Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Semoga anak kecil, belajar dewasa.


__ADS_3

Jadwal pertemuan telah tiba. Nisa segera membenahi segala keperluan Abi, sebelum keluar dari ruangan itu.


"Apa aja?"


"Semua ada pada Dita," jawab Abi. Santai dengan air putih beroksigen yang sering Ia minum. Bahkan, Ia stok untuk setiap hari.


"Yaudah,, ayok..." ajak Nisa, memakaikan jas untuk suaminya. Abi yang selalu spontan, menggandeng tangan Nisa dan berjalan bersama meski harus fokus dengan tangan kiri yang masih tertopang gipsnya. Berbagi tugas, hanya untuk membuka pintu ruangan.


"Siap?" tanya Dita, yang kebetulan keluar bersamaan.


"Siap... Ayo," ajak Abi. Dita pun mengukuti nya dari belakang.


Para karyawan kembali saling tatap. Disalah satu sisi, kagum dengan Abi, yang selalu membawa Nisa dalam genggaman tangannya. Meski, berita diluar sana mengabarkan jika Nisa lah penyebab luka nya Abi.


"Katanya ngambek, ngga bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sana."


"Apalagi, ketika Pak Abi dipaksa dansa dengan Bu Dita."


"Pasti kesel lah. Pak Abinya juga, bego. Udah tahu bawa istri, mau aja disuruh dansa sama cewek lain."

__ADS_1


"Kan Mba Nisa yang izinin."


"Ah, sama aja. Ngga peka, dasar..." kesal beberapa diantara mereka. Sedangkan Feby, hanya diam mendengarkan semua gibah itu di pojok mejanya. Entah apa yang Ia lakukan.


"Nisa yang nyetir?" tanya Nisa pada Abi.


"Kau dibelakang. Aku dan Dita di depan. Dita yang menyetir. Tak apa?" balas Abi.


"Iya, ngga papa. Lagian, banyak yang harus dibicarakan," jawab Nisa.


"Baiklah, pintar..." ucap Abi, mengusap rambut Nisa dengan senyum tipisnya. Ya, senyum yang masih sangat langka dan membuat si penerimanya berdebar dengan kuat.


Dita memperhatikan nya dari belakang. Segala spontanitas dari Abi untuk Nisa, menunjukkan bahwa memang Abi begitu membutuhkan gadis itu. Ia pun segera menyusul, meraih kunci mobil dari Abi dan duduk di posisi yang seharusnya.


"Pak Rafael juga ada disana."


"Rapat bersama kita?"


"Ya... Beliau distributor untuk bahan bangunan yang akan kita pakai untuk pembangunan proyek."

__ADS_1


"Siapa, Mas?" tanya Nisa, dari belakang..


"Tuan, yang kita datangi pesta nya kemarin." jawab Abi. Meski tak menoleh karena tengah memeriksa kembali laporan dari rencana yang diajukan.


"Ooh," angguk Nisa, meski Ia sebenarnya tak terlalu faham. Tapi, setidaknya Ia akan tahu ketika diajak bicara nanti.


Ketiganya telah tiba. Abi keluar dan membuka pintu untuk istrinya. Meski dingin, tapi Ia memperlakukan Nisa dengan cukup baik. Dita mengakuinya.


Dan tangan itu, seolah tak pernah mau melepaskan genggaman nya dari wanita itu. Seperti itu, hingga masuk dan bertemu dengan semua rekan bisnisnya disana.


"Tuan Rafael, kita bertemu lagi..." sapa Abi dengan ramah. Menjabat tangannya setelah melepaskan Nisa sebentar dari genggamannya.


"Bagaimana tangan Anda, Pak Abi? Apakah parah?" tanya Tuan Rafa, mengetahui kejadian malam itu rupanya.


"Tak apa. Hanya, sebentar lagi mungkin sembuh. Namun seperti ini," Abi menunjukkan telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam itu. "Harus dijaga agar tak tersenggol sama sekali. Begitu nyeri," imbuhnya.


"Ya, saya juga minta maaf. Saya sebagai pemilik acara, tak dapat mengontrol tindakan mereka semua." sesal Tuan Rafa, selaku pemilik acara malam itu.


"Tak apa. Karena kejadian itu, semoga akan ada anak kecil yang belajar dewasa." ucap Abi. Tatapannya sedikit menoleh pada Nisa, yang duduk dengan begitu tenang disebelahnya. Merasa dibicarakan, Ia pun menundukkan kepala dengan wajah yang merah padam.

__ADS_1


__ADS_2