
Abi telah tiba di rumah nya, lagi. Ia mendengar senandung merdu dari Sang Mama di dapurnya Menyanyikan lagu kesukaan nya sembari memasak makan malam untuk mereka. Mama Sofi melihat nya pulang, dan segera menghampiri untuk menyambutnya.
"Hey, Sayang. Kamu, ngga jadi ajak Nisa?" tanya sang Mama.
Melihat wajah yang penuh harap itu, Abi pun tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya. Abi akhirnya harus kembali berbohong, jika Nisa ada kesibukan lain diluar sana.
"Baiklah, Mama ngerti. Sekarang, kamu mandi, ganti baju dan istirahat. Nanti, kita makan malam bareng. Mama masak, makanan kesukaan kamu." usapnya di bahu sang putra.
Abi mengangguk. Ia naik ke kamarnya dan segera melakukan yang Mama nya perintahkan. Hari ini terasa sedikit tenang. Tak ada gangguan atau traumatik apapun yang menganggunya hari ini. Hanya masalah pekerjaan. Dan mungkin, itu lah yang mengalihkan sejenak semua bayangan itu.
Abi merebahkan tubuhnya di ranjang. Memejamkan matanya, dan menghela nafas panjang. Itu adalah salah satu cara, agar Ia dapat mengontrol emosinya. Meski, itu juga tak terlalu berpengaruh saat semuanya kambuh.
Hari semakin larut. Mama Sofi membangunkan nya dengan begitu lembut, agar Abi bangun dalam keadaan yang santai. Jam makan malam nyaris lewat, dan Mama sofi hanya ingin makan bersama sang putra.
"Bi, kamu sudah lama dengan Nisa. Sebaiknya..."
"Ma, ini makan malam. Lebih baik, habiskan dulu makanannya."
__ADS_1
"Mama hanya ingin memanfaatkan moment, itu saja. Atau, kamu sedang banyak fikiran? Atau, rumor itu sudah..."
"Ya, Abi tak perlu menjelaskan lagi. Mama tahu itu."
"Kamu hanya harus membuktikan pada mereka, Nak."
"Ma...." sergah Abi, menghentikan aktifitasnya melahap makanan.
"Mama jangan memaksa. Abi ngga suka. Itu membuat Abi tertekan saat ini. Mama tahu, fikiran Abi sendiri sedang kacau." tegasnya.
"Dalam kondisi seperti ini, kamu hanya bisa mengabil sebuah keputusan. Bukan pilihan, Abi." jawab Mama Sofi, yang justru tampak sangat tenang kali ini.
*
*
*
__ADS_1
"Nisa, kamu kemana, kemarin? Tiba-tiba pergi, bahkan tanpa pamit. Kamu tahu kan, seberapa galak Bu Dita."
"Iya, jangan di perjelas. Sebelum kamu kasih tahu, dia juga udah nelpon." jawab Nisa, yang tampak begitu berantakan hari ini.
"Pasti kena ultimatum. Iya kan?"
"Iya," timpal Nisa. Ia berusaha fokus, meski isi kepalanya bercabang kemana-mana. Memikirkan semua hal yang menjadi tanggung jawabnya saat ini. Semuanya, tanpa terkecuali.
Nisa membereskan sebuah dokumen. Memasuk kan nya ke dalam map dengan begitu rapi. Ia menghela nafas, begitu panjang bahkan hingga beberapa kali.
Jelas saja, karena dokumen itu harus Ia laporkan pada Bos besarnya, Abizar. Bos yang sejak kemarin begitu enggan Ia lihat. Namun, rasa itu harus Ia telan dalam-dalam saat ini.
"Mau ke Pak Abi?" tanya Febi.
"Ya, mau wakilin?"
"Ogah! Itu kerjaanmu. Nanti malah ngga jelas, aku yang diamuknya. Dari kemarin, Dia tampak ngga stabil."
__ADS_1
"Lagian, emang dia pernah stabil? Dia kan emang aneh." tukas Nisa. Ia mulai bergerak, perlahan melangkahkan kakinya menuju ruangan itu. Ia mengintip sedikit dari kaca pintu. Tampak, sang Bos tengah begitu fokus dengan segala pekerjaan nya.
"Bisa ngga sih, di skip aja?" tanya nya, pada diri sendiri.