
Nisa memakaikan jas Abi usai sarapan mereka. Bersiap pergi kekantor dan Nisa kembali duduk di kursi setirnya setelah membukakan pintu untuk sang suami.
"Siap?"
"Kau akan mengebut?'
'Engga...."
"Ya, aku siap." jawab Abi.
Perjalanan dimulai, dengan alunan musik mengiringi perjalanan mereka. Abi tak pernah melakukan itu. Ia suka dengan suasana yang tenang dan sunyi. Meski, kadang itu mejadi hal yang menakutkan baginya.
Mobil terparkir, tepat ketika Dita pun tiba disebelah keduanya. Ia segera membukakan pintu untuk Abi, dan menyambutnya keluar.
"Bagaimana tanganmu?" tanya nya, begitu khawatir.
"Tak apa. Hanya masih harus di bungkus seperti ini. Menghindari hal yang tak diinginkan. Tapi, sudah mendingan, asal tak tersenggol." jawab Abi.
"Mas, ayok... Nisa kebelet pipiis," ajak nya terburu-buru. Karena, sejak sebelum menikah hingga sekarang, Abi selalu menggenggam tangan Nisa ketika masuk ke dalam kantor itu. Hingga Nisa pun sudan begitu terbiasa dengan itu semua.
Ia segera menyeret Abi masuk, meninggalkan Dita yang sebenarnya masih menyimpan banyak cerita pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kenapa menarik ku? Tak sopan."
Semua orang menatap kekonyolan mereka. Nisa membuat Abi, seolah kehilangan kewibawaannya pagi ini. Bagaimana tidak? Seorang bos besar diseret seperti itu oleh istrinya sendiri. Karena yang selalu mereka lihat, adalah ketika Abi masuk dan melangkah dengan begitu penuh wibawa ke dalam kantornya..
Keduanya masuk ke dalam ruangan Abi. Saat itulah, Nisa melepas genggaman tangannya. Abi hanya bisa menatapnya dengan mengerutkan dahi, membiarkan Nisa pergi darinya.
"Hhhh, istriku..." ucapnya, dengan menghenduskan nafasnya panjang.
Dita berjalan santai. Hatinya begitu tak nyaman, melihat perlakuan Nisa pada suaminya itu. Seenaknya, seperti tak tahu tata krama. Apalagi, Abi adalah Bos di perusahaan ini. Yang pasti, semua orang akan selalu melihat gerak geriknya.
"Kita harus bicara, Bi." gumamnya. Ia masih harus fokus dengan pekerjaannya, hingga tiba waktunya masuk untuk melapor semua jadwal.
"Rapat di hotel Pandawa, pertemuan dan perjamuan di cafe Wins. Itu saja, jadwal kita diluar. Saya akan temani, ucap Dita, sembari melirik sinis pada Nisa yang tengah memainkan Hpnya di sebelah sang suami.
"Saya?" tunjuk Nisa, pada dirinya sendiri.
"Sepertinya, Anda harus melatih kepribadian. Supaya nanti tak bertindak sesuka hati pada Pak Abi."
"Nisa, sesuka hati? M-maksudnya?" Nisa meminta penjelasan, pada mantan atasannya itu.
Dita pun mengatakan dengan jujur, atas ketidaknyamanan yang Ia lihat pagi tadi. Ketika Nisa menyeret suaminya masuk kedalam. Apalagi, kondisi tangan Abi yang masih harus dijaga dengan intensif dari segala hal yang bisa kembali membuatnya cidera.
__ADS_1
Nisa hanya mendunduk kan kepalanya. Ya, semua omelan Dita agaknya benar. Ia masih sangat urakan, bagi Abi yang begitu tenang.
"Aku bagaikan gelombang ombak dipantai, sedangkan kamu air danau yang begitu tenang," tatap Nisa pada suaminya. "Bukan hanya tenang, tapi membeku," ledeknya dalam hati.
"Tak perlu terlalu mengekangnya. Ia akan terbiasa, seiring berjalanya waktu." bela Abi, pada sang istri.
"Tapi Abi. Waktunya akan lama. Sedangkan Nisa, sudah masuk penilaian, bahkan sejak menjadi istrimu." tegasnya.
Abi hanya diam, tak lagi menjawab segala ucapan itu. Dita pun mencebik kesal, seraya menghentakkan kakinya untuk keluar.
Nisa menggerakkan kursinya. Mendekat, dan semakin dekat pada suaminya. Ia memiringkan kepala, agar dapat menatap wajah suaminya yang tampan. Aplagi, dengan jidatnya yang paripurna, terbuka lebar seluas samudera.
Biasanya dibuat berponi. Tapi Nisa memberanikan untuk membuka poni itu dari nya.
"Ada apa?" tanya Abi. Lagi-lagi dengan segala keanehan Nisa. Mendongakkan kepala dan menatapnya dengan mengedipkan mata genitnya.
"Terimakasih, sudah membela istrimu yang imut ini." ucapnya manja.
Abi menatapnya dingin. Namun, Nisa justru memberikan finger kiss untuk suamiya. Bahkan, sengaja menempelkan di bibir Abi yang menawan.
__ADS_1
Yang ngga suka visualnya, sekip aja. Atau bisa bayangin dengan visual sendiri. 🙏🙏