Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Hari pertama jadi Pasutri


__ADS_3

Uhuuuuk! Uhuuuukkk!


Abi seketika terbatuk lagi, wajahnya pun langsung tampak begitu gugup.


Bugh! Nisa spontan menepuk bahu Abi dengan tatapan kesalnya."Nyipraat!"


"So-sorry. Aku, hanya kaget saja." jawab Abi, "Apa-apaan, Mama bertanya seperti itu pada Nisa? Ngga sopan." gerutu Abi dalam hati.


"Udah, Nisa mau mandi. Mau keramas, biar wangi."


"Ehmmm, iya. Aku tunggu dibawah," balas Abi, kemudian melangkahkan kakinya pergi dari kamar itu.


"Pagi, Ma," sapa Abi menuruni beberapa anak tangga yang berjumlah banyak itu.


"Pagi, sayang. Bagaimana malam mu?"


"Mama, kenapa nanya itu juga ke Nisa? Itu ngga boleh, privasi Abi sama dia." tegasnya, mengambil sarapannya sendiri. Abi terbiasa sarapan dengan nasi dan lauknya, itu wajib, karena Ia memiliki magh kronis. Apalagi, dengan sakit yang Ia derita dan bisa kambuh kapan pun tak kenal waktu.


"Mama cuma nanya, emang salah?" Mama sofi langsung lesu dan tampak tak lagi bergairah dengan makanannya. Melipat bibirnya seperti anak kecil yang tengah ngambek hanya karena tak dibelikan mainan Papa nya.

__ADS_1


Abi menatapnya tajam, memperhatikan dengan begitu dekat hingga Sang Mama menyadari itu.


"Mama cuma pengen cepet dapet cucu lah! Emang salah?"


"Abi baru menikah. Mama jangan terlalu banyak menuntut, Ma. Kasihan Nisa. Dia, masih harus mengurus neneknya di Rumah sakit."


"Hah?" Mama sofi langsung melotot dan mendekatkan wajah pada putranya.


"Ya, nenek Nisa di Rumah sakit. Maaf, Abi lupa bilang. Mama tanya sendiri nanti, untuk lebih jelasnya."


Ucapan Abi terhenti, ketika Nisa turun menyusul keduanya. Masih mengenakan celana pendek Abi, dan kaos oblong oversize nya. Mama Sofi beralih menatapnya, matanya penuh rasa bersalah dan sesekali tertunduk malu.


" Mama kemanain, baju Nisa?" tanya Abi, yang fokus dengan suapannya.


Nisa duduk tepat di sebelah Abi, dan Mama sofi melayani nya dengan baik. Mengambilkan nasi dan aneka sayuran di piring itu. Serta, semur daging yang memang begitu menggugah selera.


"Ma, Nisa ngga makan daging sapi."


"Kenapa? Ngga doyan?"

__ADS_1


"Nisa... Alergi. Udah, pakai sayuran aja, ngga papa. Nisa udah biasa, makan tanpa lauk. Bahkan, kadang cuma pakai air garem."


Abi langsung menghentikan sarapannya. Ia dengan cepat meminum air putih untuk melancarkan makanannya tertelan. Tampak Mama Sofi, langsung menatapnya dengan begitu sedih, bahkan nyaris menangis.


" Nisa, Mama gorengin telur ya, Nak? Atau, Bibik aja. Biiiik, bibik..."


"Ma, ngga usah. Udah, ini aja." potong Nisa, lalu memulai sarapannya dengan begitu nikmat. Meski, hanya dengan sayur kol dan wortel yang tersedia disana. Untungnya, ada tempe mendoan dan sambal yang mempernikmat hidangan mereka.


"Apalagi alergimu? Berikan daftar nya pada Mama atau Bibik. Jadi, mereka akan memasak menu lain untukmu," ucap Abi. Yang meski dingin, tapi mulai menampak kan sisi ramahnya.


Tentu saja. Biar bagaimanapun, Nisa istri sahnya. Dan akan selalu ada dalam tanggung jawabnya. Dari sandang, pangan, dan semua yang ada dalam diri Nisa. Ketika Abi sudah berucap, maka pantang untuk Ia ingkari.


"Aku berangkat dulu. Kau baik-baik dirumah."


"Mas, boleh ke..."


"Hari ini, masih akan datang beberapa orang. Mereka ingin menyapa dan mengenalmu."


"Iya," angguk Nisa. Wajahnya yang tadi cerah, seketika mendung kembali. Tapi, tetap berusaha tersenyum untuk Mama sofi dan suaminya.

__ADS_1


Nisa pun meraih tangan Abi, dan menciumnya. Disambut dengan Abi, yang begitu hangat mengusap rambutnya.


"Abi....." panggil sang Mama, mengisyaratkan agar Ia mengecup kening sang istri.


__ADS_2