dan masih saja terbayang barusan.
"Udah, ngga usah sedih. Tandanya, Rere cuma mau menyapa. Bukan mimpi buruk kan?" tanya Nisa, dan Abi menggelengkan kepalanya. Dan memang baru tersadar, jika Rere sudah jarang menghampirinya dan membuatnya takut, belakangan ini.
"Kita ngga bisa mencegah, kapan mimpi itu mau datang. Bagaimana, dan tentang apa. Asal bukan mimpi buruk, itu tak apa. Doakan saja, Rere dalam keadaan bahagia seperti itu." usap Nisa di rambut hitam suaminya. Sesekali, menyibak kan poni dan mengecup dahi itu dengan hangat.
" Kau, tak meminta ku melupakannya?" tanya Abi, masih dengan nafas yang belum stabil.
" Rere, tidak untuk dilupakan. Jika ngga ada Rere di masa lalu, ngga akan ada Nisa saat ini, bersama Mas. Ngga, jangan dilupakan."
"Tapi, trauma itu masih saja menghantui. Sesak, sakit, dan perih. Bayangan yang selalu datang, menakutkan."
Nisa mengangkat wajah Abi. Membawanya untuk saling tatap dengan intens, dan saling beradu pandang saat ini.
__ADS_1
"Kita sembuhkan sama-sama?"
"Bagaimana caranya? Semua sudah ku coba, tapi...."
"Caranya adalah, mengikhlaskan semuanya. Bukan melupakan, tapi berdamai dengan keadaan. Berdamailah dengan diri sendiri, bahwa tak ada yang perlu di salahkan dalam hal ini. Bukan Mas, bukan siapapun."
"Lalu?" tanya Abi, yang sedikit menunduk kan tatapan nya.
"Sekarang tidur dulu, Nisa ngantuk. Besok kita fikir lagi caranya, yuk..." ajak Nisa, yang kembali merebahkan diri dan menaik kan selimutnya. Abi pun ikut masuk ke dalam selimut itu, dan menyandarkan kepalanya di tengkuk Nisa dengan nyaman.
Nisa tersenyum, lalu mengusap wajahnya agar kembali memejamkan mata.
Paginya, Nisa telah mempersiapkan segala keperluan Abi untuk pergi. Namun, bukan seragamnya ke kantor, melainkan sebuah koko hitam lengkap dengan peci nya. Ia pun menatap Nisa yang keluar dari kamar mandi, memilih sebuah baju berlengan panjang dan selendang hitamnya.
"Nisa?" panggil Abi, sedikit bingung.
"Ya, Mas?" Nisa menghampiri.
"Mau kemana?" tanya Abi, datar.
__ADS_1
"Ehmmmm, boleh ngga? Tapi jangan marah."
"Ya?"
"Ke makam Rere, yuk?" pinta Nisa dengan lembut, menelusupnya tangan ke pinggang Abi yang hanya terbungkus handuk.
Abi hanya diam. Menatap hampa pada Nisa, tak menjawab sepatah katapun dari nya.
"Mas? Ngga boleh, ya?"
"Kau berhak. Ya, kau berhak tahu, karena kau istriku." jawab Abi. Ia hanya diam sementara waktu.
Nisa mengulurkan senyumnya. Dengan semangat, segera membantu Abi dengan pakaiannya. Tampak semakin tampan, dengan aura yang paripurna menggertarkan jiwa. Ia segera berlari dan mengurus dirinya sendiri. Hingga kemudian membawa Abi ke bawah untuk sarapan dan meminta izin Mama Sofi.
"Kalian serius?" kaget sang Mama, tampak begitu tegang. "Abi?" toleh nya pada sang putra.
"Nisa serius, Ma. Nisa pengen kesana," bujuknya pada sang Mama.
"Mama bukan mau melarang. Tapi... Mama hanya takut, ketika Abi kembali terngiang. Okey, Mama yakin karena ada Nisa. Tapi... Itu tempat umum, sayang."
__ADS_1
"Mama takut, jika ada yang melihat?" tanya Nisa. Dibalas anggukan lemah Mama padanya. Apalagi, wajah Abi sudah tampak tegang saat ini.