Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Aku memang benci dia.


__ADS_3

Alex menyeret Dita masuk ke dalam ruangan itu. Dimana Nisa tengah di tindak lebih intensif di dalam agar segera hilang pengaruh alergi dari tubuhnya. Tampak dari kejauhan, Abi duduk membungkuk dengan tangan menutup wajahnya dengan begitu cemas. Air matanya pun tak henti mengalir kala itu.


Terdengar suara langkah kaki. Abi menoleh dan langsung fokus pada Dita dengan begitu tajam. Ia pun segera berdiri, berjalan cepat dan mencengkram wajah Dita hinga gadis itu terperanjat dan sesak


"Abi!" pekik Alex, langsung meraih tangan Abi agar tak semakin kuat menyakiti Dita.


"Kau kenapa? Tak perlu semarah itu..." ucap Alex, tapi justru mengarahkan tatapan Abi yang begitu tajam padanya.


"M-maksudku, jangan seperti ini. Kita sama-sama khawatir pada Nisa. Tapi jangan bertindak gegabah," usap Alex di bahunya. Dan itu sedikit menenangkan Abi saat ini.


"Suami Bu Nisa?" panggil sang perawat. Abi menjawab dan segera menghampirinya dengan berlari, tak sabar segera tahu kabar istrinya..


"Kau tak apa?" tanya Alex, meraih wajah Dita yang baru lepas dari Abi.


"Dia mengerikan," tukas Dita, mengusap rahangnya yang nyeri.


"Dia hanya cemas. Nyaris hancur untuk yang kedua kalinya."


"Dia hanya alergi makanan."

__ADS_1


"Darimana kau tahu?" tatap Alex, mengerutkan dahinya.


Dita malas menjelaskan dua kali. Ia hanya berlalu dari Alex dan segera datang pada Abi. Ia pun  ikut di belakang, ketika Abi membawa Nisa masuk ke dalam ruang perawatan nya.


"Tunggu saja, sebentar lagi akan sadar." ucap Sang perawat, lalu keluar dari ruangan itu.


Abi duduk disamping Nisa, tepat diatas brankarnya. Sementara Dita dan Alex, duduk berdampingan di sofa ruang VVIP itu. Mereka diam, menunggu hingga waktunya untuk sama-sama bicara.


"Untuk apa kau kerumah?"


"Nisa memanggilku, ketika mulai aneh pada tubuhnya setelah memakan makanan itu."


"Di kotak, ada namamu. Apa kau mengirimnya untuk Nisa?" tanya Alex, dan langsung di balas gelengan Dita dalam datarnya. "Tidak, bukan."


"Ketika ku bilang bukan, maka bukan aku."


"Tapi kau membencinya!"


"Ya, aku benci dia. Tapi tak lantas, aku bisa menyakitinya. Meski rasanya sangat ingin." Alex sampai menyenggol tubuh Dita, memperingatkan atas semua kejujuran itu darinya. Ia begitu gamblang mengucap semua rasa bencinya pada Nisa saat itu,  bahkan di depan suaminya.

__ADS_1


"Aku membencinya, Bi. Dia pun membenciku. Dia mengatakan sendiri padaku. Tapi, bukan berarti kami bisa untuk saling menyakiti. Justru, yang tampak ramah lah, yang diam-diam menusuk begitu dalam dan nenyakitkan."


"Apa maksudmu?"  Alex meraih bahu Dita, dan menariknya agar mereka berhadapan. Abi hanya tertunduk, meratapi Nisa yang belum juga bangun hingga saat ini. Begitu perih, dengan segala alat yang ada ditubuh istrinya. Apalagi dengan oksigen di hidungnya.


"Mas?" panggil Nisa dengan begitu lemah.


"Ya, Sayang... Bagaimana keadaanmu?" Abi tampak begitu bahagia dengan sadarnya sang istri. Ia langsung membungkuk dan mengusap wajah itu, tapi Nisa menyingkirkan tangannya. Ia pun menutup wajahnya sendiri dengan telapak tangannya, karena wajahnya bengkak dan merah.


Nisa menangis tersedu-sedu kala itu.


"Hey, kau kenapa?" Abi mengusap rambutnya.


"Muka Nisa jelek, Nisa malu. Banyak orang disini,"


"Mereka hanya Alex dan Dita, kenapa harus malu?"


"Ngga mau..." geleng Nisa, tetap menahan tangannya, meski tangan Abi berusaha terus melepasnya.


"Hey, ayolah...." bujuk Abi, dengan begitu lembut..

__ADS_1


"Lepaskan, Nisa! Kau harus menjelaskan semuanya pada mereka. Jangan seperti anak Kecil!" bentak dita padanya..


Nisa pun diam, perlahan membuka wajahnya meski dengan bibirnya yang manyun dan penuh rasa terpaksa.


__ADS_2