
Rapat berlangsung cukup lama. Begitu banyak yang mereka bahas kali ini. Nisa mendengarkan, sembari terus menatap layar laptop Abi. Jika bosan, Ia pun akan meraih Hpnya dan mengecek pesan masuk.
"Kak Adhim," lirihnya. Ia segera membaca pesan itu. Apalagi, kalau bukan kabar mengenai Sang Nenek yang masih dalam pantauan nya.
Ia pun asyik dengan Hpnya. Berbalas pesan pada Adhim, bahkan melenceng dari tema awal mereka berbalas pesan. Bahkan, tak jarang Nisa kelepasan tertawa disana.
"Nisa...." geram Dita, menatapnya setajam pisau belati.
"Iya, maaf..." Nisa menyuruk kan wajahnya.
Abi pun meliriknya, dengan mengedipkan mata. Tapi, Nisa justru membalas nya dengan senyuman genit dan kecupan dari jauh. Dita menyipitkan matanya, semakin tajam bagai busur panah yang siap dilontarkan pada targetnya.
"Weeek..." Nisa menjulurkan lidah.
"Wuiiih!" rasanya Dita ingin mengepalkan tangannya pada wanita itu. Sayangnya, Abi langsung meliriknya. Hingga Ia pun hanya bisa menghela nafas panjang mengelus dada.
__ADS_1
"Doni, mari kita lanjutkan rapatnya." ajak Dita, yang hatinya sudah kembali pada mode awal. Meski terpaksa.
"Baiklah, kita mulai lagi pembahasannya." ajak Pak Doni. Bersama sekretarisnya, kembali melaksanakan rancangan proyek barunya. Yang akan menggunakan jasa perusahaan Abi, untuk membangun kantor cabang perusahaan nya.
Suasana kembali hening. Hanya Feby yang tampak masuk untuk mengantarkan minuman. Tak hanya untuk yang rapat, tapi juga untuk sang ratu yang ada di singasananya.
"Makasih, Feby..." ucap Nisa dengan manis. Feby hanya mengangguk, lalu keluar dari tempat itu.
Nisa masih memainkan Hpnya. Tersenyum sendiri dengan begitu ceria. Sesekali, Abi melirik dan memperhatikannya. Apalagi, ketika tengah rehat dengan perbincangan yang dilakukan.
"Wah, gatel mataku. Gara-gara Hp nih, sama laptop. Udah lama engga, soalnya." gerutunya, sembari mengucek mata beberapa kali. Begitu gatal, hingga Ia harus mengistirahatkan Hpnya di meja.
Abi memiringkan kepalanya. Menatap lekat sang istri yang tampak gugup. Padahal, Ia ingin membuka laci dan mengeluarkan kacamata dari dalam sana.
"Ada apa dengan Hpnya?" tanya nya, datar.
__ADS_1
"Eng-ngga papa. Cuma, lagi asyik baca novel online." Nisa menunjuk kan layar Hpnya pada Abi. Sedikit malu, karena sudah berprasangka buruk pada suaminya.
Abi hanya memainkan bibirnya, lalu memakaikan kacamata itu ke Nisa. Kaca mata anti radiasi, yang sering Ia pakai untuk bekerja.
" Ngga mau, periksa hpnya?"
"Tidak... Bermainlah." ucap Abi, lalu kembali pada clien nya.
"Maaf, sedikit mengganggu kegiatan." ucap Abi.
"Tak apa, santai saja. Memberi perhatian untuk istri memang perlu. Apalagi, Nyonya selalu ada disini sejak tadi, tanpa beranjak sedikitpun. Sungguh setia, menemani suaminya." puji Pak Doni, sesekali melirik Nisa yang memang tampak memukau dimatanya.
Nisa hanya mengangguk, tersenyum ramah membalas senyuman Pak Doni. Hanya itu, agar tak dikata terlalu sombong pada yang lain.
"Ya, terimakasih atas pujiannya." jawab Abi. Ia menghela nafas, menatap wanita itu.
__ADS_1
Sebuah kata beruntung, yang diucapkan. Beruntung ketika Abi mendapatkan Nisa, yang meski aneh tapi justru bisa membuatnya tenang.
Ya, Nisa adalah sebuah hal yang meyakinkan Abi, jika tak harus dengan obat agar Ia bisa sembuh dari rasa sakitnya. Yang dapat menjadi sandaran, bahkan ketika bayangannya sendiri pun menjauh ketika Ia butuhkan.