
Nisa dan Abi, telah tiba dihotel mereka. Turun dengan sambutan dari para staf hotel yang ramah, beserta Alex yang menghampiri dengan merentangkan tangan nya untuk sahabat terbaik. Aby pun membalasnya, saling meluapkan segala rasa rindu yang ada. Pasalnya, hampir Tiga bulan mereka sama sekali tak bertemu karena Alex fokus pada hotel baru yang tinggal menunggu peresmian itu.
"Are you okey?" tanya Alex.
"Yes, Iam okey." balas Abi. Alex pun menunduk pada Nisa sebagai tanda penghormatan untuknya.
"Mana Mba Dita?" tanya Nisa, yang langsung membuat Aby diam seribu bahasa. Tapi Nisa langsung memeluk lengan Aby dan mengecupnya dengan senyuman genit.
"Dita? Dia sedang bekerja. Dia sangat sibuk saat ini, nanti akan ku pinta Dia menemui kalian saat makan malam." Alex mempersilahkan Aby dan Nisa berjalan lebih dulu. Menyusuri lobi dan naik tangga menuju kamar mereka. Alex dibelakang, mengiringi sembari menjelaskan setiap tempat yang mereka lihat.
" Pantaaaai!"pekik Nisa yang kegirangan, melihat lautan yang luas biru dengan pantai yang landai. Apalagi ombak yang beguulung-gulung dengan begitu indahnya.
Nisa melirik Aby seketika, memasang wajah sayu nya begitu ingin bermain disana. Tapi, Aby justru menggenggam tangan nya lebih erat menjaga nya agar tak lari menuju tempat itu.
"Pengeeeen," ringiknya manja. Aby hanya mentapnya dalam diam, dan Nisa pun menunduk kan kepalanya dengan memainkan kakinya di lantai. Tangan Aby merayap naik ke bahu sang istri, dan mengusapnya beberapa kali.
"Masih siang, Mom. Kamu perlu istirahat dan makan setelah ini," kecupnya di dahi sang istri. Mode kesal pun berubah menjadi lengkungan senyum yang indah di bibir dan mata Indah Nisa. Setidaknya itulah, yang membuat pria itu akhirnya bertekuk lutut pada gadis yang awalnya Ia anggap aneh itu..
__ADS_1
"Ini kamar kalan," Alex membuka sebuah ruang kamar yang besar. Berfasilitas VVIP dan semua serba lengkap. Belum lagi, menghadap ke pantai dan memiliki kolam renang sendiri di balkon nya.
"Wuaaaa!" Nisa yang memang baru kali ini diajak menginap di hotel mewah, tak menyangka akan mendapat ruangan sebagus dan senyaman itu. Diluar ekspetasinya selama ini, meski Aby selalu memberi yang terbaik untuknya dan Baby mereka.
"Suka?" peluk Abi dari belakang, begitu mesra dengan beberapa kecupan di pipi hingga tengkuk lehernya.
"Banget... Thank, Papa." bahagia Nisa, mengarahkan tangan Aby ke perut nya yang masih rata itu.
Alex merasa moment itu akan menyakitkan hatinya, hingga Ia memilih untuk menyingkir pergi dari ruangan mereka daripada hatinya semakin perih. Apalagi, Dita sama sekali belum merespon perasaan nya selama ini. Pria itu menuruni anak tangga, dan disana Ia bertemu dengan Dita.
"Mau kemana?"
"Mereka sedang istirahat, jangan diganggu."
"Aku hanya ingin menyapa. Kau kenapa?" lirik. Dita sinis padanya.
"Jika ku bilang jangan, maka jangan!" Alex berjongkok, meraih tubuh Dita lalu membopongnya di pundak. Membawanya turun kebawah entah kemana. Tak perduli, jika Dita berteriak dan meronta-ronta memukuli punggung Alex yang kekar itu.
__ADS_1
"Hentikan, Alex! Ku bilang berhenti. Turunkan Aku!!" pekik Dita padanya. Alex menyeringaikan tawanya, membuat Dita langsung diam molotot dengan perasaan tak enak.
"Jangan macam-macam!" ancam Dita yang sudah tak melawan lagi.
"Aku tak pernah mau macam-macam dengan mu." Alex menurun kan tubuh Dita di sebuah ruangan. Ruangan milik Alex pribadi, untuk bekerja sekaligus untuknya beristirahat selama ini.
Klik! Alex mengunci ruangan itu dan menahan kuncinl ditangannya. Dita menelan salivanya begitu dalam, perlahan mundur menjauh dari Alex yang terus menatapnya tajam dan membunuh.
Dugggh! Tubuh belakang Dita menabrak meja. Ingin mengaduh, tapi terlali gugup dengan Alex yang semakin dekat dengannya.
Tangan besar Alex meraih pipi Dita. Mengusapnya dengan lembut turun mundur hingga ke tengkuknya. Merinding yang dirasakan Dita saat ini, apalagi tangan Alex yang satunya meraih pinggangnya yang ramping itu dengan leluasa. Tatapan semakin tajam dan intens, apalagi Alex yang semakin mendekatkan bibir mereka disana.
"Alex, jangan!" Dita berusaha melawan dengan memukuli dada bidang pria itu. Tapi Alex semakin intens megecap bibir dan memainkan li-dahnya di dalam mulut Dita, memberikan sentruman tak terkendali menjalar ditubuhnya. Tak pelak, Dita pun lemah dan pasrah menerima semua yang Alex berikan padanya.
"Dita... Will You Marrie Me?" tanya Alex, berhenti sejenak di sela segala aktifiktas nya di bibir indah Dita. Tatapannya penuh harap saat itu.
Dita yang masih mendongak kan kepalanya, masih diam tanpa kata. Mata nya berkaca-kaca, karena sekali lagi Alex mengucapkan itu padanya. Entah sudah berapa kali Ia dengar.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Dita mengalungkan tangan nya di leher Alex. Mendorongnya kembali agar Ia dapat membalas luma tan bi bir yang Alex berikan padanya. Semakin intens, dalam dan menuntut.
Alex merasakan jantungnye berdesir tak karuan, mengepalkan tangan nya sebagai luapan keberhasilan. Lalu tangan itu beralih lagi ke tubuh ramping Dita dan memperdalam cumbuan nya yang hangat.