Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Gelagat Feby


__ADS_3

"Mas, mandilah. Nisa udah mandi nih. Tinggal tunggu Feby aja, antar bajunya."


"Ya, baiklah..." Abi meraih handuk yang Nisa berikan, lalu pergi ke kamar mandi kecil itu. Hanya beralaskan semen kasar, dan berdinding papan. Abi sedikit ragu, karena takut ada yang mengintip dari lubang yang ada.


Tak lama, pintu diketuk oleh seseorang. Nisa membukanya, dan menyapa Feby.


"Makasih, ya. Maaf, udah ngerepotin." ucap Nisa.


"Iya, sama-sama. Ngga papa lah, namanya juga ngelayanin Bos." balas Feby.


"Nisa?"


"Ya, sayang?" Nisa menoleh, dan Abi keluar hanya dengan menggunakan handuk sepinggang. Menampak kan dada nya yang bidang berotot dan bahunya yang lebar. Feby nyaris tak berkedip menatapnya.


"Eh, iya...." Nisa segera berdiri, dan berlari memberikan pakaian itu pada suaminya.


"Jangan keluaaaarr!" gemas Nisa, mendorong Abi kembali masuk ke kamar.


"Kau lama. Tubuhku nyaris kering karenanya."


"Iya, maaf... Nih," Nisa memberikan pakaian itu dan kembali keluar.


Obrolan santai mereka pun terjalin. Feby seolah larut dalam keadaan akrab itu, dan enggan pergi dari sana. Apalagi, sesekali Ia dapat menatap Abi dengan penampilan santai. Tapi tetap mempesona baginya.


"Makin ganteng begini," kagumnya.


"Dita mana?" tanya Abi, membuyarkan lamunan Feby.

__ADS_1


"Hah, Bu-Bu Dita?"


"Ya..." sambung Abi.


"Bu Dita ngga masuk, Pak. Tanpa kabar juga. Bingung juga saya. Semua jadi Mba Manda yang ambil alih. Mana banyak banget kerjaannya." jelas Feby.


"Kemana Dia?" gumam Abi, dengan mengusap dagu nya.


Ia terus berfikir, dimana Dita saat ini. Sedangkan Nisa, tampak mulai risih dengan cara Feby menatap suaminya. Terasa begitu intens.


"Feby, katanya di kantor sibuk?" potong Nisa.


"Eh, iya, Bu, maaf. Saya, mau balik ke kantor dulu. Kasihan yang lain." hingga akhirnya, Feby pamit dari sana.


Nisa pun mengantar Feby keluar, dan menatapnya pergi hingga tak terlihat lagi oleh matanya. Ia lalu menutup pintu rumahnya dengan rapat. Ia menghampiri suaminya, yang masih sibuk dengan Hpnya. Beberapa kali mencoba menelpon Dita, tapi tetap juga tak ada jawaban. Nisa akhirnya diam, meringkuk dan memeluk kakinya sendiri.


"Hey, kenapa?" Abi menoleh, dan mengusap rambutnya. Abi sebenarnya mengerti betul, akan Nisa yang masih begitu kehilangan. Tak ada pun yang dapat Ia katakan, hanya dengan sedikit kata untuk menghibur istrinya saat ini.


"Kau selalu menyemangatiku untuk ikhlas. Kenapa, jadi begini?"


"Memang, saat kita memberi nasehat pada orang lain, belum tentu kita sendiri kuat untuk menjalaninya."


"Kalau begitu, aku yang menjadi penasehatmu. Bukan kah begitu?" Abi sudah mulai bisa menggoda, apalagi senyumnya bisa saja dengan mudah meluluhkan hati Nisa.


"Maaf, aku belum bisa ke makam."


"Iya, Nisa ngerti."

__ADS_1


"Aku hanya ingin minta maaf."


"Untuk?"


"Telah mencoba, ingin memanfaatkan Nenekmu."


Nisa menatap kesungguhan di wajah Abi. Ia mengangguk, seolah mewakili Nenek untuk memaafkannya.


"Nisa juga mewakili Nenek, mau minta maaf. Untuk...." Nisa memanyunkan bibirnya, menunjuk  dahi Abi yang dulu sempat terluka.


Abi terbelalak, "Jadi, kau sebenarnya tahu?"


"He'em," angguk Nisa dengan polosnya.


"Dan kau diam saja, mengobati luka itu? Haish, dasar!"


"Ya, setidaknya Nisa mau ngobatin. Daripada Nisa lari? Lagian, kenapa harus Nisa?"


"Tak perlu bertanya, jika kau tahu jawabannya!"


"Tapi Nisa pengen tahu," rengek Nisa.


"Malas...."


"Massss," gelendot manja Nisa, di lengan suaminya. "Pengen tahu,"


Abi menatap lekat pada Nisa. Wanita itu mulai tersenyum lebar dengan tatapan yang diberikan. Meski masih sedih, tapi semua rasa terasa imbang dengan bahagianya.

__ADS_1


Pria itu mulai mendekat, semakin lama semakin intens. Nisa mulai memajukan bibir dengan memejamkan matanya. Namun, rupanya sasaran Abi bukan bibir, tapi pipi bakpau Nisa yang menggemaskan.


"Eeeeerrrrghhh!" geram Nisa, ketika Abi dengan gemas menggigit pipinya dengan bibir yang manis itu.


__ADS_2