
Pintu terbuka. Abi masih terpejam dengan segala rasa takutnya. Begitu sulit hanya untuk Ia membuka mata.
"Mas..." suara Nisa memanggilnya, dan langkah kaki pun segera menghampirinya.
"Mas kenapa?" Nisa menepuk bahu Abi dan mengusapnya dengan lembut. Terasa olehnya, ketika tubuh itu serasa begitu kaku hingga Ia harus meyadarkan nya lewat sebuah tepukan.
"Aaaaarrrrggg!" Abi memekik, hingga akhirnya bisa membuka matanya. Ia segera mendongakkan kepala, dan menatap Nisa. Ia datang di waktu yang tepat.
"Kenapa? Katakutan lagi?" tanya Nisa, sembari memberi air minum yang memang sudah tersedia diatas meja Abi.
"Sejak kapan, kau datang?"
"Ba-barusan. Nisa barusan masuk, dan lihat Mas begini. Mas kenapa lagi?"
"Kau bawa obatku? Aku lupa?" tanya Abi, gamang. Ia masih berada diantara alam bawah sadarnya saat ini. Menatap Nisa pun, masih terasa membingungkan. Berkali-kali Ia menundukkan kepalanya, sembari memberi beberapa ketukan di kepalanya.
"Hey, kenapa begitu? Ngga boleh. Nanti makin sakit."
"Aku harus apa? Obatku tak ada. Aku....."
Nisa meraih wajah Abi, dan menatapnya dalam-dalam. Ia mearaih kedua tangan Abi kembali, melakukan Buterfly hug lagi. Meminta agar Abi menghembuskan nafasnya panjang, dan mengeluarkannya perlahan. Abi pun menurutinya. Lalu, Nisa menepuk-nepuk tangannya diatas tangan Abi yang barada di bahunya.
__ADS_1
"Sudah tenang?" tanya Nisa.
"Bisa kah, kau memelukku?" pinta Abi. Nisa pun terperanjat dengan keinginan langka itu.
"Ya, baiklah." Nisa memeluk Abi dari belakang. Namun, Abi justru menarik lengan Nisa dan membawanya kedepan. Tepat, duduk di pangkuannya.
"Hah?" Nisa hanya bisa memicingkan matanya. Apalagi, ketika Abi menyandarkan kepala diperut ratanya.
"Hanya sebentar. Begini saja, rasanya nyaman."
"Tapi... Ini di kantor,"
"Jangan melawanku, Nisa." lirihnya.
"Permisi, Pak Abi. Ini ada, be, berapa... Nisa?" Feby mendadak masuk dengan lembaran data di tangannya. Langsung mematung melihat keadaan Nisa yang duduk di pangkuan Abi seperti itu.
"Feby? I-ini..."
"Feby, kenapa lama banget?" tanya Dita, yang mengejarnya karena lama. Dita pun ikut diam, menatap Abi yang begitu tenang dalam dekapan Nisa.
"Pak Abi... Ini kantor," tegur Dita, dengan wajahnya yang tampak tak nyaman dengan pengelihatannya. Membuat Nisa pun tak enak hati dengan kedua nya.
__ADS_1
"Mas... Mas, lepasin dulu. Itu ada Feby sama Bu Dita." Nisa berusaha melepaskan pelukan Abi darinya.
Abi pun akhirnya mengangkat kepala. Tegap kembali menghadap kedua karyawannya itu. Dan Nisa, berhasil melepaskan diri dari Abi.
"Nisa, duduk disana."
"Ya," jawab Abi, singkat.
Abi meminta Feby memberikan dokumennya. Ia memeriksa dengan teliti, dan Dita mengawasinya. Terus seperti itu, hingga Feby pamit keluar, dan Dita tetap berada disana.
"Kau tak bisa menahan diri? Ini kantor, Bi. Bagaimana jika karyawan lain melihatnya?"
"Mereka melihatku bersama istriku. Kenapa aneh?" tanya Abi, begitu datar kembali seperti biasa.
"Ada apa barusan? Kau Halusinasi lagi?" tanya Dita, namun Abi hanya diam tak menjawabnya.
"Sejak kapan kau datang?" tatap Dita pada Nisa.
"Barusan. Tak lama ketika Mas Abi mulai...."
"Kau tak bawa obatnya?" potong Dita. Dan Nisa hanya menggelenkan kepalanya.
__ADS_1
"Bahkan aku dan Alex selalu membawa obat itu di kantong kami. Abi bisa kambuh kapanpun, bahkan ketika dalam keadaan tenang. Bisa kah kau menjadi istri yang siap siaga? Kenapa tak memanggilku, malah mengumbar kemesraan di kantor."
"Dita... Hentikan,"