Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Maaf kan Mama


__ADS_3

"Kau jadi sekretarisku..."


"Menggantikan Dita? Hey! A-ayolah, aku tak bisa. Tak akan beres pekerjaanmu, kalau aku yang handle." tolak Alex. Meski Ia. Bisa, tapi semua tugas tak akan mampu Ia lakukan sekali jalan.


"Cari pengganti sementara, bagaimana? Aku tahu, tak ada yang bisa menggantikan Dita. Tapi, setidaknya dia tahu cara kerjamu."


"Manda tak bisa. Dia punya bayi," balas Abi, yang begitu bingung saat ini.


"Mas Alex, ini minumnya." tawar Nisa, membawa teh dan camilan untuk keduanya.


"Thanks, sayang..." ucap Abi, dengan begitu manis.


Alex menatapnya, dengan menyipitkan mata. Merasa aneh ketika Abi tampak begitu manis pada istrinya.


"Sama-sama Mas ku," balas Nisa, tak kalah manisnya. Abi pun meraih tangan Nisa, dan membawanya duduk bersama. Alex hanya mendatarkan wajahnya, mendapati firasat buruk dalam hatinya.


"Bu Dita?"


"Cuti sebentar, Nisa. Biarkan saja, dia butuh ketenangan." ucap Alex, berusaha mencairkan keadaan.


"Ooh,, kantor sepi dong?" tanya Nisa, sembari mulutnya terus menerima suapan cemilan dari tangan Abi yang aktif.


"Atau, Nisa saja yang jadi...." ucapan terhenti, ketika Abi memberikan tatapan tajamnya kembali. Tepat pada Alex.


"Ya, kumat lagi. Baru aja lihat nya manis banget. Rupanya cuma buat pawangnya doang," gumam Alex, mengapit kedua tangan dengan pahanya.


"Kenapa?" lirik Nisa.

__ADS_1


"Tak boleh,"


"Tapi Nisa bisa,"


"Jangan melawan!"


"Baiklah," angguk Nisa, pasrah.


Mereka bertiga berfikir, dan terus berfikir dengan begitu serius. Abi tak hentinya menyuapi Nisa dengan cemilan nya, sembari tangan Abi aktif  dengan Hp ditangannya. Sedangkan Alex, duduk dengan santai memijati pelipisnya yang pening.


Belum ada kata sepakat, meski pembicaraan telah terjadi selama beberapa jam. Perdebatan terus saja terjadi. Ketika Alex mulai menyebut nama yang mungkin pantas menggantikan Dita.


"Dah lah, capek." keluh Alex, menyandarkan tubuhnya di bahu sofa.


"Lalu?"


"Baiklah... Semua data, ada pada Manda."


"Hmmm," timpal Alex, masih memijat dahinya dengan kasar.


Pada akhirnya, Alex lah yang mengalah. Tak banyak, orang yang bisa memahami Abi. Sikapnya, maunya, dan semua hal yang harus di lakukan ketika bersama Abi. Dan Alex faham, jika Abi belum sembuh benar dari semuanya.


Kebanyakan orang, akan lari ketika melihat Abi dalam kondisi kacaunya. Mereka semua takut, karena bahkan banyak orang yang menganggap itu penyakit Jiwa yang parah.


"Kau tak lelah?" tanya Abi, membangunkan Alex dari diamnya.


"Kau mengusirku?"

__ADS_1


"Tidak. Bahkan Mama menyiapkan kamar untukmu,"


"Wow, benarkah?" takjub Alex. Abi hanya mengedik kan bahunya pertanda Iya.


Alex pun tampak semringah, lalu berdiri dan berjalan mencari Mama sofi, dimanapun Ia berad.


"Kok tidur sini?" tanya Nisa, masih menggelendot manja di tubuh Abi.


"Mama rindu. Entah... Mungkin rindu dengan bujangnya."


"Hmmmm," angguk Nisa. Ia pun beralih, dan berdiri dari pangkuan Abi.


"Kemana?"


"Ke kamar, ngantuk."


"Ya, istirahatlah. Aku masih banyak pekerjaan,"


"He'emh," angguk Nisa, lalu pergi meninggalkan Abi yang masih fokus dengan laptopnya. Sepeninggal Dita, Ia harus mandiri beberapa hari ini. Sebelum Alex mulai memahami dan mengatur jadwalnya.


Nisa berjalan dengan ceria. Menaiki tangga menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti. Ia mendegar percakapan Mama dan Alex. Lirih, tapi terdengar menyebut nama Dita disana. Rasa penasaran pun menggelanyut dalam hati Nisa kala itu.


"Maaf, Mama menasehati dia malam itu."


"Mama?"


"Ya, Mama akhirnya bicara. Mama tahu, perasaan Dita. Dan Mama sadar, pernah begitu mengharapkan Dita jadi istri Abi. Tapi... Nisa sudah ada."

__ADS_1


Nisa menutup mulutnya, mendengar hal itu. Terkejut, dan begitu kaget. Wajar saja, Dita begitu menggebu-gebu dengan perasaannya untuk Abi..


__ADS_2