
Nisa menepati janjinya. Ia tak kemana-mana setelah menjenguk sang Nenek. Langsung kembali, dan menjemput sang suami di kantornya.
Mobil Ia parkir kembali dan langsung menguncinya. Berjalan dengan elegan, masuk kedalam perusahaan dengan sambutan ramah dari satpam pada para karyawan lain nya..
"Feby, ngapain?" tanya Nisa, ketika melihat Feby berdiri di depan pintu ruangan Abi.
"Eh, Bu Nisa. Ngga ngapa-ngapain, abis anter berkas. Permisi, Bu..." angguknya dengan ramah. Meski tampak sedikit gugup.
Nisa tak terlalu ambil pusing. Ia membuka pintu dan masuk menemui suaminya. Mengucap salam dan mengecup tangan nya dengan mesra.
"Belum pulang?"
"Sebentar lagi, kenapa? Bosan?"
Nisa menggelengkan kepala. Ia pun tak tahu apa keinginan nya saat ini.
"Pengen les kepribadian," celetiknya. Seketika Abi menghentikan semua pekerjaan dan menoleh pada sang istri.
"Kau ingin apa? Aku tak salah dengar?" Abi Memicingkan matanya.
__ADS_1
"Ngga salah, Nisa memang bilang itu. Boleh?" tanya Nisa, sedikit memohon.
"Kan Mas sendiri yang bilang, ucapan Bu Dita itu bener. Berarti, Nisa harus les itu. Berdandan, berpakaian, cara jalan, makan, dan semuanya. Takutnya, gara-gara Nisa Mas jadi omongan orang."
"Sebelum bersamamu, orang sudah banyak mencibirku. Tak apa." balas Abi. Ia memang sudah kebal dengan cibiran orang lain. Bodoh, tak punya pendirian, bahkan sebutan Gila pun pernah Ia dapat karena sakitnya. Apalagi memang pernah di rawat sebelumnya secara intensif.
"Kau fikir, cibiran apalagi yang terburuk untuk ku?" tanya Abi pada Nisa.
Abi begitu susah payah membangun jati dirinya, dan membuat semua orang percaya padanya. Jika dia, baik-baik saja. Fikir saja, siapa yang akan mau bekerja sama dengan mantan pasien kejiwaan. Untungnya Alex selalu ada disampingnya untuk bahu membahu membangkitkan semua itu.
"Nisa cuma minta pendapat. Hanya ingin menghindari yang tidak diinginkan. Itu aja," jawabnya, dengan memainkan kakinya di lantai.
"Iya?" tanya Nisa, dengan begitu antusias. Abi hanya menjawabnya dengan anggukan, sembari mengedipkan matanya.
Nisa duduk santai lagi, sembari memainkan Hpnya.
"Tak bosankah, bermain Hp?" tanya Abi, tanpa menoleh.
Nisa hanya menghela nafas. Meletakkan Hp nya diatas meja, lalu kepalanya dengan posisi miring menghadap sang suami. Jari jemarinya mulai sibuk, memainkan poni Abi yang sudah Ia buat turun lagi menutupi dahinya. Tangan itu pun turun ke alis tebalnya, mengusap dan mengagumi keindahan yang ada.
__ADS_1
"Kalah alis Nisa." ucapnya. Sama, seperti yang Rere ucapkan padanya, dulu. Namun, Abi tak telalu ingin meresponnya dan masih fokus ke laptop.
Jari jemari mungil nan lentik itu, turun lagi meyusuri hidung mancung suaminya. Dari depan tampak seperti jambu air, dan dari samping seperti sebuah perosotan.
"Nisa,," tegurnya. Nisa hanya tersenyum dengan begitu renyah.
Tangan itu pun turun kebibir yang indah itu. Entah, apalagi yang Ia khayalkan disana. Hingga akhirnya semua buyar.
"Aaaakhhhh! Sakit!" pekik Nisa, ketika Abi menggigit tangannya yang tengah bergerilya di bibir indah itu.
"Apa sih, Mas? Kok digigit, sakiittt!" rengek Nisa, menatap jari nya yang memerah. Memanyunkan bibirnya dengan begitu sedih.
Abi pun langsung menolehnya, "Hey, kau menangis? Apakah begitu sakit?" tanya Abi, yang tampak cemas.
"Ya sakitlah, merah begini." tunjuk Nisa. Abi memutar kursinya, meraih jari itu dan meniupnya beberapa kali. Tak lupa, memberikan kecupan sedikit untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Masih sakit?"
"Engga,," geleng Nisa. Rasanya, ingin segera mengajak suaminya untuk pulang sekarang juga.
__ADS_1