Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Menurut, atau pergi?


__ADS_3

gaimana gaun Nisa? Sudah kau persiapkan?" tanya Abi pada Dita, ketika mereka tengah bersama di ruangan Abi.


"Di butik biasa, tempat sahabatku. Nanti, kita kesana bersama Nisa untuk Fiting gaun nya." jawab Nisa, sedikit gugup. Matanya pun tampak sembab dan pucat.


"Kau kenapa? Sedih?"


"Tidak. Aku hanya sedang tak enak badan," jawab Dita, meski Ia tahu jika Abi tahu Dia berbohong.


Abi terus manatap Dita. Hari ini tampak diam dari biasanya. Berbicara seperlunya, itu pun hanya jika Abi bertanya.


"Dokumen sudahnku revisi. Semua nya tinggal kau periksa dan kau bubuhi tanda tangan. Aku kembali  keruanganku." pamit Dita, dengan segera menutup laptopnya. Namun, Abi menggenggam lengannya.


"Bi, tolong." pinta Dita, berusaha melepas genggaman itu.


"Kau kenapa? Patah hati?" tanya Abi sekali lagi. Dita pun kembali duduk tenang, menunduk kan kepalanya tanpa menatap Abi untuk bicara.


"Ya, aku patah hati." jawab Dita, dengan menghela nafas panjang.


"Aku baru tahu, rasanya sakit hati. Ku kira tak sakit. Rupanya, sakit sekali, Bi. Mungkin aku akan bunuh diri, jika aku merasakan yang seprtimu. Hanya begini saja, rasanya aku sudah malas hidup." isaknya.


"Siapa?"

__ADS_1


"Kau tak perlu tahu, Bi. Biar saja begini. Fokuslah pada pernikahanmu."


"Dita?".


"Aku mohon, jangan bertanya lagi." pinta Dita. Ia pun kembali beridiri, dan keluar dari ruangan itu.


Abi diam, Ia gusar ketika sahabat karibnya di sakiti. Namun, Dita sendiri begitu tertutup dengan dirinya. Apalagi soal perasaan.


"Jika aku tahu pria itu, Aku tak akan tinggal dia." geramnya.


Hari semakin siang. Ia menelpon sang Mama untuk menanyakan kegiatannya bersama Nisa hari ini.


"Jadi belanja?" tanya Abi.


"Kenapa, Ma?"


"Nisa sungkan, Bi. Dia terlalu takut belanja. Apalagi, kalau lihat harganya yang mahal. Dia langsung nolak."


"Ambilin aja, Ma. Apa yang dia lihat, Mama ambil dan bayar. Abi, ngga bisa menyusul saat ini. Alex di luar kota, sekarang."


Mama Sofi menghela nafasnya panjang. Menatap Nisa yang baginya aneh, dan memikirkan sang putra yang begitu cuek pada calon istrinya. Namun, itu tugasnya sebagai penengah mereka.

__ADS_1


" Yaudah... Mama lanjut belanja." ucapnya pasrah.


"Ya, nanti kalau ada yang kurang, bilang Abi." balas Abi, lalu mematikan telepon nya. Ia pun menyandarkan bahunya di kursi, dan sesekali memijat tengkuk lehernya yang pegal. Tak hanya pegal, tapi rasanya begitu berat seperti ada yang tengah menindihnya saat itu.


Abi memejamkan matanya sejenak. Kembali menghela nafas panjang untuk beberapa kali untuk membuat ringan tubuhnya sedikit. Tapi hanya sedikit, karena setelah itu Ia bergegas meraih jas nya dan pergi.


"Dita, titip kantor."


"Mau kemana?" tanya Dita, tanpa menoleh.


"Menemani Mama dan Nisa belanja. Aku tak lama," balas Abi, dan berjalan dengan cepat meninggalkan Dita di ruangannya.


"Aku sangat sadar diri, Bi. Sadar, jika aku bukan siapapun dalam hatimu. Entah kau anggap apa aku selama ini," tatapnya tegang, pada sebuah foto Abi di layar laptopnya. Foto yang seharusnya bertiga, tapi Ia potong dibagian Abi, dan Ia pajang sebagai layar utama.


Abi berangkat dengan mobilnya. Menyetir dengan kecepatan tinggi, agar segera dapat menyusul sang  Mama ditempatnya.


"Ini kemahalan, Ma. Ngga enak, Nisa."


"Abi yang nyuruh, Nak. Dia udah pesen sama Mama." sergah Mama sofi.


"Ma, tapi....."

__ADS_1


"Sudah ku bilang, jangan banyak membantah. Aku yang mencari uang itu, dan aku bebas memberi uang itu padamu. Belanja, atau pulang?" ucap Abi, yang tiba-tiba datang dengan tatapan nya yang selalu menusuk di kalbu


__ADS_2