Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Kau luluh, Bi?


__ADS_3

Nisa tak bisa diam. Ia duduk dan terus memutar kursinya dan mendorongnya kesana kemari. Sepertinya terlalu gabut, menemani sang suami yang fokus dengan laptopnya.


Apalagi, tampaknya flu yang Ia derita semakin menjadi. Menghisap ingus, bersin, dan semuanya berkaitan dengan rasa tak nyaman yang Ia hadapi. Padahal, harusnya Nisa ada janji jenguk hari ini. Tampaknya, Ia terpaksa membatalkan semuanya.


"Nisa buatin teh, ya?"


"Biar, suruh yang lain saja. Kau disinin,"


"Bosen, kan bentar aja."


"Baiklah, jangan terlalu lama." pinta Abi, dengan menggaruk hidungnya.


Nisa pun melangkah ceria, keluar dari ruangan Abi dan menuju pentry. Ia yang sudah faham, lalu dengan sigap membuat kan teh spesial untuk suaminya. Sayangnya, tak ada lemon disana.


"Yaudah, ini aja deh..." ucap Nisa, menunggu air nya mendidih kerena Abi tak suka air dari termos panas. Begitu gampang, Ia memahami kesukaan suaminya itu.


"Nisa?" sapa Feby, yang juga datang untuk mengambil air putih.


"Feby, sehat?"


"Sehat, Nis. Haruskan, ku panggil Bu presdir?" goda Feby, membuat Nisa tersipu malu dengan panggilan itu.


"Ih, apaan? Biasa ajalah, panggilnya. Atau... Bu aja, ngga papa. Daripada dimarahin sama Bapak," jawab Nisa, dengan gurauannya.


"Bagaimana, pernikahan kalian?" tanya Feby, penasaran. Karena Ia tahu, jika pernikahan itu tak hanya mendadak, tapi juga karena terpaksa.

__ADS_1


"Hah? Ehmm, Alhamdulillah, baik. Ya, seperti yang kamu lihat." balas Nisa, yang mulai meracik tehnya.


Feby tak banyak bertanya lagi. Ia menatap bekas merah di leher Nisa, dan sangat faham bagaimana hubungan keduanya. Mungkin.


"Ya, meski terpaksa, tapi mereka suami istri. Mana tahan, seranjang berdua." tawanya dalam hati.


Nisa selesai, merapikan alatnya kembali dan bersiap membawa teh nya pada Abi.


"Feby,"


"Ya, Bu?"


"No Hp ku, masih ada kan? Nanti kalau ada apa-apa, nanya aja. Aku stay,"


"Ya, baklah..." angguk Feby, dengan senyum terulur dari bibirnya.


"Pak Abi, ini ada beberapa......"


"Hachiiiim!"


"Kau flu?" tanya Dita, terkejut dengan bersinnya Abi.


"Hah, iya, Aku flu..." Jawab Abi, dengan mata yang tampak sayu.


"Ke dokter, yuk. Sepertinya parah," ajak Dita, yang mulai cemas.

__ADS_1


Ia menghampiri Abi, dan membujuknya agar ikut. Namun, Abi menjauh dan berusaha menolak dengan lembut.


"Nanti, aku akan pergi dengan Nisa."


"Bi, kau itu parah. Kenapa harus menunggu dia? Dia saja entah kemana." omelnya.


"Biarlah... Toh, Aku begini karena tertular olehnya," balas Abi.


Dita mengerenyitkan dahi. Menatapnya dengan penuh tanda tanya. Flu itu menular dengan begitu cepat. Padahal, hingga sore kemarin pun Abi sangat baik-baik saja.


"Permisi... Eh, ada Bu Dita." sapa Nisa, yang membawa secangkir teh hangatnya.


"Ini, Mas. Biar meredakan sedikit flunya."


"Dita memintaku berobat ke dokter," lapor Abi, meski tanpa menoleh pada istrinya.


"Oh, yaudah. Sana ke dokter, sama Bu Dita, ngga papa." ucap Nisa. Dita pun mendelik pada Abi, ketika mendapat izin dari istri sahabatnya itu.


"Denganmu," jawab Abi, datar.


"Lah, kenapa harus sama Nisa?"


"Kau juga, harus berobat. Gejala kita sama," Abi menyeruput teh hangatnya. Terasa nikmat dan lega. Andai saja, ada perasan lemon atau pun daun mint, pasti akan lebih nikmat.


Nisa dengan cepat meraih gelas dari tangan Abi. Membersihkan dagunya yang terkena air, sembari sesekali mengibaskan rambutnya yang tergerai panjang.

__ADS_1


Dita melihat penampakan itu. Ya, penampakan yang juga dilihat oleh Feby, barusan. Tanda itu masih tampak begitu jelas, dan Ia tahu jika itu baru saja dibuat karena masih merah.


"Kau benar-benar luluh, Bi?" tanya nya dalam hati. Ia tak menyangka, akan secepat ini Nisa dapat mengalihkan dunia Abi yang terpaku pada mendiang Rere.


__ADS_2