Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Eeeerrrrghhh! Pamer!


__ADS_3

"Nisa mau main,"


"Main kemana? Seperti anak kecil."


"Iya, gadis kecilnya Om ganteng..." Nisa tak hentinya menggoda sang suami kali ini. Tak apa, demi Abi. Meski Ia sendiri belum faham maksud dan tujuan sebenarnya.


Genggaman tangan itu begitu hangat, di menelusup di sela-sela jari Abi yang kuat. Berjalan keluar dari Rumah sakit besar itu.


" Nenek, bagaimana?" tanya Abi. Untung saja, Adhim baru saja memberi kabar terbaru, hingga Nisa bisa menjawabnya dengan baik.


"Masih seperti itu. Kadang naik, kadang turun. Andai donor ginjal bisa mengobati semuanya. Nisa akan donorin ginjal Nisa, Satu. Tapi ngga cocok."


"Kau, pernah periksa?"


"Ya, dulu pernah periksa. Katanya ngga cocok, dan harus cari alternatif lain. Tapi, ya gitu deh..."


"Biaya?" tanya Abi.


"Apalagi, yang dihadapi orang miskin seperti kami. Yang bahkan sulit, hanya untuk ingin mempertahankan hak kami."


Jawaban itu, seketika membuat Abi diam. Jawaban yang terdengar seperti sebuah permohonan ditelinganya. Atau bahkan, sebuah sindiran lembut yang secara spontan keluar dari bibir mungil itu.


"Aku yang menyetir," rebut Abi pada kunci di tangan Nisa.


"Emang udah bisa?"

__ADS_1


"Bisa... Asal kau duduk dengan tenang di tempatmu."


"Ya, baiklah,," jawab Nisa. Bahkan Abi tak lupa, membukakan pintu untuknya dan menghadangi kepalanya dengan telapak tangan, ketika masuk ke dalam mobil..


"Makasih, Suamiku," ucap Nisa. Abi hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


"Ya," jawab Abi. Entah, masih saja begitu sulit mencairkan es batu di dalam hatinya.


Mobil pun berjalan. Abi menggunakan telapak tangan untuk menggerakkan tuas giginya. Nisa diam, justru membuat Abi penasaran karena biasanya selalu ramai.


"Kau kenapa?"


"Ehmmm, boleh Nisa tanya?"


"Mengenai.... Ehm, anu..."


"Apa?" tatapan Abi fokus kedepan.


"Rere, Mas. Boleh?" Nisa menoleh pada Abi, memperhatikan reaksi yang diberikan oleh wajahnya kala itu. Tampak tegang. Tapi, Ia berusaha agar tetap tenang.


"Mas?" Nisa berusaha membuyarkan lamunan itu. "Ngga boleh, ya? Yaudah, kalau ngga boleh. Ngga papa, Kok. Nisa, ngerti."


"Maaf," lirih Abi, dengan terus fokus menatap kedepan.


Nisa hanya mengangguk kan kepalanya, lalu bersandar di bahu seluas samudera itu. Begitu nyaman, dan terasa hangat. Ia pun tak hentinya, memainkan jari jemari sang suami yang ada dalam gengamannya itu.

__ADS_1


Abi kembali membawanya ke kantor. Dita yang kebetulan ada diluar, terkejut ketika Abi membawa mobilnya sendiri. Menghampiri dengan senyum ramahnya, namun seketika pudar ketika Nisa keluar sendiri dari pintu yang lain.


"Kaget ya? Salah sendiri, Mas Abinya ditahan disana. Keluar sendiri, kan?"


Dita menatapnya kesal.


"Kau sehat? Kapan verban mu dibuka?" tanya nya, kembali pada Abi.


"Baru saja. Makanya aku telat. Masuklah, bacakan jadwal hari ini." pinta Abi. Ia pun mengulurkan tangan, dan Nisa segera menghampiri dan menggenggamnya.


Keduanya berjalan duluan. Entah kenapa, Dita justru diam disana. Sesekali membalik badan, melihat Nisa mengangkat tangannya yang menggenggam kuat tangan Abi.


" Eeerrrrrghhh! Pamer!" kesalnya. Menghentakkan kaki, dan segera menyusul mereka untuk masuk ke dalam.


Nisa duduk di tempatnya singgasana yang memang telah di persiapkan Abi untuknya. Yang bahkan, Alex pun tak di perbolehkan menempati kursi itu dari Nisa.


"Hari ini ada pertemuan. Tapi, Tuan Rifat itu introvert. Dia, tak suka dengan keramaian." jelas Dita. Dan sebenarnya, Abi faham akan hal itu. Ia pun segera melirik Nisa, yang sibuk dengan Hpnya sejak tadi.


"Hah, kenapa?" tanya Nisa, bingung.


"Kau tak boleh ikut kali ini," jelas Dita, judes.


"Ya... Ya gimana kalau ngga boleh ikut? Kan tadinya Nisa emang ngga mau ikut. Tapi, Mas nya maksa. Jadi ikut." jawabnya, begitu santai membuat ujung bibir Dita bergerak berkedutan.


#Assalamualaikum, gais. Berhubung ada beberapa laporan, kesalahan otor mengenai bab berulang atau doble. Otor minta tolong, kalau nemu yang begitu, langsung lapor yak🙏 biar bisa cepet otor perbaiki. Makasih😘😘

__ADS_1


__ADS_2