
Bunyi perut Nisa kemrucuk tak karuan. Ia pun memegangi perut sembari melirik pada suaminya dengan penuh harap, agar Ia sedikit peka dalam hal ini.
"Lapar?"
"He'emh," angguk Nisa.
Abi membelok kan setirnya, menuju kesebuah tempat yang cukup mewah. Ia kemudian turun dan membuka pintu untuk sang istri. Lalu, menggandengnya masuk ke dalam.
"Selamat siang, Pak Abi..." Sapa seorang penjaga di pintu depan. Itu bukan resto milik Abi, tapi milik seorang client yang menggunakan jasanya perusahaannya untuk merancang gedung tersebut. Ia pun selalu disambut dengan istimewa, ketika datang.
"Wow, tempatnya," kagum Nisa, dengan terus menatap seisi restauran dengan bangunan yang luas dan megah itu. Ia pun menatap dirinya sendiri, ketika semua orang yang keluar masuk, rata-rata mengenakan pakaian rapi nan mewah. Tak seperti dirinya, yang cuek dan kucel jika dibandingkan mereka.
Nisa pun menyuruk, berjalan tepat dibelakang punggung Abi untuk menutupi tubuhnya.
"Aaaakhhh!" lirih Nisa, ketika kepalanya terbentur punggung Abi ketika berhenti mendadak.
"Kau kenapa?" toleh Abi padanya. Hanya menoleh, dan tak langsung berbalik memberi pertolongan pertama.
__ADS_1
"Kejedot... Masa ngga kerasa, kepala Nisa kepentok disana." tunjuk Nisa pada punggung itu.
Abi menarik tubuh Nisa, dan sekarang Nisa ada di depan Abi meski membelakanginya. Abi memegang bahunya agar wanita itu diam, sembari menunggu lift agar terbuka.
"Kemana sih, mau makan aja ribet? Mending ke lesehan aja, pasti udah lahap," keluh Nisa, yang agaknya sudah terlalu lapar. Abi hanya diam, dan semakin kuat mencengkram bahu Nisa.
Ting! Pintu lift terbuka dengan beberapa orang didalamnya. Abi berjalan dengan tangan masih memegangi Nisa dan masuk ke dalam.
"Rinbet, aaaah!" keluh Nisa. Namun, ibarat ucapan Nisa, ketika larangan adalah perintah. Abi justru mengalungkan tangan nya ke leher Nisa, sepeeti ingin meminta gendong di belakang.
"Huuuffzzzz!" Nisa menghela nafas kasar, pasrah dengan segala keadaan yang menimpanya. Apalagi semua orang menatap mereka saat ini.
"Yakkkz! Rasanya aku salah kostum," gumam Nisa.
Abi menggandeng nya lagi dan duduk disebuah kursi, duduk berdampingan, bukan berhadapan. Ia pun segera memesan makanan, ketika seorang pelayan datang dengan buku menunya.
Kaki Nisa terus bergoyang, menikmati alunan lagu yang diputar disana. Sedangkan Abi sibuk dengan Hpnya. Mungkin Dita tengah memberinya laporan. Nisa tak cemburu atau bertanya. Tapi Ia menyandarkan kepalanya tepat di bahu Abi. Tangan Abi pun menyambut dan mengusap rambutnya dengan lembut.
__ADS_1
"Siang, Bu Dita," sapa Nisa dengan ramah. Dibalas anggukan Dita yang begitu berat dan terasa tak ikhlas.
"Dita, nanti ku lanjutkan ketika dirumah. Karena ada beberapa hal penting yang harus kita bahas."
"Baik, Pak." angguk Dita, dan Abi mematikan panggilannya. Ia pun seketika mengambil Hp Nisa, dan mulai memeriksa nya satu persatu.
Nisa hanya pasrah, dan kembali diam dalam pelukan suaminya.
"Adhim, masih menghubungi?"
"Ya iyalah, kan Dia informan Nisa disana. Dia yang terpercaya. Udah ganteng, rajin, sopan, telaten ngurus pasien. Pantes lah, jadi perawat terbaik," puji Nisa, pada pria itu.
Abi menunduk, menatap Nisa dengan tajam. Hingga akhirnya satu sentilan jari jemari Abi mendarat di keningnya.
"Aaaaarrrrrghhh!" erang Nisa, kesakitan. Ia beranjak dari dekap nyaman itu, dan menoleh menatap Abi dengan begitu sinis.
"Apa?" tantang Abi.
__ADS_1
"JAHAT!"