Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Manjanya Nisa,


__ADS_3

"Mas, Mama kapan pulang?" keluh Nisa, yang tampak begitu malas sore ini. Membereskan rumah, dan bahkan harus memasak makan malam untuk keduanya. Apalagi, kepalanya terasa pening saat ini.


"Mungkin lusa. Kenapa?" tanya Abi, yang fokus menatap laptopnya.


"Pusing," keluh Nisa, yang menghampiri Abi dan menggelendot di bahunya.


Abi segera meletakkan laptopnya di meja. Meraih wajah Nisa dan meletakkan punggung lengan di dahi sang istri, lalu membanding kan dengan dahinya sendiri.


"Kau, hangat. Mau es lagi? Akan ku belikan banyak-banyak," tawar Abi, dengan segala sindiran untuk istrinya itu.


"Masss, ini serius. Pusing, matanya berat, hidungnya perih."


Tukkkk! Abi kembali menyentil dahi Nisa. Namun, kali ini gadis itu hanya diam dan terkulai lemah di sofanya.


"Sudah ku bilang, berhenti minum es. Ngeyel!"


"Maaf," sesal Nisa. Matanya memang tampak sayu, dan hidungnya memerah. Beberapa kali menarik ingus dan mengeluarkannya dengan tisu.


Abi turun dari sofa, namun Nisa menahannya. "Aku mau cari obat untukmu."


"Laperrr," rengeknya.


Abi lantas meraih Hp, dan memberikan nya pada Nisa. Ia meminta Nisa agar memesan makan malam untuk mereka berdua via delivery order.

__ADS_1


"Jangan pesan Es. Boba, milkshake, jus, atau apa. Jika nekat, akan ku buang semuanya." ancam Abi dengan lirikan tajamnya.


"Iya," Nisa mulai membuka aplikasi, dan mengklik semua menu yang membuatnya selera makan.


"Sudah?" tanya Abi, yang datang dengan secangkir teh hangat dan obat flu di tangannya. "Minum,"


"Tapi belum makan,"


"Jarak makan siangmu dan sekarang, belum terlalu lama. Nanti malam, kau bisa minum lagi, sebelum tidur. Usai makan malam."


"Iya," angguk Nisa, meraih obat itu dan meminumnya. Ia kembali merebahkan diri di sofa itu, menemani Abi yang kembali pada laptopnya. Tak sungkan, Abi meraih kaki Nisa dan memijati nya sesekali.


Ia berusaha memejamkan mata, karena biasanya Ia akan tidur setelah minum obat. Namun tak bisa. Nisa terus saja menatap suaminya dengan segala kehangatan yang Ia berikan. Makin lama, Ia justru menitikan air mata di pipinya.


"Hey, kenapa? Aku terlalu kuat?" tatap Abi, melepaskan pijatannya.


Abi seketika diam, seolah tak ingin lagi mendengarkan curahan hati istrinya itu.


"Massss!"


"Hmmm?"


"Nisa kangen Nenek,"

__ADS_1


"Besok, jenguklah. Tapi aku tak ikut,"


Ya, Nisa sudah sangat terbiasa dengan jawaban itu. Tapi setidaknya, kali ini Abi mengizinkannya menjenguk.


"Ke kantornya, gimana?"


"Masih perduli denganku?" Abi mencengkram jari-jari Nisa, dan mengeretukan nya sekuat tenaga. Membuat gadis itu terpekik dengan begitu kuat.


Untung saja, tak ada orang lain disana. Hanya suara pengantar makanan yang datang.


"Permisi! Pesananan," panggilnya dari luar.


"Tuh, ambil..." ucap Abi..


"Sakiiit," Nisa tampak begitu manja. Entah memang sakit, atau Ia sengaja memanfaatkan momen berdua bersama suaminya.


Abi hanya melirik tajam, lalu berdiri menggantikan istrinya mengambil pesanan itu..


"Terimakasih," ucap Abi, dan pengantar makanan itu pun pergi.


Nisa dengan semangat langsung bangun, mengambil piring dan menyiapkan semua nya di meja makan. Abi hanya mengerenyitkan dahi, melihat meja yang begitu rapi dan disusun berbeda.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nisa bikin? Iya, pengen ala-ala makan malam berdua, gitu. Kan belum pernah. Ngga papa, ya? Sekaliiii, aja." pinta Nisa, dengan mengacungkan satu jarinya di depan Abi.


"Baiklah," jawab Abi, pasrah. Demi menghormati dan menjaga mood istrinya malam ini.


__ADS_2