
Keduanya baru saja membersihkan diri di kamar mandi. Nisa memakai kimononya, tengah mengoles skincare di pipinya yang mulus itu. Hingga datang lah Abi, hanya dengan handuk yang melilit tubuhnya.
"Kau tak ikut, hari ini?" peluk Abi dari belakang.
Meski tatapan dan raut wajahnya belum berubah, tapi hangatnya sudah mulai terasa. Nisa membalik badan, meraba pundak Abi yang begitu indah terpampang dimatanya itu.
"Nisa, ngapain dirumah?"
"Menunggu ku pulang."
"Ih, bosen lah. Ikuuut," Nisa mengalungkan lengan ke leher Abi.
Dengan sedikit mengulurkan senyumnya, Abi mencolek hidung wanita itu. (Udah wanita, ya... 🤣🤣)
"Bersiaplah," ucapnya, lalu meninggalkan sang istri yang masih sibuk dengan skincarenya
Untungnya, Nisa memang sangat terampil. Ia telah mempersiapkan seragam Abi, di ranjang mereka. Abi tinggal memakai dan merapikannya. Menunggu Nisa untuk mulai mengatur rambutnya. Ia bahkan tak pernah mengizinkan siapapun, untuk menyentuh rambut dan kepalanya. Hanya Mama, dan Rere.
"Mas, Nisa pakai baju apa?"
"Apa saja, yang ada. Jangan terlalu terbuka." jawab Abi, tanpa menoleh karena sibuk dengan kancing lengannya.
Nisa hanya memanyunkan bibir. Ia mengambil sebuah dress pilihannya sendiri, dan segera memakainya.
"Ini?" panggilnya pada Abi. Pria itu pun menoleh, terbelalak menatap istrinya dengan dres berbelahan dada rendah, lengan sejari, dan begitu pendek. Mulutnya pun ternganga, seolah tak mampu lagi berkata apa-apa.
__ADS_1
"Apa-apaan?" tanya nya, dengan mata yang menatap tajam.
"Larangan adalah perintah. Nisa minta pendapat, tadi."
"Haish.... Arrrgh!" Abi mengecap kesal. Ia lalu menghampiri Nisa, lalu memilihkan sebuah dres untuknya. Lebih tertutup, meski diatas lutut. Ia pun tak segan memakai kan nya di tubuh sang istri.
"Sudah..." ucapnya, dengan membereskan pakaian yang tadi. Nisa hanya diam, menyipitkan mata menatap sang suami.
"Tak suka?" lirik Abi, tajam. Nisa hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Segera turun, kita sarapan." Gandengnya pada sang istri. Nisa langsung meraih tas nya, mengikuti gandengan tangan suaminya untuk turun.
"Hey sayang, kok udah rapi?" sapa Mama, pada kedua anak kesayangannya itu.
"Nisa, mau diajak lagi." ucap Nisa yang duduk di kursinya.
"Kau yang minta ikut," lirik tajam Abi padanya. Nisa hanya tertunduk, lalu membalas tatapan itu dengan memanyunkan bibirnya.
"Abi... Ngga papa lah, kalau Nisa mau ikut. Dia bosen dirumah," tegur sang Mama.
Abi mengerutkan dahinya, memundurkan kepala dan menatap sang istri. Tampak Nisa begitu senang, ketika sang Mama membelanya.
"Ish, dasar..." gerutu Abi, menatap Nisa begitu sinis.
***
__ADS_1
"Dita, apa jadwal hari ini?"
"Jadwalnya, tak terlalu banyak. Beberapa pertemuan pun, diadakan di kantor kita. Aku sedang dijalan, untuk mempersiapkan semuanya."
"Baiklah. Tolong, beli beberapa cemilan."
"Kau, ingin ngemil?"
"Tidak... Nisa," balas Abi, dengan menerima beberapa suapan yang diberikan istrinya.
"Baiklah, sampai ketemu di kantor..." balas Gadis itu.
Sebenarnya Ia sedikit canggung, apalagi setelah kejadian kemarin. Ia telah membuat Abi tampak begitu jengah padanya. Namun, Profesionalitas Abi memang pantas di acungi jempol. Saat Ia tak mencampur urusan pribadi dan urusan pekerjaan.
"Aku bukan hilang muka, Bi. Aku hanya sedih, ketika kau berani bersikap dingin padaku. Dan aku tak akan mundur dari sekretarismu, hanya karena ini. Rere sudah menitipkan mu padaku." ucap Dita, yang tengah fokus dengan jalanan yang ada didepan matanya.
"Ayo," ajak Abi.
"Berangkat?"
"Nisaaa...."
"Oh, iya, Maaf." ucap Nisa. Ia pun berdiri, mencium tangan sang Mama.
Keduanya lantas keluar, dan Abi dengan spontan memakaikan jasnya di bahu Nisa, untuk menutup bagian yang sedikit terbuka.
__ADS_1
"Makasih," ucap Nisa, tersipu malu karena perhatian kecil itu.
"Lihat, Bik. Rasanya begitu bahagia, hanya dengan melihat Abi melakukan itu pada istrinya," tatap sang Mama, dengan penuh rasa haru.