
"Aaaakkhhh!" Abi mundur dan membungkuk pergi dari Nisa, mencengkram kepalanya dengan kuat.
"Mas, kenapa?" Nisa menatapnya takut. Namun, begitu kasihan karena Abi tampak begitu tersiksa. "Mas?" Nisa berusaha menghampiri, tapi Abi mencegahnya.
"Nisa, tolong obatku. Mama... Tak boleh melihatku seperti ini." mohon Abi dengan sangat.
Nisa pun bergegas mengambil obat dari nakas. Dikeluarkannya sebutir, lalu membantu Abi menelannya. Abi langsung terduduk lemah, di lantai dengan nafas yang terhembus berat. Nisa meraihnya, membawa Abi memejamkan matanya di atas pangkuannya.
"Maaf kan aku, Re... Maaf," Abi memeluk lengan Nisa dan beberapa kali mengusap kan wajahnya disana.
"Siapa Rere? Apa kekasihnya, yang telah meninggal itu?" batin Nisa penuh dengan sejuta tanya. Namun, tak mungkin Ia tanyakan saat itu. Nisa hanya diam, membelai rambut Abi dan membawanya pindah ke tempat tidur.
Biasanya, Abi akan langsung tidur ketika meminum obatnya. Tapi, ini berbeda. Abi masih sadar meski matanya setengah terpejam. Nisa pun tak Ia perbolehkan pergi dari sisi nya sama sekali.
"Nisa mau ambilin makan malam. Mas belum makan,"
"Tidak, disini saja. Aku... Aku tak ingin kau pergi. Tidak...." gelengnya berkali-kali.
"Baiklah..." ucap Nisa, lalu berbaring di dekat Abi. Bahkan, Abi menariknya agar semakin dekat. Hal itu membuat jantung nya kian bergemuruh dengan begitu hebatnya.
__ADS_1
"Kamu memeluk aku. Tapi, bayanganmu siapa?"
*
"Mereka mana? Katanya Abi laper, tapi kok ngga turun juga?" tanya Nama Sofi, yang usai menyantap makan malamnya meski telat.
"Mau dipanggilkan?" tawar Bik Nik.
"Udah, ngga usah. Biar saya aja. Lanjutin makan nya," Mama Sofi lantas berdiri, berjalan naik menuju kamar Abi. Suasananya begitu hening, dan kondisi kamar pun sudah begitu gelap. Mama memberanikan diri mengetuk pintunya sejenak. Namun, tak kunjung ada jawaban.
Kreeek! Pintu terbuka ketika Mama mencoba memutar handlenya. Rupanya mereka lupa mengunci. Pemandangan indah Mama lihat dari tempatnya. Yaitu ketika Abi tidur memeluk erat tubuh Nisa dengan begitu hangat dan erat. Berselimut dan tampak begitu nyenyak. Entah pemikiran apa yang lewat pada Mama Sofi saat ini.
Tap... Tap... Tap... Langkahnya begitu ceria menuruni tangga dan kembali pada Bik Nik.
"Mana Mas Abi? Kok ngga turun?"
"Ngga papa. Simpen aja makanan nya. Nanti kalau laper, mereka turun sendiri angetin makanan."
"Udah tidur? Tumben cepet?"
__ADS_1
"Udah, jangan banyak tanya. Doain, saya cepet punya cucu," harap Mama, dengan memainkan jari lentiknya dengan tangan yang menopang dagu. Mengedip-ngedipkan matanya genit.
Bibik hanya menggelengkan kepalanya, sembari terus membereskan meja makan yang sedikit berantakan. Menyisakan makanan untuk kedua anak manusia yang sedang penuh gairah itu.
*
Perut Nisa keroncongan. Bahkan terasa perih di bagian ulu hati. Ia ingat jika dirinya memiliki magh, dan harus segera di cegah agar tak makin parah. Ia pun menyngkirkan lengan Abi dari pingganya secara perlahan.
"Kemana?" tanya Abi tanpa membuka matanya.
"Cari makan... Mau ikut?"
"Tidak... Pengaruh obat, terasa begitu berat."
"Ya, baiklah..." jawab Nisa. Ia pun turun dan menuju dapur, menghangatkan semua makanan yang tersedia sembari bersenandung riang. Ia melakukan itu, hanya untuk menetralkan ketakutannya, karena sudah tengah malam ketika Ia bangun.
"ASTAGHFIRULLAH!!" Nisa terkejut, terpekik, bahkan kakinya gemetar hebat dengan jantung yang berdegup kencang. Untung saja, Ia tak tengah memegang panci berisi makanan panas di tangannya.
"Kenapa? Seperti melihat hantu?" tanya Abi, dengan tatapan datar dan tajam seperti biasa. Yang bukan membuat takut, justru membuat Nisa serasa ingin segera menjambak rambutnya bertubi-tubi.
__ADS_1