Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Aku pria dengan depresi.


__ADS_3

"Bi, kamu mau lupain Aku, Bi?"


Suara itu kembali berbisik di telinga Abi, ketika matanya mulai terpejam dan sendirian. Tangan nya dengan lembut menelusup ke pinggang Abi, dan lama-lama memeluknya dengan begitu erat. Abi mulai gelisah lagi, tubuhnya kembali gemetar dengan keringat dingin di dahinya. Irama nafasnya begitu cepat. Berusaha menepis semua bayangan yang terasa amat nyata itu.


"Tidak, Re. Tidak! Aku tak akan pernah bisa melupakan kamu, Re. Maaf kan aku." ucapnya lirih, dengan nafas yang tersengal.


"Lalu, kenapa dia disini, Bi? Di begitu dekat denganmu. Dia akan menggantikan aku?" bisiknya lagi, dengan lembut begitu dekat ditelinga abi. Hembusan nafasnya, terasa begitj nyata membuat sekujur tubuh Abi merinding geli.


"Jangankan mencari penggantimu. Melupakan mu saja, aku tak sanggup, Re."


"Kau bohong, Abi!" tangan itu naik, mencengkram tepat di leher Abi hingga membuat nya tersentak dan sesak. Abi hanya bisa diam, dengan air matanya yang kembali jatuh tanpa sadar, dan dengan nafas yang semakin terbatas.


"Aku, tak pernah melupakan kamu, Re." isak Abi, tetap terpejam dengan kamar yang gelap.


Nisa masih belum dapat memejamkan matanya. Butuh beberapa hari agar Ia terbiasa dengan suasana baru di kamarnya itu. Dalam hening, Ia mendengar suara dari kamar sang calon suami. Abi merintih, dan menangis begitu perih. Nisa pun dapat merasakan rasa sakitnya kala itu.

__ADS_1


"Mas Abi, kenapa?" Nisa membuka selimut, dan bangun dengan mengikat rambutnya. Ia segera keluar menuju kamar Abi.


"Pintunya di tutup. Apa boleh, kalau aku masuk? Takut ada salah faham nantinya." ragu Nisa. Namun, Abi terdengar semakin menderita di dalam sana. Nisa pun semakin tak tega, hingga akhirnya nekat membuka pintu yang tak terkunci itu.


"Mas Abi?" panggilnya. Hanya lampu tidur yang menyala, tapi Nisa masih dapat melihat dengan jelas disana. Abi meringkuk dan menangis, matanya terpejam seolah begitu takut melihat sesuatu.


"Mas Abi. Mas kenapa?" Nisa mendekat, berusaha menyadarkan Abi dari halusinasinya. "Mas, ini Nisa." bisiknya lembut.


Abi pun perlahan membuka matanya. Ia langsung menoleh, dan menatap Nisa dengan sedikit terkejut. Ia pun mengusap air matanya.


"Mas kenapa? Malam-malam begini kok nangis? Ada sesuatu?"


"Kau mendengarnya?" tatap Abi tajam. Nisa seolah tak merasa aneh, atau bahkan takut dengan nya yang seperti itu.


"Gimana ngga denger? Nisa kan di sebelah. Kehalang tembok doang," Nisa memberikan segelas air yang ada di nakas untuk Abi. Abi pun meminumnya, meski tak terlalu banyak.

__ADS_1


"Ambilkan obatku, aku lupa meminumnya. Aku selalu begini, jika tidur tanpa bantuan obat itu." pinta Abi, dengan menunjuk laci nakasnya.


Nisa menurut. Membuka laci dan mencari botol obat itu. Hanya satu, tak ada obat yang lain. Dan Nisa tahu, itu obat apa.


" Antri Depresan?" lirihnya.


" Nisa, mana?" panggil Abi.


Nisa dengan ragu melangkahkan kakinya pada Abi. Mengambil satu butir obat itu dan memberikannya untuk segera Ia minum.


"Sejak kapan, Mas Abi minum obat ini?" tanya Nisa, sedikit canggung. Apalagi, Abi yang kembali menatapnya tajam.


"Kau tahu, itu obat apa?"


"Ya, Nisa tahu. Biasanya di pakai untuk...."

__ADS_1


"Ya, aku depresi. Sudah Lima tahun jiwaku  terjebak dalam masa lalu. Sebenarnya jasadku sudah mati sejak hari itu. Hanya saja, jasadku tak dikubur di dalam tanah, melainkan terkubur di dalam rasa trauma yang tak kunjung punah." jawab Abi, kembali menutupi tubunya dengan selimut yang tebal.


__ADS_2