Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Bela sungkawa dari Feby


__ADS_3

"Masss, dimana? Kok belum pulang?" telepon dari Nisa, yang cukup memberi sedikit ketenangan di hati Abi.


"Maaf... Sebentar lagi, aku akan pulang."


"Iya, Nisa tunggu." Nisa mematikan Hpnya, berdiri di depan jendela menatap taman kecil yang Ia buat bersama sang Mama.


Rasa khawatir menyeruak dalam hati, apalagi tampak hari yang mulai gelap. Rasanya ingin Ia segera menjemput suaminya. Namun, Abi sendiri yang bilang jika Ia akan pulang. Maka Ia akan pulang dengan segera.


Nisa segera berlari, untuk membersihkan dirinya. Agar semakin cantik dan Abi kembali tersenyum ketika menatapnya. Bila perlu, akan Ia ceritakan masa kecilnya yang nakal dan kumal, agar Abi kembali tertawa seperti tadi.


"Tawanya begitu indah," puji Nisa, membayangkan penemuan nya yang langka itu.


"Bapak, mau kemana?" Faby rupanya masih di kantor, dan menyapa Abi yang keluar dari ruangannya.


"Hey... Saya, mau pulang."


"Ya, pasti Ibu sudah menunggu. Maaf, Pak. Sampai kan bela sungkawa saya pada Beliau. Pasti, masih sangat sedih hari ini."

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih. Nanti akan saya sampaikan." ucap Abi. Ia pun berjalan dengan perlahan meninggalkan kantornya. Ia mengendarai mobilnya dengan cepat. Ingin segera tiba di rumah dan menyaksikan senyum indah itu menyambutnya. Peluknya yang hangat dan menenangkan.


Dan benar saja. Nisa langsung berlari menuruni tangga dan datang menyambutnya dengan ceria.


"Masss," peluknya erat. Bahkan Ia meloncat ke dalam gendongan Abi. Tubuhnya yang ringan, tak terasa bagi suaminya yang lanjut membawa nya naik ke kamar.


"Mas, kok lesu?" tanya Nisa, meloncat turun dan gendongan Abi.


"Dita...."


"Dita kenapa? Ngamuk, marah?"


Nisa tak bisa berkata apapun. Ia pun bingung, dengan rumitnya kisah itu. Ia hanya berusaha menghibur Abi saat ini. Merangkak naik ke tubuh bidang itu, dan tidur diatasnya. Tepat di dada Abi. Pria itu mengulurkan tangan dan mendekapnya erat.


"Nisa bingung, mau ngomong apa. Ini masalah hati, soalnya. Mau bilang sabar ya, Bu Dita. Tapi, pasti sakit banget." ucapnya, dengan jari mungil bermain di dada bidang itu.


"Dapat salam dari Feby..."

__ADS_1


"Hmmm?" Nisa mengangkat kepalanya, menatap pada Abi.


"Ya, dia turut berbela sungkawa atas meninggalnya Nenek."


"Iya," angguk Nisa. Ia berusaha bangun dari tubuh Abi, namun Abi mencegahnya.


"Jangan kemana-mana."


"Mas nya mandi dulu, bau. Ini udah sore," tolak Nisa. Tapi Abi tetap menahan nya.


Abi mengangkat tubuh, dan merubah posisinya menjadi duduk. Hingga Nisa spontan mengalungkan lengan di lehernya karena takut jatuh kebelakang. Tangan Abi mulai nakal, melingkarkan kaki Nisa di pinggang, dan manarik pinggul Nisa agar semakin erat dengan nya.


"Mas, pintunya..." Nisa menoleh kebelakang, tapi Abi meraih wajahnya dengan cepat.


"Sudah ku kunci," raihnya di rahang Nisa, dan membawanya semakin dekat.


Nisa hanya bisa diam. Abi sudah menguasai dirinya saat ini. Pria itu menghampiri bibir mungil Nisa dan menyesapnya dengan lembut. Nisa pun memejamkan matanya, menikmati dan membalas semua yang Abi berikan padanya.

__ADS_1


Abi tersenyum ketika melepas pangutannya. Memberi sedikit waktu untuk Nisa bernafas. Melihat dadan Nisa yang naik turun, membuat Abi semakin gemas dan mengikis jarak mereka kembali. Semakin dalam kali ini, bahkan tangan Abi tak tinggal diam segala yang bisa Ia sentuh di tubuh indah itu. Nisa hanya bisa menggeliat manja, memancing gelora semakin liar dan panas berdua.


__ADS_2