
Abi keluar setelah usai mandi. Nisa telah mempersiapkan semua seragamnya untuk pergi ke kantor, tapi kembali meringkuk di tempat tidur setelahnya.
"Nisa gimana?"
"Ingin ikut?"
"Pengen, tapi sakit... Nanti, Mas sama siapa berangkatnya?"
"Alex... Dia pulang hari ini, dan akan kemari sebentar lagi." Abi memakai kemejanya, dan Nisa harus kembali duduk untuk mengancingnya dengan baik. Bahkan duduk bersimpuh di ranjang, agar dapat meraih rambut Abi dan menyisirnya.
Nisa menyibakkan poni Abi, hingga memperlihatkan kembali jidatnya yang paripurna. Ia menepis tangan Abi, yang ingin kembali menurunkan poninya.
"Jangan, Ih!"
"Aku tak terbiasa seperti ini."
"Tapi Nisa suka. Awas loh, jangan diturunin." ancam Nisa. Entah, Dia memang begitu suka melihat Abi dengan mode seperti itu. Makin gagah, meski tatapan matanya semakin tampak tajam auranya.
Tuiiing! Abi mencolek hidung pesek Nisa. Entah gemas, atau hanya kehabisan kata-kata untuk bicara. Nisa hanya diam, dengan memasukkan kemeja dicelana Abi. Dan pria itu pun merespon dengan menghela nafasnya panjang.
"Ikat pinggangnya?" pinta Nisa. Dan Abi memberikannya agar segera terpasang dengan rapi.
"Sarapan sendiri, ya? Nisa males. Mager banget, rasanya."
Abi tak menjawab. Hanya menghubungi sang Mama agar mengantarkan sarapannya keatas.
"Mandilah, setidaknya kau tak berantakan. Aku menunggu Mama disini,"
__ADS_1
"Lah?"
"Hmmmm," balas Abi tenang. Ia menatap jam tangan, sembari mulai mengotak atik Hpnya.
"Kenapa diam? Mau ku mandikan?"
"Eh, engga... Engga, Nisa mandi sendiri. Bisa kok, Nisa kan kuat."
"Ya, baiklah..." balasnya lagi.
Nisa sadar dan sudah faham, ketika orang mengatakannya aneh. Tapi, kenapa Ia merasa jika Abi lebih aneh belakangan ini. Seolah tak mau lepas sedikitpun darinya.
Nisa segera mengguyur tubuhnya di kamar mandi. Tak lupa membasahi rambutnya agar tampak segar. Ia segera keluar setelah dirasa semua selesai. Dan benar saja, Abi masih menunggunya dengan santai di kamar, sembari mengunyah sarapannya.
Untung saja, pembalut sudah Ia pakai di dalam kamar mandi, tadi. Hingga tak perlu risih takut Abi melihat nya. Ia pun masih memakai kimono, dengan handuk melilit diatas kepalanya yang basah.
"Kau lihat aku disini, itu tandanya aku tak turun. Sini," Abi memanggilnya, dan memintanya duduk disebelah.
"Nisa belum pakai baju," seketika, Abi meyelesaikan sarapannya.
"Iya, iya. Nisa kesana," tukasnya, berjalan dengan malas menghampiri sang suami.
"Nisa yang dapet, kenapa Mas yang sensian? Jangan jangan, nanti Nisa yang hamil, Mas yang ngidam."
"Kau ingin hamil?"
"Gimana mau hamil, di sentuh aja engga..." Tukasnya. Seketika membuat Abi terdiam dan membulatkan matanya.
__ADS_1
"Hhhhh," tawanya, diujung bibirnya yang menggemaskan itu.
"Aku pergi," pamit Abi. Dengan memakai jasnya, dibantu Nisa. Ia pun segera meraih tangan Abi dan mengecupnya dengan hangat.
"Nanti Nisa keluar, ya?"
"Kemana?"
"Beli pembaluut, Ish!"
"Dengan Mama...."
"Iya, tahu. Bawel," kesalnya mulai terpancing, oleh ego suaminya.
Nisa menghela nafas panjang dan lega, setelah suaminya pergi. Bahkan, ketika melihatnya pergi bersama Alex menuju kantor mereka. Ia segera meraih piring kotor itu, dan turun kebawah untuk mencucinya.
" Mba Nisa, mau ngapain?" tanya Bik Nik.
"Mau... Cuci ini," tunjuk Nisa, pada piringnya.
"Ngga boleh. Balik kamar!"
"Bik, ini cuma beberapa biji loh, masa...."
"Ngga boleh! Nanti Bibik yang dimarahin Mas Abi. Meski hanya dengan lirikan matanya, tapi rasanya semua dunia berguncang. Bibik takut."
"Haish... Semua takut, cuma gara-gara lirikan matanya." cebik Nisa. Meski sebenarnya, Ia juga takut dengan lirikan mematikan itu.
__ADS_1