Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Kau menantangku?


__ADS_3

"Abi pulang, Ma..."


"Ya, sayang. Kok, ngga jadi kencan? Itu, Nisa kenapa?" tunjuk Mama Sofi pada menantunya.


"Entah, Abi ngga tahu. Abi ganti baju dulu."


"Ya," angguk Mama Sofi. Padahal, Ia tadi tak memasak karena berfikir mereka akan makan berdua di luar. Dan kini Ia harus berpacu dengan  waktu bersama Bik Nik untuk mempersiapkan makan malam mereka.


"Kenapa lagi?" tanya Bik Nik, yang kembali mempersiapkan bumbu masakan nya.


"Ngga tahu...." jawab Mama Sofi. "Dah lah, ayo siapin makan malam. Laper,"


Mereka berdua akhirnya diam, fokus dengan alat dan bahan masing-masing.


Sementara itu, Nisa tengah diam seribu bahasa duduk di ranjangnya.. Membisu dan membatu. Bahkan, Ia tak menoleh ketika Abi keluar dari kamar mandi.


" Tak lelah?" tanya Abi yang tengah memilih pakaian yang akan Ia pakai.


"Diem, mana bisa capek. Kecuali kalau Nisa ngomel, baru capek."


"Lantas, kenapa diam?"

__ADS_1


"Nisa mau tanya." Ia mulai berdiri dan menghampiri Abi.


"Ya?"


"Perasaan Mas sama Bu Dita, itu bagaimana?"


"Kenapa?"


"Jawab! Malah balik nanya," tukas Nisa. "Kalau Mas suka sama Bu Dita, kenapa ngga nikahin dia aja? Kalian serasi."


"Lalu, membiarkan nenek mu tanpa perawatan?" tatapnya datar.


"Lembur seumur hidup. Kau kuat? Lalu... Bagaimana jika aku tak suka dia? Haruskah aku memaksakan diriku?"


Jawaban itu pendek. Tapi, tepat dengan inti pertanyaan Nisa. Hanya sedikit yang belum terjawab, karena Abi mendekati Nisa dengan tatapan nya yang begitu tajam. Tapi, tampak kosong.


" Kami sudah bersahabat sejak lama."


"Ngga ada yang namanya sahabat, antara pria dan wanita dewasa. Salah satunya, pasti ada yang main rasa."


"Aku tak mencintainya."

__ADS_1


"Mas engga, tapi Bu Dita? Tampak dari tatap mata nya. Nisa aja tahu,"


"Untuk apa punya istri kalau ngga pernah disentuh sama sekali? Untuk pajangan?" tukas Nisa, dengan segala argumen nya.


"Kau, begitu ingin ku sentuh? Kenapa?"


"Aku istrimu. Ibarat, hidupku pun sudah kau beli, Mas. Bahkan harga diriku. Kalau cuma buat pajangan, untuk apa?" jawab Nisa, yang mulai tegang ketika Abi semakin dekat dan meraih wajahnya.


"Ya, kau istriku. Aku, berhak atas dirimu."


Abi sedikit mengulurkan senyumnya. Tatapannya, wajahnya. Memang selama ini Ia selalu serius. Namun, Nisa tak pernah melihat Ia yang seperti ini. Ia merasa telah salah, karena telah menantang Abi saat itu.


"Mau apa?" tanya Nisa, mulai gugup ketika jarak mereka semakin terkikis. Matanya tampak menghindari Abi. Padahal awalnya dia lah yang menantang.


"Katamu, kau ingin ku sentuh? Kenapa menjauh?" tangan Abi mulai intens. Meraih tengkuk leher Nisa dan sedikit memberi tekanan disana. Telapak tangan Nisa reflek, menyentuh dada bidang Abi dan terasa semua ototnya disana.


"Jangan menahan, karena kau yang memintanya. Kau, menantangku..." wajah Abi semakin mendekat. Semakin dekat hingga terasa hembusan nafasnya yang hangat berhembus di wajah Nisa. Jantungnya berdebar dengan begitu kuat.


Ya, Iya yang menantang Abi. Ia tahu resiko yang harus Ia terima, dan Ia siap. Terasa debaran di jantung Abi oleh telapak tangan Nisa. Tak beda, dengan apa yang Ia rasakan. Nisa pun memejamkan matanya, apalagi ketika Abi telah mencapai bibirnya.


Deeeeggg!  Sekelebat bayangan itu kembali muncul. Abi beberapa kali menggelengkan kepalanya, dan ujung telapak tangan di dahinya. Mendesis, merasakan sebuah energi aneh di dalam tubuhnya, bertabrakan dengan keadaan jiwanya.

__ADS_1


__ADS_2