Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Aku lelah, Tuhan!


__ADS_3

Nisa mengendarai motornya dengan begitu cepat. Rasa lelah dan kesal seolah memudar dengan begitu cepat, berganti menjadi sebuah rasa cemas yang teramat sangat.


"Apalagi? Apalagi yang akan terjadi, pada hidupku yang Absurd ini? Aku tak sabar, menanti kejutan aneh lainnya." racau nya sepanang jalan, menggerutu lagi dengan segala kehidupannya yang terasa begitu memuak kan.


Apalagi? Tak memiliki orang tua, tak lanjut kuliah, dan harus menghidupi neneknya yang selalu keras kepala. Dan ketika merasa lega setelah mendapat pekerjaan, Ia harus kembali menerima takdir anehnya. Abi salah satunya.


"Aaaaarrrghhh! Benci! Benci bangeeeet!" pekiknya sepanjang jalan. Ia bahkan tak mampu menangis lagi untuk saat ini.


Tiba di Rumah sakit. Nisa langsung berlari dan masuk menuju ruangan IGD.


"Kak Adhim, nenek mana?" tanya nya, pada salah seorang yang Ia kenal disana.

__ADS_1


"Nenek? Nenek di ICU. Keadaannya kritis, Sa. Ginjalnya semakin parah, dan harus segera diambil tindaan operasi. Beruntung jika ada donor ginjal. Kalau tidak, entah bagaimanw cara nenek bertahan dengan satu ginjalnya, nanti." jelasnya.


"Astaga. Kenapa seperti ini?" Nisa langsung frustasi. Darimana Ia mendapat uang untuk biaya neneknya. Padahal, Ia juga baru saja masuk dalam perusahaan itu dalam hitungan hari. Tak mungkin, mereka akan memberikan pinjaman, apalagi dalam jumlah yang besar.


Nisa meninggalkan Adhim. Berjalan dengan gontai menuju ruangan tempat neneknya di rawat. Ia pun menatap tubuh renta itu, terbaring dengan berbagai alat di tubuhnya. Meski belum di rincikan, tapi Nisa memiliki gambaran, betapa besar biaya yang harus Ia keluarkan nantinya.


"Aku harus gimana? Aku harus apa? Semua terasa begitu cepat. Bahkan, aku tak dapat berfikir dengan baik saat ini." gumamnya dalam hati.


Nisa sendiri. Benar-benar sendiri saat ini. Tanpa teman, kerabat, atau bahkan seseorang yang hanya sekedar mengusap bahu untuk menyabarkan nya. Ia hanya bisa terduduk lemah, dengan kepala kosong yang bahkan sulit untuk diajak berfikir.


"Kamu mau dipecat? Keluar ngga izin, ngga pake balik lagi. Ngga ada hormat-hormatnya kamu, sama bos."

__ADS_1


"Buk, maaf, saya...."


"Utimatum terakhir dari saya. Jika kamu masih begini, benar-benar saya pecat kamu!" Dita pun langsung menutup obrolan mereka, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Nisa.


Air mata gadis itu pun akhirnya pecah. Menangis dengan begitu perih memeluk kedua kakinya. Duduk di lantai, tanpa alas sama sekali, di lorong Rumah sakit yang sepi itu. Tak ada suara, hanya bunyi alat dari ruangan yang di pakai sang nenek disana.


"Capek, Tuhan. Ini apa lagi? Ngga ada kah, cara bahagia dikit aja? Dikit kok, ngga minta banyak." keluhnya dengan semua air mata yang mengalir itu.


Ia tak pernah terlalu banyak mengeluh selama ini. Ia sudah terbiasa dengan segala sulit dan derita yang Ia alami. Tapi, kali ini terasa sangat sakit. Lebih sakit dari biasanya.


Hari sudah menuju tengah malam. Nisa bersiap untuk pulang. Ia harus bekerja esok hari, karena Ia butuh uang untuk membayar biaya sang nenek. Meski, uang itu jauh dari kata cukup untuknya

__ADS_1


"Cari tambah dimana setelah ini?"


Hingga akhirnya Nisa berhenti di sebuah lampu merah. Menatap ujung jalanan, dan melihat dunia gelap diujung sana. Terbesit sebuah fikiran kotor, ketika Ia harus bekerja dan memperoleh uang dengan cara yang cepat. Tak perduli apa pun resikonya.


__ADS_2