Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Reuni membawa huru hara.


__ADS_3

Hari menjelang malam. Nisa masih mondar mandir kebingungan menentukan pilihannya. Ia sebenarnya tak ingin pergi, jika bukan karena Maya memintanya. Ia lebih suka dirumah, dan menunggu suaminya pulang dan menyambutnya dengan begitu manis.


"Haish, mana dibolehin lagi, sama Mas. Ngga papa deh, sesekali keluar tanpa Mas Abi. Lagian, dia ngawasin." gumam Nisa. Ia pun segera memilih sebuah dress untuk menghandiri acara itu. Ia memilih yang sederhana, karena tak ingin tampak mencolok dan jadi pusat perhatian orang lain.


Sebuah dress abu-abu, dengan rambut terurai dan bandana sebagai hiasannya. Tak lupa, memakai sepatu kets agar lebih santai. Ia pun memesan taxi, dan tinggal menunggunya datang untuk pergi. Tak lupa, meminta izin pada sang mama meski mereka telah berpisah rumah.


"Nisa sendiri?"


"Ya, Ma. Mas sibuk banget, sama Mas Alex. Ngga papa lah, Nisa usahain ngga kemaleman."


"Bawa mobil sendiri?"


"Naik taxi, Ma... Itu, udah dateng," jawab Nisa, yang kemudian berjalan sedikit cepat menghampiri taxinya.


"Hati-hati ya, sayang."


"Ya, Ma..." Nisa lantas mematikan Hpnya. Ia meminta pak supir membawanya ke sebuah cafe di pusat kota, karena Maya memberinya denah kesana.


Perjalanan lengang. Nisa terus mengobrol dengan Maya via Wa. Tersenyum sendiri, ketika tahu jika Maya benar-benar menunggunya. Meski malas, membayangkan David juga ada disana. Meski beda jurusan, tapi David kabarnya berpacaran dengan salah satu mantan teman sekelasnya.


"Haish, males banget aku tuh." Nisa mendengus nafas kesal, hanya dengan membayangkan wajah dekil pria itu.

__ADS_1


"Sampai, Non." ucap sang supir padanya. Nisa pun segera turun, dan membayar taxinya. Ia berjalan dengan santai, di sambut beberapa pelayan disana. Rupanya, itu adalah cafe langganan nya bersama Abi. Begitu juga dengan Alex dan Dita.


"Bu Nisa, sendirian?"


"Iya, Mas. Eh iya, ruangan reuni anak akper, dimana ya?"


"Oh, ada... Mari saya antar," tawarnya dengan ramah. Tapi, Nisa menolaknya, dan lebih memilih datang sendiri kesana. Hanya tak ingin terlihat mencolok di depan yang lain.


"Nah, ini dia..." girang Nisa, menemukan tempat itu. Ia datang menghampiri merrka. Yang Ia cari pertama kali adalah Maya, teman baiknya. Karena Ia lah yang mengundang dan memaksanya untuk datang.


"Hey, Nisa... Makin cantik aja, kamu tuh..." sapa Maya dengan begitu ramah. Memeluk, dan merangkul Nisa untuk duduk di sebelahnya.


Semua teman di sana pun begitu ramah padanya, tak ada yang membedakan antara satu sama lain, meski Nisa tak lulus diantara mereka. Salut dan bangga, itulah yang Nisa rasakan saat ini.


"Loh, kamu ikut? Kamu emangnya alumni, kamu kan ngga lulus?" tanya David, dengan wajahnya yang tengil. Maya berusaha menengahinya, agar suasana itu tak menjadi tegang karena ulah pria somplak itu.


Mereka pun meninggalkan debat, apalagi memang Nisa tak pernah meladeni segala ucapan pria itu. Ia hanya tak ingin, membuat Maya sungkan pada yang lain. Padahal Ia telah berusaha menghormatinya sebagai salah satu angkatan mereka.


Mereka berkacap, mengulang kembali masa-masa lalu yang menggemaskan. Nisa ikut tertawa dengan lepas disana, ikut larut dalam kebahagiaan mereka. Hingga saling bahas pekerjaan masing-masing. Ada yang jadi kepala perawat, PNS, dan berbagai macam profesi yang membanggakan.


"Kamu, Nisa? Kerja apa sekarang?" tanya Bima, salah seorang alumnus.

__ADS_1


"Aku? Aku sekarang ngga kerja. Ngga boleh sama...."


"Lah, yang kemaren? Bukan nya di supermarket itu? Jadi sales kan?" sahut David, dengan segala cibirannya.


"Hah?" Nisa memicingkan mata.


"Udah, ngga usah bohong dan mengelak. Katamu iya, kerja disana. Terus suami mu, kerja apa? Satpam disana? Kayaknya iya. Badan tinggi tegap begitu, kan, biasanya satpam." ledek David, dengan begitu bangganya.


"Terserah kamu lah, vid." pasrah Nisa, begitu malas meladeninya.


"Emang, kamu kerja apa, Vid?" tanya Maya. Mulai jengah dengan ulah pria itu.


"Aku? Aku manager dong," balasnya, dengan membusungkan dada begitu bangga. Apalagi pacarnya, si Nada. Tersenyum tak kalah bangganya pada sang calon suami.


"Wuih, hebat, ya? Udah jadi manager." puji Nisa.


"Iya lah, hebat. Yang jadi kepala cabang, itu Om aku. Jadi gampang masuknya,"


Nisa sampai tersedak, mendengar penuturan bodoh itu. Maya tak kalah geli, langsung memberi segelas minuman padanya.


"Kamu tuh," tepuk Maya, di bahu Nisa agar batuknya hilang.

__ADS_1


Sontak, hal itu membuat Nada tersinggung berat. Ia pun melotot pada Nisa, dan memasang wajah sinisnya. Bersedekap dengan dengusan nafas yang begitu kesal.


"Maksudmu apa, ketawa begitu? Ngetawain David? Kenapa, kamu iri sama dia?" sinis nya pada Nisa.


__ADS_2