Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Lebih seram dari hantu


__ADS_3

Abi tengah duduk di kursinya, dengan kedua tangan silangkan ke dadanya. Menatap Nisa yang mengelus dadanya yang bergemuruh.


"Iya, Hantu. Bahkan lebih serem dari hantu." jawab Nisa.


Abi hanya menoleh ke kanan dan kiri. Entah apa yang Ia cari, atau Ia memang percaya adanya hantu yang Nisa lihat barusan. Lalu diam seperti biasanya. Nisa hanya kembali memasak dan menggerutui tingkah suaminya itu.


"Laper juga ngga?" tanya Nisa.


"Aku juga belum makan. Kenapa kau tanya?"


Nisa menggigiti bibirnya. Rasanya ingin melempar solet yang Ia pegang saat itu. Andai Ia tak sadar, jika pria itu adalah suaminya.


"Nih," Nisa meletakkan sebuah piring berisi penuh makan malam untuk keduanya.


"Kepenuhan," Abi menatap piring miliknya, dan menyingkirkannya ke samping.


"Makan... Sehabisnya aja. Nisa ngga tahu, seberapa porsi makan malam Mas Abi. Ini aja cuma kita bagi Dua, karena memang tersisa ini." tarik Nisa pada makanan yang Abi singkirkan.


"Kau tak makan, ikan itu? Tak alergi 'kan?" tatapnya, pada piring Nisa yang hanya terisi beberapa sayuran disana.


"Buat Mas Abi aja. Ikan Nisa, udah Nisa kasih kucing tadi. Kasihan, kelaperan."


Abi menoleh kesana kemari, bahkan mencari hingga ke kolong mejanya. Ia tak menemukan apapun disana.


"Tak ada kucing."

__ADS_1


"Tadi... Udah, ih. Makan, hayuk. Udah tengah malam, juga. Ngantuk nih," omel Nisa. Perutnya sudah sangat keroncongan, tapi Abi masih saja mengajaknya bicara.


Abi justru meraih makanan Nisa, meski Nisa sudah ingin melahapnya.


"Lah?" Nisa kebali melotot padanya.


"Kau yang ini...." Abi memberikan makanannya.


"Itu, kalau buat Nisa kebanyakan..."


"Tak usah berdebat. Malam semakin larut,"


"Iiish!" Nisa mencebik, sembari terus melahap makanannya hingga tandas. Habis, karena memang Neneknya mengajarkan agar tak pernah menyisakan makanan di piringnya. Meski Ia begitu begah karena kekenyangan, dan menyandarkan kepalanya di bahu kursi.


"Disana aja. Biar Nisa cuci, nanti." ucap Nisa dari tempatnya. Namun, Abi hanya diam dan justru menucinya sendiri. Nisa hanya melihat dan mengedikkan bahunya, mengelus perut yang membuncit kekenyangan.


"Mau disini, atau kembali ke kamar?" tanya Abi yang selesai dengan tugasnya.


"Ya... Ya, kekamarlah. Ngapain disini sendirian?" jawab Nisa, berdiri dan langsung mengejar Abi naik ke kamar mereka.


*


"Bik?"


"Ya, nyah?"

__ADS_1


"Mereke semalem bangun? Makan?"


"Ya, mungkin. Makanan yang Bibik sisain abis. Terus, piringnya bersih udah disusun rapi." jawab Bik Nik, yang tengah menggiling pakaian di mesin cuci.


Mama Sofi hanya tersenyum dengan gemas. Entah apa lagi yang Ia fikirkan kali ini. Setidaknya mendapati kedua anaknya itu tengah sama-sama menyesuaikan diri. Ia pun melanjutkan kegiatannya sendiri sembari menunggu keduanya turun dari atas.


*


"Nisa, kenapa lama? Ini sudah siang."


"Iya, sebentar. Tanggung, dikit lagi."


Abi hanya melirik heran, dengan apa yang tengah di lakukan istrinya di dalam sana.


"Aaaakkkh, sakit!" pekik Nisa dari dalam sana. Abi mendelik, lalu spontan membuka pintu kamar mandi yang memang tak terkunci. Berlari menuju Nisa yang ada di dalam.


"Kamu kenapa?" tanya Abi.


"Ngga papa, cuma perih aja kena shampo. Nyari shower belum ketemu."


"Aku kira kenapa?"


"Iya, ngga papa. Tapi....." seketika Nisa tersadar, bahwa Abi telah masuk ke kamar mandi.


"Aaaaarrrrrrrrgggh! Mas Abi kenapa masuk sampai kesini?" tatap Nisa, pada Abi yang ada di hadapannya. Hanya berjarak dinding kaca yang sedikit buram.

__ADS_1


__ADS_2