
"Kita, ke rumah?"
"Ya, ini rumah Dita. Kenapa?"
"Ehm... Engga, kirain rumah siapa." jawab Nisa, meski rasanya begitu canggung untuk masuk ke dalam.
Ia terus mengikuti langkah Abi, dengan menatap ke sekeliling rumah yang meski tak terlalu besar, tapi semua serba moderen itu. Apalagi, untuk pintu pun harus memakai pin agar bisa masuk. Nisa takjub, bahkan aneh ketika Abi dengan begitu tenang membuka pintunya dengan kode yang Ia klik sendiri.
"Bahkan, untuk kode rumah saja Dia tahu. Begitu dekat mereka," manyun Nisa. Dan benar saja, pintu langsung bisa terbuka dengan mudahnya.
"Ayo," Abi menelengkan kepalanya pada Sang Istri.
"Kode rumah aja tahu, Apalagi?"
"Apalagi, apanya?" tanya Abi. "Aku tahu, Alex tahu. Kami sahabat dekat sejak lama. Sekretaris merangkap Asisten saja Lima tahun." jelasnya, Santai.
Menelusuri rumah itu. Sepi, tapi tetap bersih dan rapi.
"Dita?" panggil Abi, dengan meletakkan kunci mobilnya di meja.
"Aku di kamar, Bi. Daritadi, sangat sulit untuk bangun." jawab Dita dari kamarnya.
__ADS_1
"Terus, Mas mau ke kamarnya?" tatap Nisa tajam.
"Itu alasan aku membawamu. Ayo," tariknya, pada lengan Nisa. Mereka menuju kamar Dita, meski rasanya begitu malas bagi Nisa.
Abi membuka pintu, dan tampak Dita langsung membenarkan posisi duduknya dan menyambut Abi masuk. Senyum begitu lebar, meski wajahnya tampak begitu pucat saata itu.
"Hey, Kau sudah datang? Terimakasih, karena menyempatkan waktu untuk...." ucapan terhenti, ketika Dita melihat Nisa di belakang Abi. "Kau, mengajaknya?" Dita tampak enggan.
"Ya, Dia ikut. Kenapa?" tanya Abi, menarik sebuah kursi lalu duduk di dekat Dita. Nisa masih berdiri, dengan terus menggenggam tali tas selempangnya. Diam, dan begitu asing. Bahkan sedikit ngeri, hanya sekedar untuk menyapa Dita kala itu.
Abi tampak perhatian. Mengecek kening Dita dan membandingkan dengan keningnya. Memang panas.
"Kau sudah sarapan? Biasanya ada Bibik kemari."
"Kau harus makan."
"Tak ada apapun. Hp ku ada di meja hias, dan aku tak sanggup hanya sekedar mengambilnya."
"Biar, Nisa masakin bubur. Mau?" tawar Nisa, berusaha ramah dengan keadaan itu.
"Tak usah, nanti..."
__ADS_1
"Kau bisa? Tolong masak kan untuk Dita. Nanti, aku akan suapi dia." potong Abi, meminta sang istri memasak untuk sahabatnya.
"Iya, Mas. Nisa masakin," angguk Nisa, dengan segala antusiasnya.
"Mana tas mu?" Abi mengulurkan tangan, untuk meraih tas Nisa. Dan Ia pun memberikan nya dengan senang hati. Tampak begitu jengah bagi Dita yang memang sedang tak enak semuanya.
"Kau sengaja?"
"Sengaja apa?" tanya Abi, sembari mengecek isi Hp Nisa.
"Sengaja membawanya padaku. Abi, lihat aku." tegur Dita.
"Kenapa, tak boleh? Dia istriku. Dia harus ikut aku kemanapun. Kau yang kenapa."
"Kau memang kehilangan kepekaanmu. Apa mungkin, itu pengaruh dari obat penenang yang terlalu sering kau minum?"
"Tak hanya peka... Rasanya jiwa ku sudah hilang dari raganya." jawab Abi, datar. Dita pun hanya bisa menghela nafas kesal ketika Abi dengan segala es batu di hatinya.
"Mas, udah..." panggil Nisa, yang masuk dengan semangkuk bubur hangat di tangannya. Membawanya masuk, dan memberikan nya pada Abi.
"Boleh aku menyuapinya?" tanya nya pada sang istri.
__ADS_1
"Iya, ngga papa. Nisa keluar sebentar," mengambil Hpnya dari pangkuan Abi.
"Ya, ada pesan dari Adhim, tadi. Siapa?" tanya Abi, datar. Dengan tangan mulai memberi suapan pada Dita.