
"Maaf, saya salah lagi." jawab Nisa. Ia kemudian merapikan dirinya, lalu kembali ke meja kerja dengan segala tugas yang ada. Apalagi, Ia harus kembali ke ruangan Abi untuk mengambil dokumen yang Ia tinggalkan barusan.
"Maleeeess," Nisa menidurkan kepalanya di meja kerja. Fikirannya kacau balau, bahkan Ia serasa ingin melepass kepalanya sejenak. Berharap, semua beban itu juga ikut lepas meski hanya sesaat
Telepon di mejanya berdering di sela semua fokusnya. Tak hanya sekali, bahkan beberapa kali hingga memancing emosi Nisa saat itu.
"Astaga, cobaan apalagi ini?" keluhnya kesal. Serasa tak di beri waktu, meski hanya sekedar menghela nafas.
"Angkat loh, Sa. Kali aja Bos yang nelpon, ada perlu sama kamu." tegur Febi.
Nisa pun mengalah, lalu mengangkat teleponnya. Dan benar saja, itu adalah Abi. Nisa langsung lesu dan tampak begitu malas.
"Dokumenmu, Ambil." pinta Abi. Seperti biasa, nada bicaranya seolah tanpa ekspresi dan begitu datar. Nisa selalu terbayang-bayang akan wajah itu beberapa jam ini.
"Iya, Pak. Nyebelin!" ucap Nisa. Seketika, semua staf disana menatapnya dengan tatapan setajam elang mencari mangsa.
"Beraninya, kamu!" ucap salah seorang supervisor. Yang bahkan Ia pun tak berani mengucap kata kesal pada Bos besarnya itu.
__ADS_1
Nisa hanya tertunduk malu, tak enak hati dengan semuanya. Ia pun segera berdiri, melangkahkan kakinya masuk kerungan itu lagi. Dengan harapan, tak ada kejadian aneh untuk yang kesekian kalinya.
"Pak, mana dokumen nya?" pinta Nisa. Berusaha tak menatap atau membahas perbincangan barusan.
"Kau sudah memikirkan matang-matang, tawaranku yang tadi?"
"Sudah matang, Pak. Bahkan sampai gosong."
"Lalu?" tatap Abi. Bukan penuh harap, tapi hanya ingin mendengar jawaban, dengan tetap pada tatapan dinginnya.
"Jika tadi gosong, tandanya kau tak memasaknya dengan benar. Maka, matangkan lagi fikiranmu. Ayo menikah." ajak Abi, untuk yang kedua kalinya.
Nisa mengehela nafasnya panjang. Bahkan begitu panjang kali ini. Rasanya, Ia ingin mengamuk dan memarahi Abi habis-habisan. Tapi, Ia sadar jika ini masih di kantor sang Bos. Jangan kan untuk mengamuk, hanya keceplosan saja semua orang sudah menatapnya tajam.
" Bapak, bagi saya pernikahan itu sakral. Bukan buat main-main."
"Saya sedang tidak mengajakmu bermain." jawabnya datar.
__ADS_1
"Lalu, mau menikah buat apa? Emang Bapak cinta sama saya? Kenal saya aja engga, kan?"
"Biodata kamu ada di HRD." jawab Abi, sebegitu santai tanpa perlu banyak bicara
"Astaghfirullah!" elus Nisa di dadanya berkali-kali. Akhirnya, Nisa menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.
"Bapak, mau nikahin saya buat apa, Pak?" tanya Nisa lagi, dengan perasaan yang teramat sangat Ia tahan kali ini.
"Saya harus menikah. Itu saja. Saya tak pernah main-main, dengan keputusan saya. Saya perlu kamu, kamu perlu uang saya. Itu saja. Kita impas."
Jawaban yang jujur keluar dari mulut Abi Benar-benar sangat jujur. Nisa memang butuh uang saat ini, untuk pengobatan Neneknya. Dan Abi, butuh sosok istri yang entah untuk apa fungsinya. Nisa belum tahu, dan bahkan merasa tak ingin tahu. Hanya, Abi memang aneh baginya.
"Tapi, saya bukan cewek matre, yang melihat semua nya dari segi materi. Menikah, bukan hanya sekedar saya meminta uang Anda. Tidak."
"Tapi kenyataan berkata seperti itu. Semua nyata di hadapan saya. Hanya itu."
"Saya bukan wanita murahan!" ucap Nisa. Mengambil paksa dokumen itu dari atas meja Abi.
__ADS_1