
Debaran di jantung Abi serasa tak terkontrol. Ketenangan nya terganggu lagi, tapi ini bukan karena traumanya. Melainkan, ada hal lain yang mengganggu fikirannya. Siapa lagi, kalau bukan Nisa. Sang istri yang selalu ada saja tingkahnya.
"Mas, kok lama?" ketuk Nisa dari luar, yang menunggu gilirannya untuk mandi.
"Ya, sebentar." Abi pun membilas tubuhnya untuk yang terakhir, lalu keluar dengan handuk kimono nya.
"Lama banget," keluh Nisa. Lalu menyerobot masuk ke dalam kamar mandi.
Ditengah aktifitasnya mengganti pakaian. Dita yang menelpon. Ia mempertanyakan keberangkatan Abi ke pesta itu.
"Ya, sebentar lagi. Kenapa?"
"Tak apa. Biasanya, kita sudah berangkat. Sudah mulai gelap," ucap Dita.
"Ada Alex. Dia, yang akan menjadi supir ku dan Nisa." jawabnya santai. Dan kebetulan, Nisa baru saja keluar dari kamar mandi.
Nisa berjalan santai dan mulai memakai gaunnya. Namun, begitu sulit untuk meraih resleting di bagian belakang tubuhnya. Abi dengan segala refleksnya, menghampiri sang istri dan berdiri di belakangnya.
"Apa salah nya memanggil, jika tak bisa."
"Maaf, kirain sibuk. Itu, lagi telepon." tunjuk Nisa dengan bibirnya.
Abi menghimpitkan Hp antara bahu dan telinganya. Tetap mengobrol dengan Dita, dan tangan meraih resleting gaun Nisa.
"Aakh! Hati-hati,"
__ADS_1
"Aku tak menyakitimu. Kenapa teriak?"
"Engga, refleks aja. Takut kejepit," jawab Nisa, kikuk.
"Tak perlu takut terjepit. Baju mu saja kebesaran,"
"Iya tahu, Nisa mungil. Makanya, bikin gemuk...." celetuknya.
Abi hanya mengerutkan dahi, tanpa mengatakan sepatah katapun untuk mmebalasnya.
"Abi, aku sudah..... Ooops, maaf."
"Alex?" lirih dan tatap Abi. "Lex, ini tak seperti yang kau fikirkan. Aku..."
"Aku menunggu di bawah!" pekik nya dari luar.
"Haish," gerutu Abi. Bahkan, Ia lupa jika Dita masih menelponnya. Ia pun segera mematikan telepon itu.
"Kenapa tertawa?" tanya Abi, melihat Nisa yang cekikikan dengan segala aktifitasnya.
"Ketawa, ngga boleh?" tanya nya, menggigit bibir bawah yang masih pucat.
"Kau menggodaku?" tatap Abi.
"Apakah, mulai tergoda?" Nisa mengalungkan lengan di leher Abi. Namun, Abi langsung menyingkirkan tangan itu darinya.
__ADS_1
"Aku menunggu di depan... Jangan terlalu lama," ucapnya, lalu pergi tanpa dasi dan jasnya.
Nisa hanya kembali tersenyum. Lalu mulai untuk merias diri. Meski tak terlalu mahir, tapi Ia termasuk bisa memakai alat make up yang tersedia. Dari siapa lagi, jika bukan Mama mertua yang begitu menyayanginya. Dan lagi, Ia merias wajah dan rambut nya persis dengan mimpinya barusan.
"Uuuulala, cantiknye. Meski aku sendiri yang memuji diriku."
Ia pun memberikan polesan terakhir bersama parfum ditubuhnya. Lalu turun menghampiri mereka dibawah.
"Ini pesta pertama, kau membawa istrimu. Jadi, jangan biarkan dia sendirian. Temani, jangan sampai merasa sepi ditengah keramaian. Kau tahu, circle mereka bagaimana." tutur Alex, dengan menyulut rokoknya.
"Bukankah, harusnya dia belajar berkembang?"
"No, Abi. Lihat kembali latar belakang Nisa. Bukan lah hal yang dapat mereka terima dengan mudah. Lebih lagi...." ucapan Alex terpotong. Gendang telinganya yang begitu sensitif, mendengar suara langkah kaki yang turun dengan begitu anggun. Ia pun menoleh, menatapnya dengan mulut ternganga.
"Apa?" tanya Abi. Lalu mengikuti Alex untuk menoleh kebelakang..
"Itu istriku," ucap Abi.
"Ya, Aku tahu." balas Alex, masih dengan tatapan yang sama.
Abi pun beralih, menatap tajam pada sahabatnya itu. Mulut Alex langsung terkatup, tatkala melihat tatapan Abi yang begitu tajam dan mengerikan. Serasa tatapan itu bagai busur panah yang akan langsung menyerang jantungnya.
"Puas?"
"Puas... Eh, tidak. Eh.... Maaf," ucap Alex dengan segala rasa gugup dan takutnya.
__ADS_1