
"Nisa, kok masih telfonan? Katanya mau istirahat." Mama sofi menegurnya, sembari naik dengan membawa pakaian Nisa yang semalam Ia tahan. Entah, iblis apa yang merasuki sang Mama mertua hingga berfikiran seperti itu.
"Mas Abi nelfon. Katanya, nanti sore mau ajak kerumah temennya. Jenguk, lagi sakit." jelasnya.
Mama Sofi tersenyum, sembari menyusun pakaian itu di lemari dengan rapi. Kemudian, Ia melangkahkan kakinya mendekati Nisa, dan duduk tepat di sebelahnya.
"Maafin Abi ya, Nis. Abi hanya masih trauma, ketika Calon istrinya meninggal Lima tahun lalu.. Ia begitu sulit membuka hati, sejak saat itu." belainya, di rambut panjang Nisa yang sudah kembali mengering.
"Maka dari itu, Mama bahagia sekali, ketika Abi bilang mau menikahi kamu. Pokoknya, Mama langsung setuju. Dan kamu, harus berusaha membangkitkan hati suamimu. Bisa?" mohon sang Mama.
Nisa menggigit bibirnya. Jujur bingung dengan semua permintaan Mama Sofi kali ini. Pasalnya, Ia juga belum faham akan apa yang harus Ia lakukan. Dan untungnya, Mama Sofi dengan begitu peka mengajarkannya.
Mama sofi meminta Nisa, agar selalu memberi perhatian pada Abi. Tak gampang tersinggung, dan berusaha melayani Abi sebagaimana mestinya seorang istri. Beliau tak meminta banyak. Apalagi, Nisa sudah dengan cepat Ia anggap sebagai putri nya sendiri.
"Mama ngga minta kamu masak, beres-beras. Engga, sayang. Mama hanya minta, kamu fokus pada Abi. Sambut dia ketika pulang. Manjakan dia secara pribadi. Bila perlu, pakai baju halalmu setiap kalian di kamar."
"Ba-baju halal?" mata Nisa terbelalak.
__ADS_1
"Iya, baju yang Mama siapin."
"Baju yang tipis menerawang itu? Astaga," Nisa mengelus dada.
"Sayang... Itu wajib untuk seorang istri. Kalian menikah, untuk ibadah 'kan?"
"Heh? Ah... Iya, Ma. Iya, untuk ibadah." angguk Nisa beberapa kali.
"Kamu yang aktif, ngga papa. Mama seneng. Abi akan semakin bangkit, jika kamu yang aktif."
"Hah? Bangkit, aktif. Apanya? Istilah yang sulit dimengerti macam apalagi ini, Tuhaaaaan!" racaunya dalam hati. Perasaan semakin bergejolak, ketika ucapan Mama Sofi merembet kemana-mana.
"Yaudah, Nisa lanjut istirahat. Mama keluar dulu," pamit Mama sofi.
"Iya, Ma." angguk Nisa, yang kemudian menarik selimutnya untuk tidur sejenak.
*
__ADS_1
"Siang, Pak..." Feby masuk ke ruangan Abi, untuk memberikan beberapa berkas.
"Ya, masuk. Taruh berkasnya di meja, nanti saya baca." Abi menelengkan kepalanya, untuk memberi isyarat pada gadis itu.
"Ehm, Pak?"
"Ya, ada apa?" tanya Abi, tanpa menolehnya.
"Nisa, bagaimana?"
"Baik, kenapa?"
"Ah, tidak apa. Hanya rindu. Dia 'kan, teman satu divisi disini, meski hanya seminggu," ucap Febi, berusaha mengakrabkan diri dengan bosnya itu. Apalagi tatapannya pada Abi. Seolah memang sudah begitu banyak harapan pada pria tampan, mapan, dan rupawan itu. Hatinya selalu berdegup dengan kencang, apalagi ketika berhadapan langsung.
" Hm... Kenapa masih disini? Ada yang masih perlu ditanyakan?" tegur Abi. Terkejut, ketika Feby justru diam dan mematung di tempatnya berdiri tadi.
"Tanyakan, jika ada keperluan. Atau, hubungi Manda karena Dita tak masuk." imbuhnya, kembali fokus pada dokumen dan layar laptop.
__ADS_1
Feby hanya tersenyum, mengangguk kan kepalanya dan perlahan berjalan mundur keluar dari ruangan sang Boas.
"Tampan, tinggi, matanya tajam. Setiap pandangan yang diberikan, meski sedikit langsung mengena dihati. Aku tak pernah sampai seperti ini." usap Feby di dadaanya yang bergemuruh begitu hebat. Menolak sadar, jika Abi adalah suami rekan kerjanya.