
"Selamat siang, Pak Dom?"
"Siang, Bu Dita. Apa kabar hari ini?" sambut pria paruh baya itu. Begitu ramah dan murah senyum seperti biasanya.
"Langsung saja, Pak... Bagamana dengan lokasi tanah itu? Apa bisa saya lihat?" tanya Dita, yang memang tak ingin berlama-lama dengan semua urusannya saat ini.
Pak Dom memberikan sertifikat tanah itu pada Dita. Nyaris sesuai dengan yang Abi cari saat ini. Lokasi nya strategis, dan luas. Sesuai untuk pembuatan apartemen yang akan di bangun Abi bersama para rekannya.
"Tanah ini, siapa pemiliknya?" tanya Dita, karena Ia tahu jika Pak Dom hanya menjadi perantara dari sang pemilik tanah tersebut.
"Pemiliknya sudah meninggal. Hanya ada anak beliau yang selama ini memegangnya. Mereka bangkrut, setelah kepala keluarga mereka dipenjara oleh sebuah kasus tabrak lari. Setelah itu, katanya mereka pergi mengasingkan diri jauh dari kota. Sudah lama tanah ditawarkan, tapi baru ini ada yang tanya. Saya ngga mau, jual tanah itu kaplingan. Ribet," jawab Pak dom, sembari memainkan kumis tebalnya.
" Bapak tahu, yang butuh tanah ini siapa? "
" Pak Abi 'kan? Gampanglah, akan saya beri banyak potongan. Lagipula, saya tak terlalu banyak mencari untung dengan tanah itu. Yang penting laku. Hampir Empat tahun saya pegang sertifikatnya."
Dita hanya diam mengangguk kan kepalanya. Ia terus memahami semua isi sertifikat itu, dan bahkan membaca semua nama yang tertera di dalam akta tanah tersebut, yang ditulis sebagai ahli waris mereka.
Tampak Dita menyunggingkan senyumnya, menemukan sebuah nama yang ada di sana. Sebuah nama yang tak asing baginya, dan akan membuka semua sisi kelam masa lalu..
"Permainan dimulai, sayang..." gumanya sendir. Bahkan, Dita rela terlebih dulu membayar sebagian tanah itu dengan uang nya, asalkan tanah itu segera Ia dapatkan saat itu juga.
***
__ADS_1
Hari berganti semakin tampak gelap. Nisa telah bangun dan duduk di teras menunggu suaminya pulang. Perutnya pun masih terasa tak enak, hingga Ia hanya diam dan lemah bersandar di bahu kursi terasnya.
"Masss," panggil nya Via telepon.
"Ya, sayang?"
"Lama,"
"Kenapa? Aku sedang di jalan. Tunggu saja dirumah."
"Nisa udah tunggu daritadi, diteras, duduk termenung sendirian tanpa teman. Bosan,"
"Aku akan secepatnya sampai."
"He'em..." angguk Nisa, lalu kembali mematikan Hpnya.
"Bu Dita?"
"Abi belum pulang?"
"Belum," geleng Nisa. "Kenapa?"
"Tak apa. Hanya ingin menyerahkan ini. Katakan, segera kembalikan uang yang sudah ku pakai untuk menebusnya."
__ADS_1
"Hah?" Nisa mengerenyitkan dahi, dan menerima amplop coklat itu tanpa membukanya.
"Aku pergi," Dita tanpa aba-aba, segera membalik badan dan berjalan kembali kedalam mobilnya. Nisa hanya bisa bengong dan diam seribu bahasa, hingga Dita benar-benar lenyap dari pandangannya.
"Ah, dia mah aneh..." keluh Nisa. Ia masuk ke dalam rumah dan meletak kan map itu di meja ruang tamu. Ia pun kembali ke teras, dan menunggu suaminya pulang lagi. Hanya itu kali ini, karena Bik Asih sudah pamit pulang kerumahnya ketika sore
"Permisi..." seorang kurir masuk dan menghampiri Nisa.
"Iya, ada apa?"
"Ada paket, Bu. Ini dari Ibu Dita, untuk Ibu Nisa. Betul?"
"Ya, saya sendiri?" jawab Nisa. Agak heran, karena Dita baru saja pergi darinya, dan tak membahas apapun.
"Isinya makanan. Karena namanya sudah menjadi langganan di cafe kami, jadi langsung saya kirim. Dan pas, dari Dita untuk Nisa."
"Oh, iya sih. Memang sering kirim, suruhan Mas. Tapi...."
"Maaf, silahkan diterima. Karena pesanan juga sudah dibayarkan."
Nisa pun menerimanya, karena tertulis nama Dita sebagai pengirimnya selama ini. Apalagi, Dita juga sudah tahu semua pantangan Nisa akan daging sapi.
"Hmmm, enaknya..." hirup Nisa, pada makanan itu. Tak terasa sama sekali ada aroma daging disana. Hingga Ia pun dengan suka hati melahapnya. Tak lupa, memberikan pesan via wa pada Dita.
__ADS_1
"Terimakasih, atas makanannya..." ucap Nisa.
"Wait! Makanan? Makanan apa?" tanya Dita. Padahal, Ia tak mengirim apapun pada Nisa saat itu...