Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Perkembangan Nenek


__ADS_3

"Hay, Nisa..." Sapa Adhim, yang masuk kedalam ruangan Neneknya.


"Kak Adhim," Sambut Nisa dengan senyumnya.


"Aku bawa kabar bahagia untuk mu," Adhim mempersilahkan Nisa duduk di hadapannya. "Oh iya, ini?"


"Mama Sofi, mertua Nisa. Ma, ini Kak Adhim..." Nisa memperkenalkan keduanya. Dan mereka saling berjabat tangan.


"Ada kabar apa?" Nisa tampak antusias mendengarnya.


"Ada seseorang yang bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Nenek. Dan setelah kami periksa, ternyata cocok. Ya, meski ginjal itu juga belum bisa sepenuhnya menyembuhkan Nenek."


Netra Nisa tampak berbinar bahagia. Harapannya kian tinggi untuk neneknya. Apalagi, Mama pun tampak bahagia untuk nya.


" Siapa yang mau donor?" tanya Nisa.


"Maaf, tapi... Beliau belum mau disebut namanya. Tapi lagi... Beliau ikhlas membantu nenek, tanpa embel-embel apapun." ucap Adhim.


"Sudah lah, Nisa. Yang penting Nenek dulu. Nanti, kita bisa cari orang itu. Abi pasti menemukan nya. Barulah, kita balas jasanya. Okey?"

__ADS_1


"Baik, Ma..." hela Nisa, dengan nafas yang begitu panjang tapi lega.


Adhim pun menjelaskan, jika kondisi sang Nenek belakangan ini memang menunjukkan peningkatan. Tak sering sesak, dan jantungnya selalu normal.


"Doakan saja, lusa bisa kita operasi. Dan masalah biaya...."


"Bagaimana?" potong Nisa.


"Tak apa... Semua sudah tercover oleh suamimu. Tinggal bersiap saja,"


"Alhamdulillah," Nisa mengusap dadanya. Aura tampak bahagia, dengan segala harapan baru yang ada. Meski Ia selalu ingat, jika memang sulit. Tapi, akan selalu berusaha hingga memang waktunya menyerah telah tiba.


"Nisa tak mau kemana-mana?" tanya sang Mama.


"Kemana? Engga ah, Mas ngga ada." timpal Nisa, dengan tetap fokus pada setirnya. Saat itu juga, Ia terfikir akan kesayangannya yang jauh disana.


"Kasih tahu ngga ya? Sibuk apa engga?" galau nya, memikirkan Abi di luar kota. Meski bersama Alex, tapi Ia masih khawatir dengan pria tampan yang telah menggenggam tangannya beberapa bulan ini.


Nisa seketika menggerakkan jari jemarinya yang terasa kosong tanpa genggam hangat Abi.

__ADS_1


Seperti hal nya Nisa. Abi yang tengah dalam ketegangan, menggerak. Gerak kan jarinya dengan spontan. Terasa sepi dan kosong, meski tengah dalam fokus yang harus nya sempurna.


"Jadi, bagaimana? Mau ke pengadilan?" tanya Pak Jay, membuyarkan lamunan Abi.


"Sesuai denah, tanah anda sebatas sini. Dan jika saya menolak membayar seperti yang anda mau, maka bisa saya lepaskan tanah anda. Saya pun bebas, karena hotel saya masih berdiri dengan kokoh tanpa gangguan. Tapi, apa yang anda lakukan dengan tanah anda?" tanya Abi.


"Saya jual lah, dengan yang mampu membayar lebih." ucapnya dengan bangga.


"Dan mungkinkah ada yang mau membelinya. Apalagi, ketika tahu itu adalah tanah buangan dari kami?"


"Bu-buangan?" pak Jay mulai gugup.


"Be smart, Pak Jay. Jika anda mengambil alih tanah itu lagi, maka itu akan menjadi sengketa. Di sekitar sana, ada tanah yang lain yang akan saya jadikan taman. Dan hanya dengan secuil tanah anda, semua akan jadi berantakan. Anda lihat...." Abi memberikan sebuah sketsa.


" Ini contoh nyata, ketika anda mempertahankan pendirian. Apa yang bisa dilakukan, dengan tanah kosong yang berada ditengah taman kami? "


Pak Jay menatap lekat gambar itu. Sebuah tanah kosong ditengah taman, dengan sekelilingnya yang akan makmur dengan pengolahan yang baik.


"Anda tak akan bisa berkutik. Karena disana pun, akan saya buat pembatas dari akses yang saya buat." ucap Abi, dengan tatapan tajam dan datarnya. Begitu mengerikan, bahkan semua orang tertunduk tak berani melihatnya.

__ADS_1


"Aku tak kepikiran. Bodohnya aku," sesal Alex. Wajar saja, urusannya begitu menyita waktu. Hingga sulit beginya membagi semua isi kepalanya.


__ADS_2