
Nisa dan Abi telah membersihkan dirinya. Kini mereka berdua tengah ada di ruangan dimana Nisa tengah memakai skincare, dan Abi mencukur kumis dan jenggot tipisnya. Nisa mengambil alih, dan mengeroknya dengan lembut, sembari sesekali memberikan kecupan di bibir manis itu.
"Dah, bersih." ucap Nisa, merapikan semua alatnya. Tapi, Abi meraih pinggul dan membalik tubuhnya, membawanya duduk di meja rias menghadapnya.
"Bentar lagi mau berangkat, nanti telat. Nisa suka lama,"
"No... Kau tak ikut," tukas Abi.
"Kenapa?" tatap Nisa, memelas.
"Jangan, aku tak akan bisa pergi jika kau mengantarku ke bandara."
"Tapi...."
"Patuhlah," Abi, menempelkan dahi nya pada dahi Nisa. Membuat nya lantas mengangguk meski dengan begitu berat hati.
Abi membuka laci meja itu, mengeluarkan sebuah kotak kecil yang ada disana. Sebuah kalung, dan Nisa begitu bahagia melihatnya.
"Buat Nisa? Kapan belinya? Bukan, barang Rere lagi, kan?"
"Hmmmmm?" Abi mengerenyitkan dahinya, sembari menelengkan kepala memasangkan kalung itu di leher Nisa.
"Nisa kemarin belajar, pakai heels. Ada heels cantik banget, kata Mama itu punya Rere. Ya, belum. Tapi, calon punya Rere."
Usai memasangkan kalung. Kedua tangan Abi bertumpu pada ujung meja. Menghadap lekat pada Nisa yang begitu senang dengan kalungnya.
"Dulu sudah sangat mantap. Aku bahkan sudah membelikan semua untuknya. Kau tahu, itu ketika aku sedang puas dengan segala pencapaian pertamaku. Bayangkan, ketika ekspetasi tak sesuai realita." ucap Abi, dengan sesekali menarik kuat ingus dari hidungnya.
__ADS_1
"Maaf," hanya itu, yang terucap dari Nisa.
"Segeralah bersiap, kita turun dan menghampiri Mama." usap Abi, pada rambut Nisa yang setengah basah.
Abi berjalan santai, menghampiri pakaian yang telah Nisa persiapkan. Begitu juga Nisa, dengan pakaiannya sendiri. Lalu Ia menghampiri Abi untuk memasang dasinya.
" Jangan nakal," ucap Nisa, mengundang senyum dibibir Abi.
"Kau fikir, aku sepertimu?"
"Kenapa Nisa?"
"Ya, kau nakal..." colek Abi, dihidunya. Tak lama berselang, menyusul Mama dan sarapan bersama.
Petuah Mama pun Abi dengarkan dengan tenang. Ucapan Mama selalu saja memikirkan Nisa. Semua tentang Nisa saat ini. Hingga rasanya, Abi yang seolah menjadi menantu, dan Nisa adalah anak kandungnya.
"Aku naik taxi. Jika kau mau pergi, pakai saja mobilnya."
"Boleh?"
"Ya, Aku mengawasimu." balas Abi. Ia melangkah dengan yakin, menghampiri taxi yang memang sudah menunggu.
*
"Udah, cuma Dua hari..." usap Mama di bahu Nisa.
"Bukan masalah lama nya, Ma. Tapi, Nisa masih ragu dengan mimpi dan yang lain."
__ADS_1
"Masih sering datang?" tanya Mama, dibalas anggukan Nisa. Mama pun tampak menghela nafas khawatirnya.
"Hanya saja, kata Mas Abi. Rere ngga datang seperti dulu. Rere begitu tenang, hadir menjadi dejavu ketika mereka bersama. Tapi, Mas masih nangis."
"Hmmm... Beritahu pada Alex, agar dia selalu menemani Abi. Jangan sampai kesepian."
"Iya, Ma..." angguk Nisa lagi. Ia pun berjalan masuk, membantu Bik Nik membereskan meja makan.
***
"Abi, kau dimana?"
"Di Taxi. Aku menuju Bandara."
"Kenapa Taxi? Nisa tak mengantarmu?"
"Aku melarangnya."
"Kau semakin aneh." cibir Dita.
"Ya, anggap saja begitu. Aku titip perusahaan, selama aku pergi. Jika ada sesuatu...."
"Aku akan menunggu mu pulang. Itu lebih baik, daripada aku harus menemui Nisa. Kau tak ingin kan, Mama pusing gara-gara aku dan dia?"
"Ya, fikirkan saja bagaimana baiknya. Aku mengawasi kalian,"
"Yesss, I know. Hati-hati dijalan," ucap Nisa, lalu mematikan telepon nya.
__ADS_1