Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Panggilang yang bagaimana?


__ADS_3

"Siap?" tanya Abi, sedikit memberi perhatian. Entah tulus, atau hanya jika di lihat oleh orang lain saja. Nisa tak perduli, yang jelas mereka sudah dengan kesepakatan yang akan mereka jalani.


"Pak Abi?" panggil Nisa, menatap calon suaminya yang tengah fokus dengan jalanan.


"Ada apa?" dinginnya.


"Hanya ingin bertanya. Tapi... Tidak jadi." Nisa kembali menundukkan kepalanya.


"Tanyakan, jika kau ingin bertanya. Jangan menambah beban hidupmu, dengan hanya menyimpan pertanyaan untuk ku."


"Apa alasan Bapak, belum menikah di usia ini?"


"Menurutmu, aku tua? Kenapa mempertanyakan usia?"


"Tidak, hanya bertanya. Saya dengar, Bapak sudah berkali-kali menolak perjodohan." ucap Nisa. Ia sebenarnya tak begitu membutuhkan jawaban lagi. Hanya menghela nafas, dan kembali menatap ke depan jalan.


Abi pun diam saja. Tak berusaha menjawab lagi pertanyaan dari Nisa. Keadaan kembali hening dan begitu senyap, hingga akhirnya mereka tiba di Rumah sakit, tempat Nenek di rawat.


"Itu Nenek," tunjuk Nisa, pada sesosok tubuh lemah dengan berbagai alat didalam sana. Tak lupa, suara monitor yang selalu memberitahunya detak jantung sang Nenek yang sering tak stabil akhir-akhir ini.


"Rupanya kau? Hhh, dunia begitu sempit," usap Abi di dahinya.


"Siang, Nisa." sapa seorang perawat, yang memang kebetulan mengenal Nisa. Ia datang dengan ramah, dengan sebuah amplop putih di tangannya.


"Ini, ada sebuah surat pemberitahuan dari Rumah sakit. Maaf, baru memberitahu mu." imbuhnya, memberikan amplop itu pada Nisa.


Dengan tangan gemetar, Nisa meraihnya. Namun, Abi terlebih dulu mengambilnya dari perawat itu.


"Saya calon suami Nisa. Dan semua biaya perawatan Nenek, akan saya tanggung. Lakukan yang terbaik," pinta Abi, dengan membaca tiap lembar isi rincian biayanya.

__ADS_1


"Pak.... Mahal?" tanya Nisa, sedikit was-was.


"Lumayan," jawab Abi. "Aku ke bagian pembayaran, kau disini. Jangan kemana-mana." pinta Abi. Nisa menggangguk, dan duduk di kursi tunggu yang tersedia disana. Bahkan, Abi tak memberi tahu berapa total yang harus dibayarnya saat ini.


"Ya, aku sudah menjual diriku. Setidaknya, aku adalah istri sah nya nanti. Apalagi?" gumamnya dalam hati, menatap sepatu baru yang pertama kali Abi belikan untuknya. Yang bahkan, Ia tak tahu apa maksud Abi membelikan nya.


Langkah kaki kembali terdengar. Abi kembali, dengan mengantongi sebuah bill pembayaran. Penasaran ingin melihat, tapi Abi tak membeberkan berapa jumlahnya. Hanya banyak, itu lah jawaban Abi pada Nisa.


"Kita tak bisa izin pada Nenek. Dokter melarang kita masuk ke dalam," ucap Abi.


"Ya, sepertinya memang tak perlu." jawab Nisa.


"Baiklah, kemasi barang-barangmu, dan kita pindah kerumah ku." Abi menggandeng tangan Nisa, membuat jantung gadis itu berdesir dengan ritme yang begitu kuat.


"Jalannya jangan cepet-cepet, ngga tekejar." keluh Nisa, yang sulit menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah Kaki Abi.


"Bapak, langkahnya panjang banget gitu. Satu langkah kaki Bapak, Tiga langkah saya." tukasnya.


"Masih memanggil Bapak, pada calon suamimu?" tatap Abi, yang membungkuk kan badan menatap wajah Nisa.


Glek! Nisa menelan salivanya. Sorot matanya itu memang tajam, dengan alisnya yang membentuk sempurna. Sayang, sifatnya itu masih begitu dingin.


"Sa-saya harus panggil apa?" tanya Nisa, gugup.


"Terserah," balas Abi. Ia tegapkan lagi tubuhnya, dan berjalan dengan santai menuju mobil yang terparkir rapi di halaman Rumah sakit itu. Nisa kembali mengikutinya, berlari dengan langkah kecil dan segera masuk menyusul Abi di dalam mobilnya.


"Abang, Kakak, Pak suami, Mas. Atau, Sayang?"


"Eits! Stop. Mas saja, jagan yang lain. Apalagi, yang terakhir, okey?" potong Abi.

__ADS_1


"Tapi, nanti kalau orang lihat?"


"Ucapkan ketika perlu."


"Baiklah," angguk Nisa.


Perjalanan kembali hening. Nisa hanya diam dan bersandar di jok mobilnya dengan memakan makanan yang dikirim sang calon mertua. Tampak begitu nikmat. Atau, karena Ia memang jarang memakan makanan yang lumayan enak seperti itu.


"Kau bisa, makan di saat perjalanan?"


"Sesekali, biasanya tak bisa. Kan Nisa pakai motor." jawabnya santai, dan sibuk mengunyah makanannya.


Abi hanya menggeleng, dan kembali fokus pada setirnya. Menatap suasanya di depan yang tampak sedikit lengang, hingga Ia leluasa menguasai jalanan dengan kecepatan lumayan tinggi.


" Kau tinggal disini?" tanya Abi, ketika telah sampai dirumah yang sangat sederhana milik Nenek Nisa.


"Ya, kenapa? Jelek?"


"Tidak. Aku pun pernah, tinggal dirumah yang kecil dan sempit." jawabnya.


Nisa mulai membereskan beberapa bajunya. Tak banyak, karena Nisa tak mampu membeli banyak barang. Yang terpenting baginya, hanya harus rapi ketika pergi bekerja.


"Tinggal saja, nanti ku belikan yang baru." ucap Abi.


"Ngga perlu, ini masih bisa di pakai."


Namun, Abi kembali menggenggam tangan nya.


"Tinggal," ucapnya, dengan tatapan tajam dan dingin seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2