Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Mengejar Pak Alex


__ADS_3

"Pak Alex, udah pergi lagi?" tanya Nisa, menahan segala rasa gugupnya. Dan masih gugup, meski sudah melewati beberapa minggu pernikahan.


"Entah... Dia belum memberikan kabarnya pagi ini. Kenapa?"


"Ngga papa." geleng Nisa. Padahal, berharap agar Alex masih berada di Rumah sakit, dan bisa menemuinya kali ini. Ia sangat ingin bicara berdua.


"Sudah," ucap Abi, yang baru saja menyisir rambut Nisa hingga rapi. Semakin hari, perlakuan memang terasa lembut. Terkadang, Nisa berfikir aneh akan perlakuan yang suaminya berikan. Terbesit pertanyaan, apakah Nisa, atau Rere yang ada dalam bayangannya.


"Tapi, Dia sama sekali tak pernah salah menyebut nama..." Nisa hanya menjaga prasangkanya.


Abi mengajaknya turun, dan Nisa segera menyandang tasnya dan menggandeng tangan Abi. Turun kebawah menghampiri sang Mama di meja makan.


"Nisa, kok ikut lagi? Udah sembuh?"


"Udah, Ma. Hari ini mau ajak Mas Abi kontrol tangannya. Sepertinya, udah bisa dibuka."


"Wah, bagus kalau begitu. Semoga sesuai rencana," harap sang Mama, sembari melayani kedua anaknya itu.


~~


Mobil seger Nisa kendarai. Tepat menuju Rumah sakit, yang juga tempat Neneknya di rawat. Abi menggandeng tangan istrinya masuk, tak membiarkan nya pergi selangkahpun darinya..


"Ke tempat Nenek, sebentar."

__ADS_1


"Tidak... Temani aku,"


"Ngga lama," rengek Nisa, kembali terhenti dengan tatapan Abi padanya.


"Iya, ngga jadi." ucapnya, meski harus menahan segala rasa penasaran yang ada. Bukan tentang Nenek, tapi tentang Alex.


Abi masuk ke ruangan dokternya. Dokter spesialis ortopedy, dan kini sedang memeriksa keadaan tulangnya. Begitu teliti, memperhatikan bekas cidera Abi. Apalagi, dengan hasil rontgent kemarin.


"Ini sudah bagus. Bisa dibuka" ucap sang Dokter, membuat nafas lege berhembus di mulut Nisa. Lega, karena akhirnya Abi bisa menyetir mobil sendiri lagi. Dan Ia, tak harus ikut kemanapun suaminya pergi.


"Persiapkan alatnya," pinta sang dokter, pada perawatnya. Dan segera di laksanakan.


Abi duduk di brankarnya, memberikan tangan kirinya untuk segera diberi tindakan. Ia meraih tangan Nisa, dan menyembunyikan wajah dalam pelukannya.


"Hanya, takut dengan luka."


"Hey, itu kan ngga luka. Jadi ngga papa, tegap dan tatap." pinta Nisa, dengan mengangkat wajah suaminya agar menatap setiap proses pembukaan verban itu.


"Aaaakhh!" pekik nya, melihat verban yang perlahan dibuka. Untungya, Nisa selalu menggantinya beberapa hari sekali agar tak menimbulkan ruam, dan bekas yang akan membuatnya kotor.


"Sudah, Pak Abi..." ucap sang perawat.


Abi menatap tangannya, dan Nisa mengegenggamnya untuk beberapa kali menggerakannya.

__ADS_1


"Sakit?"


"Sedikit," lirih Abi.


"Ngga papa, nanti sembuh. Tinggal pemulihan," kecup Nisa, di jidat yang paripurna itu.


"Nisa boleh ke tempat Nenek?" tanya nya lagi, dengan tatapan penuh harap agar Abi mengizinkannya.


"Aku mengawasimu," ucap Abi, dengan mengecap bibirnya.


"Baiklah, sayangku...." balas Nisa dengan begitu ceria. Nisa pun melangkah dengan cepat, sembari sesekali menatap layar Hpnya. Info dari Adhim, bahwa Alex baru saja akan keluar dari ruangan itu dan pergi.


"Dimana?" tanya Nisa, tergesa-gesa.


"Baru keluar. Susul saja ke parkiran. Ku rasa, masih disana." tunjuk Adhim ke pintu keluar.


"Haish, baiklah." Nisa pun segera berlari, dan sekuat tenaga menyusul Alex di parkiran.


"Mas Alex!" pekik Nisa. Langsung membuka pintu mobil Alex, dan masuk duduk di sampingnya..


"Loh, Nisa? Ngapain kesini?" terkejutnya Alex, sembari menahan takut akan kedatangan Abi yang secara mendadak di depan mereka.


"Bentar aja, Nisa mau ngobrol. Mumpung, Mas Abi lagi konsul." pinta Nisa.

__ADS_1


Alex pun hanya meng'iyakan. Ia langsung duduk bersandar dan menatap Nisa dengan penuh tanya.


__ADS_2