Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Ku buang, karena aku tak suka.


__ADS_3

"Pak Abi!" pekiknya. Abi pun menoleh, dan menatap Nisa dengan tatapan dingin seperti biasa.


"Ya, ada apa?" tanya Abi.


Nisa melangkahkan kakinya, semakin cepat mengikis jarak antara Ia dan Bosnya itu. Semakin dekat, dengan tatapan tajam hingga alisnya berkerut.


"Kau, kenapa?" tanya Abi, aneh.


"Saya tahu ya, kalau Bapak itu ganteng, mapan dan kaya raya. Tapi, Bapak ngga bisa seenaknya gitu dong." omel Nisa.


"M-maksudnya?" Abi menyipitkan matanya. Nisa pun mengeluarkan coklat itu dari genggamannya. Meletakkan tepat di depan mata Abi.


"Kau, mengorek tong sampah?"


"Ya, berarti Bapak mengakui, jika coklat ini Bapak buang ke tong sampah. Kenapa? Coklat murah, ngga level? Harusnya, Bapak lebih bisa menghargai pemberian dari orang lain. Apalagi itu wanita, karyawan sendiri pula. Kalau ngga suka, buangnya jangan di tong sampah kantor. Kalau Febi lihat, gimana? Kan sakit hati, Pak. Kasihan."


Nisa meracau tanpa henti, dan Abi hanya mendengarnya dengan tatapan dan wajah datarnya. Tak membalas, tak mengelak dan tak berusaha menghentikan nya. Hanya diam, dan terus memperhatikan Nisa berbicara panjang lebar, hingga saat nya Ia berhenti sendiri.


"Pak, hargai dong, perasaan wanita. Yang Bapak fikir itu murah, siapa tahu mereka dapetnya susah. Nabung, nyisihin uang belanja. Ngga kayak Bapak, mau apapun tinggal tunjuk, berapapun harganya. Apa iya, orang kaya selalu merendahkan orang miskin?" Nisa mengakhiri racauan nya dengan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


" Sudah?" tatap Abi padanya. Tatapan yang seketika membuat Nisa diam seribu bahasa, dan hanya membalasnya dengan sebuah anggukan.


"Aku tak suka coklat. Aku tak suka hadiah. Aku, juga tak suka diberi perhatian. Jika kau bilang aku tak menghargai, aku sudah cukup mengharagainya dengan menerima itu semua. Dan sampah ini, dia tak akan tahu jika bukan kau yang memberi tahunya. Dan...."


"Apa?" lirih Nisa, mulai gugup ketika Abi mendekatinya. Begitu dekat hingga kedua hidung mereka saling menempel.


"Jangan terlalu sibuk mengurusi orang lain. Dia, belum tentu akan perduli dengan mu." bisik Abi.


"Ya, kalau memang ngga suka, tolak aja. Jangan memberi harapan palsu, dan..."


Ucapan Nisa terputus, ketika Abi menutupkan jari telunjuk di bibir gadis itu. Hp nya berdering, dan Mama Sofi memanggilny. Abi mengangkatnya dengan segera, demgan sapaan yang begitu lembut dan hangat.


"Ada apa, Ma?" tanya Abi.


"Pulang sekarang."


"Ma, ada apa? Kok mendadak nyuruh Abi..."


"Pulang sekarang!" Mama Sofi memekik dari sana, membuat Abi seketika menjauhkan Hp dari telinganya.

__ADS_1


"Hiks, Suami takut istri," cibir Nisa dalam hati.


"I-iya, Ma. Abi pulang sekarang juga." jawabnya gugup.


Abi pun langsung mengantongi kembali Hpnya, dan Ia tanpa sadar menyeret Nisa untuk ikut bersama nya menuju mobil. Nisa melotot seketika, tak sempat berucap sama sekali karena mengikuti langkah Abi yang cepat. Membuatnya berlari dengan nafas nyaris habis.


"Masuk." ucap Abi, mendorong Nisa masuk kedalam mobilnya. Ia pun menyusul  masuk ke dalam mobil dan mulai menyetir.


"Pak?"


"Hmm?"


"Kenapa, saya dibawa?"


"Saya, hanya butuh teman. Tetap duduk, dan diam disana." pinta Abi.


Ia tampak begitu fokus menyetir, menatap tajam kan pandangannya ke depan. Begitu cepat, hingga Nisa memegangi sabuk pengaman nya dengan begitu erat, sembari melantunkan doa untuk kesalamatan dirinya sendiri.


"Tuhan, aku belum siap mati. Aku masih ingin menikah. Setidaknya, itu hal bahagia dalam hidupku." ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2