Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Hari pernikahan.


__ADS_3

Hari pernikahan telah tiba. Meski bukan hari yang mereka tunggu, tapi setidaknya mereka telah sepakat dengan tujuan masing-masing.


Di kamarnya, Nisa tengah di rias oleh seorang MUA yang terkenal mandandani para pesohor tanah air. Dan tentunya, dengan biaya yang sangat mahal. Sudah dipastikan, jauh dari kata sederhana, seperti yang diucapkan oleh Abi sebelumnya.


"Pengantin perempuan, sudah selesai?" tanya seorang dari Wedding organizer.


"Sebentar lagi, tinggal polesan terkahir sama accesoris." jawab salah seorang rombongan MUA nya. Padahal, mereka melakukan tugas itu sejak subuh tadi. Dan terhitung Lima jam lebih hanya untuk Nisa seorang.


"Emang dasarnya cantik, kulit juga bersih. Mau di apain ya tetep cantik." puji sang perias padanya..


"Mba Nisa, ada yang mau dilaksanain ngga?"


"Ehm, apa?" tanya Nisa, tengah dipakaikan lipstik kala itu.


"Mau pipis dulu, atau apa gitu?"

__ADS_1


"Engga," jawab Nisa, segan dan malu-malu.


Biasanya, di moment seperti ini, harusnya sahabat terdekatlah yang melayaninya sebagai pagar ayu. Namun, Nisa tak memiliki itu. Dita pun memilih menjadi pendamping untuk Abi di bawah sana. Bersama Alex dan Mama Sofi.


"Bro, udah siap?" goda Alex, dengan mengelus-elus bahu Abi. Pria itu tampak tegang, meski Ia sembunyikan dalam wajah tenang.


"Tarik nafas panjang-panjang. Nanti, kalau Ijab qabul, harus satu helaan nafas." imbuh Alex.


"Kau fikir, aku tak faham?" bengis Abi.


Alex hanya tersenyum. Ia dengan begitu santai, merogoh saku celana, lalu memasukkan sesuatu di saku Abi.


Alex mengusap hidungnya, mendekat pada Abi lalu berbisik, "Amunisi. Persiapan untuk nanti malam." jahilnya.


Mata Abi langsung melotot seketika, "Gila Kau!" pekiknya, spontan meraih dan membuang benda itu ke atas ranjang. Alex seketika tertawa terbahak-bahak, melihat kelakuan sahabat nya itu.

__ADS_1


"Kalian, apaan sih?" tanya Dita, yang datang dengan wajah sinisnya. Menatap Alex dengan kesal, tapi langsung perih ketika menatap Abi. Entah, bagaimana ketika Ia bertemu dengan Nisa nanti.


Nisa mendekat, menyingkirkan Alex dari sisi Abi. Lalu Ia yang mengikis jarak antara keduanya. Dita segera merapikan jas dan dasi Abi, agar semakin tampan dan rupawan. Hingga tak ada celah sedikitpun, untuk melihat sebuah kesalahan dari penampilannya.


"Kau baik-baik saja?" Abi menyadari kepedihan di mata indah itu.


"Iam okey. Iam very, very okey." Dita menghela nafas dengan begitu berat, sembari menepuk nepuk dada Abi yang bidang, dan bahunya yang seluas samudera.


Dita menggandeng Abi, membawanya keluar menuju tempat dimana Abi akan mengucapkan akadnya untuk Nisa. Membawanya duduk disana, dan Ia pun duduk berbaur dengan Mama Sofi dan yang lainnya.


Terdengar suara langkah kaki. Langkah yang begitu anggun, menuruni satu persatu anak tangga. Datang, menghampiri sang mempelai pria ditempatnya menunggu.


Abi menoleh. Dan tak dipungkiri, jika Ia memuji kecantikan dan keanggunan Nisa kali ini. Meski, tampak bayangan Rere tepat berjalan melayang di belakang Nisa. Merusak pemandangan yang harus nya begitu indah itu. Abi menelan salivanya, dan langsung tertunduk tegang bercucuran keringat.


"Bi, Are you okay?" tanya Alex, yang langsung menghampiri dengan sapu tangan nya.

__ADS_1


"Lex, aku butuh...."


"No... Kau tidak bisa meminumnya saat ini. Tarik nafasmu dalam-dalam, lepaskan semua beban itu, Bi. Ingat apa tujuanmu, dan lupakan yang lain." bisik Alex, berusaha menguatkan sahabatnya itu.


__ADS_2