Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Bagiku sederhana, bagimu mewah


__ADS_3

Braak! Abi menutup pintu kamar nya dengan kuat. Ia langsung berbaring diatas ranjang,  nafasnya naik turun dan menutup kepalanya dengan bantal.


"Aku tak perlu menerka-nerka itu tadi pemandangan apa. Tapi... Kenapa aneh sekali rasanya? Padahal, aku beberapa kali melihat itu ketika Alex mengajakku ke Bar." gerutunya.


"Astaga, Nisa! Bego banget sih? Kenapa pintu ngga dikunci? Kebiasaan deh. Nanti kalau dia bayangin macem-macem, gimana?" gerutu Nisa di dalam kamar.


Rasa malu tiada terkira, apalagi mengingat ekspresi yang diberikan Abi untuk nya barusan. Ketika Abi bahkan sempat menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan berhenti di sebuah titik lalu menatapnya dengan tajam. Nisa bergidik geli, sembari menggigit bibir bawahnya.


"Au ah. Bentar lagi nikah, juga bakal di lihat semuanya. Aaaaaaahhhh," racaunya di kamar, semakin memikirkan yang aneh-aneh di kepalanya.


Nisa segera mengganti pakaiannya. Ia pun segera turun kebawah setelah siap, menghampiri semuanya untuk makan malam bersama pertama kalinya Ia disana. Namun, tepat ketika Ia keluar, Abi pun baru saja keluar dari kamarnya. Mereka pun terkejut bersamaan.


"Mas Abi?" sapa nya, canggung.


"Ya," jawab Abi, tampak gugup terus menunduk kan kepalanya. Tapi, berusaha tetap elegan dan berwibawa di depan Nisa. Ia pun melangkahkan kakinya, mendahului Nisa untuk turun ke bawah.


"Hey, Ma." sapa nya, pada Sang Mama di meja makan.


"Hey sayang, istirahatnya nyaman?"

__ADS_1


"Ya, lumayan," jawab Abi dan langsung duduk di kursi depan sang Mama. Menyusul Nisa, dengan langkah cerianya duduk di sebelah Abi. Mama Sofi, yang memintanya.


"Gimana, Nisa? Betah disini?" Mama Nisa mengambilkan nasi untuk nya dan Abi.


"Insyaallah, betah, Ma." jawabnya gugup.


"Belum bisa di lihat, Ma. Nisa baru beberapa jam disini. Belum tahu, akan bertah atau tidak." sela Abi, di balas anggukan Nisa.


"Santai, nanti juga terbiasa. Apalagi, kalian akan tidur sekamar, se ranjang pula," ucap Mama Sofi, sontak membuat Nisa tersedak oleh air yang tengah Ia minum. Batuk, hingga air matanya keluar dengan rasa perih di tenggorokan nya.


"Abi! Bantuin, Nisa nya." omel Sang Mama, ketika Abi justru diam tanpa respon.


"Terimakasih," ucap Nisa, meminumnya perlahan.


Abi pun dengan rasa begitu malas, menepuk-nepuk punggung dan sesekali naik ke bahu Nisa. Berusaha menghilangkan batuk yang Ia derita.


"Udah," Nisa menepis tangan Abi dari bahunya.


Makan malam kembali hening. Mama Sofi pun terlebih dulu menghabiskan makan malam nya. Abu tahu, jika Sang Mama akan kembali membahas pernikahan, dan Abi segera memotong pembicaraan itu.

__ADS_1


"Ma, Nisa belum punya pakaian ganti," ucapnya.


"Loh, ngga bawa baju?" tatap Mama Sofi, dan Nisa hanya menggelengkan kepalanya.


"Mas Abi, ngga bolehin bawa baju. Katanya, baju Nisa jelek." jawabnya.


"Hey, kapan aku bilang begitu?"


"Ngga bilang langsung, tapi intinya itu," timpal Nisa, dengan mata melototnya. Abi seketika diam dan mengembalikan pandangan ke arah piringnya.


"Pakaian Nisa semuanya jadul. Abi tak enak, ketika nanti harus membawanya pergi bersama." jawab Abi, menegaskan maksud ucapannya.


"Oh, begitu? Baiklah, besok Mama belikan. Sekalian, Mama mau pergi untuk janjian dengan WO kalian." Mama Sofi usai dengan makan malamnya. Ia pun pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan yang sepi itu.


"Selesaikan makan, lalu istirahat. Besok kita ke butik. Dita telah memilihkan gaun untuk kita berdua.


"pernikahannya,sedarhana aja kan? Ngga banyak undangan dan tamu?" tanya Nisa, sedikit cemas.


"Kita berbeda. Yang ku bilang sederhana, bisa jadi mewah buatmu."

__ADS_1


"Iya, tahu. Dasar, orang kaya. Seenaknya saja, mentang aku orang miskin." cibirnya dalam hati. Namun, Abi diam saja, terus dengan wajah datar dan tenangnya.


__ADS_2