
Sepanjang jalan mereka diam. Apalagi Alex, yang berada diantara Dua sejoli bucin itu. Apalagi, mereka tengah terlibat konflik batin yang rumit. Namun, di sepanjang jalan hening itu, genggaman tangan Abi tak pernah Ia lepas dari Nisa.
"Sampaiiii..." ucap Alex, menghentikan mobilnya di parkiran.
Ketiganya pun turun bersama, masih dengan posisi semula. Rasanya, Alex merasakan bagaimana jadi Dita, yang kadang muak melihat kemesrsan itu.
"Oh, Dita... Kembailah," harapnya dengan begitu sangat. Untung saja, Abi tak mendengarnya kala itu.
"Pagi, Pak Abi..."
"Pagi," balas Abi pada sapaan mereka. Abi ramah, tapi Nisa tampak diam tak membalas sketika membuat para karyawan terheran.
"Lagi, tukaran jiwa, ya?"
"Hust, apaan? Lagi sensi aja, kali." sambung Manda, yang mendapati gelagat Nisa yang aneh.
Duduk di kursi singasananya. Nisa begitu diam menemani Abi yang mulai fokus pada laptopnya. Entah, Ia seperti rindu perhatian Abi padanya, meski kadang posesif tak beralasan.
" Nisa kenapa?" tanya Abi, meski tanpa menoleh pada istrinya. Tangannya mulai sibuk menggetik, sembari sesekali berbalas pesan Via email atau Wa. Sedangkan Nisa, hanya membalasnya dengan gelengan kepala.
"Permisi, Pak..." Manda masuk, setelah mengetuk pintunya. Ia melangkah pelan memberikan beberapa file pada Bosnya itu. Baru sebagian, dan sisanya akan diantar oleh Feby sekitar Satu jam lagi.
__ADS_1
Abi pun kembali mengangguk padanya. Dan tak lupa, meminta agar Manda membelikan beberapa cemilan untuk sang ratu yang ada di sebelahnya. Nisa hanya melirik pada Abi kala itu. Lirikan nya yang sedikit kesal penuh arti.
Manda segera melakukan apa yang di perintahkan. Ia segera kembali dengan berbagai cemilan untuk sang ratu. Setidaknya, itu sebutan untuk Nisa saat ini, karena seolah tak ingin jauh dari rajanya.
"Nisa mau ambil minum,"
"Ambil sendiri?"
"He'em, capek duduk terus. Sesekali jalan,"
"Ya," Abi membalasnya dengan begitu singkat. Nisa memanyunkan bibirnya, lalu keluar dari ruangan itu. Semua orang menunduk kan kepala ketika menatapnya keluar dari ruangan sang suami. Nisa pun membalasnya dengan ramah, seperti biasanya.
"Eh, Ibu..." sapa Feby, yang juga masuk ke dalam ruangan itu.
"Feby, mau minum?"
"Engga, Bu. Mau, ambilin minum, buat..."
"Buat suami saya?" tatap Nisa, "Ini, udah saya bawain. Ngga usah repot," ucap Nisa, yang menatap lemon dalam genggaman Feby.
"I-iya, Bu..." Feby mengangguk, dan meninggalkan Nisa yang masih sibuk dengan kegiatan nya.
__ADS_1
Setelah usai dengan teh lemon nya, Nisa keluar dan membawanya pada sang suami. Ia membuka pintu, dan langsung di sambut dengan uluran tangan Abi pada sang Istri. Meski, tatapannya masih fokus pada laptop dan filenya.
"Begitu, kalau salah sambut gimana?" tanya Nisa, kembali duduk di singasananya.
"Mana mungkin salah, aroma tubuhmu saja aku faham."
"Tanpa melihat?"
"Hmmmm," dehem Abi, masih saja fokus dengan laptopnya.
Nisa hanya menyipitkan matanya, menatap sang suami yang begitu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi bersyukur. Karena meski diam, Abi tak pernah lengah dari setiap gerak gerik sang istri.
"Awwwh, panas!" lirih Nisa, spontan karena teh nya memang masih sangat panas ketika Ia minum. Abi pun spontan, langsung membalik badan pada sang istri, dan meraih minuman itu.
"Biasanya ngga suka, kenapa minum?" Abi mengusap bibir Nisa yang tampak merah, dan meniupnya dengan lembut.
"Pengen, lagian seger."
"Maghmu, sayang..." Abi terus saja meniup, dan sesekali mengecup bibir itu untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"Permisi, Pak...." tiba-tiba Feby datang, menatap mereka berdua dengan begitu tegang
__ADS_1