
"Akhhhh!" Nisa tersentak seketika, di beberapa suapan makanannya. Dadanya terasa panas dan sesak, membuat nafasnya begitu sulit. Ia segera meraih air putih yang memang Ia sediakan, meminumnya dengan cepat dan langsung habis seketika. Tapi, tak mengurangi apapun yang Ia rasakan saat ini.
"Aaaaahh, sesaak!" nafas nya semakin naik turun, dan bahkan Ia terjatuh karena tenaganya seketika hilang akibat makanan itu. Gejala itu, ada efek ketika Nisa memakan daging sapi. Makanan yang selama ini benar-benar Ia hindari.
Nisa berusaha tegak, meraih Hp yang Ia taruh diatas meja makan. Untung dapat Ia raih, tanpa harus menjatuhkan apapun dari mejanya. Ia segera menghubungi siapa saja yang paling cepat dan bisa Ia hubungi. Meski itu Dita, dengan sekali ketuk.
"Ya, Nisa?"
"Bu Dita, tolong!" pinta Nisa, dengan nafas yang begitu lemah.
Dita tak banyak menjawab. Ia langsung memutar kembali laju jalan nya, dan menghampiri Nisa dirumahnya.
"Nisa!" pekik Dita, yang melihat Nisa terkapar pingsan di dekat meja makan. Ia segera menghampiri dan menolongnya disana.
"Kamu kenapa?"
"Sesak, alergi makanan itu..." tunjuk Nisa, dengan nafas yang tersengal.
"Hey, bangunlah. Aku tak bisa menggendongmu ke Rumah sakit," Dita menepuk pipi Nisa, yang tanpa sadar juga sedikit membengkak karena alerginya.
Dita berusaha sekuat tenaga, meraih tangan Nisa dan ingin memapahnya. Tapi di saat yang bersamaan, Abi dan Alex datang. Mereka masuk ke rumah dan menyaksikan keadaan itu.
__ADS_1
"Nisa!" pekik Abi, langsung berlari dan meraih tubuh sang istri. Ia menggendongnya, dan menatap tajam pada Dita yang tepat berdiri di sampingnya.
"Bawa dia, sebelum kau menghakimiku."
"Kau ikut denganku," sinis Abi padanya.
Dita hanya mendengkus kesal mendengarnya, dan langsung ikut di belakang Abi. Namun, tangan nya ditarik Alex ketika Ia menghampiri mobilnya sendiri.
"Ada apa? Alex!" sergah nya, menepis tangan pria itu dengan segala kesal dalam hatinya.
"Kau ikut kami."
"Karena...."
"ALEEX!" panggil Abi dari mobilnya.
Kedua orang itu segera lari dan masuk bersama dalam mobil Abi. Alex menyetir, dan Dita ada di sebelahnya.
Selama perjalanan, mereka hanya diam satu sama lain. Abi hanya fokus pada istrinya, dan berusaha agar Nisa membuka matanya meski sebentar. Ia bahkan menangis, ketika istrinya terkapar lemas dan tak berdaya seperti itu.
"Hey, bangunlah sayang... Kau kenapa? Apa yang salah denganmu? Bangunlah, buka matamu dan katakan jika kau baik-baik saja." bujuk Abi padanya.
__ADS_1
Segala ketakutan, tampak di wajah dan mata Abi. Bagaimana tidak? Ia mendapati yang tersayang dalam keadaan seperti ini, dan begitu menakutkan baginya.
"Dia... Alergi." jawab dita dari depan.
"Alergi apa?" Alex menoleh, tapi berusaha tetap fokus pada jalanan. Dita hanya diam disana, menahan hati dan perasaannya. Ia tak ingin memancing amarah, hanya ingin fokus pada Nisa yang harus segera mendapatkan pertolongan.
Mereka tiba di Rumah sakit. Alex membantu Abi membuka pintu mobil, dan Abi segera berlari masuk ke dalam. Para perawat pun segera mengambil tindakan, setidaknya untuk menormalkan penafasannya. Selang oksigen pun dipasang, dan tampak Nisa sedikit menghela nafas panjang dan lega.
Alex menutup pintu, menatap Dita yang masih diam di kursinya. Ia lantas membuka pintu itu dengan kasar, menatap Dita dengan seringai tajamnya.
"Keluar," ucapnya pada Dita. Gadis itu menurutinya, dan segera keluar dengan begitu santai dan perlahan.
"Kau tak merasa bersalah?"
"Untuk apa?"
"Kau...."
"Bukan aku, Lex. Kenapa tatapan itu menjurus padaku. Apa, karena aku ada disana saat itu?"
"Aku hanya melihat apa yang terjadi, Dita." balas Alex, tampak lemah diantara prasangka dan kenyataan.
__ADS_1