
Nisa lagi-lagi membuat Abi menangis hari ini. Tapi, Abi menangis dengan sedikit senyuman di ujung bibirnya. Menatap kosong kearah tembok kaca di sebelah kanannya. Nisa pun beralih, segera menghampiri dan merangkul tangannya. Tak lupa, kepalanya menggelendot manja di lengan Abi.
"Jangan nangis, jelek..." usapnya di mata Abi, dengan tisue yang Ia bawa.
Abi menghela nafas dengan begitu panjang, beralih mengusap rambut Nisa yang lembut dan panjang terurai.
"Terimakasih," kecupnya mesra.
"Sama-sama," ucap Nisa. Ia memanyunkan bibirnya, berharap mendapat kecupan yang lebih hangat disana. Namun, bukan nya membalas. Abi malah mengusap wajah Nisa dengan telapak tangannya.
Nisa hanya memicingkan mata nya dengan kesal. Menghembus poninya hingga terbang keatas.
"Masih ngga peka,"
"Menggerutu lagi?" tegur Abi.
Nisa bergeming. Melanjutkan cemilan nikmat yang ada diatas mejanya. Begitu lahap, seolah tak perduli pada sang suami yang sedari tadi menatap dengan mengecap mulutnya sendiri.
"Bagi..." Abi meraih tangan Nisa, berusaha menggigit sosis bakarnya.
"Ogah... Beli sendiri,"
"Nisa," panggil Abi, berusaha selembut mungkin.
Permainan dilanjutkan usai mereka menghabiskan makanan. Abi seperti ayah yang menemani anaknya bermain. Atau seperti Om tampan yang menemani keponakannya. Semua permainan, Nisa datangi. Ia lupa, jika bukan teman ceria yang Ia ajak. Melainkan suami sedingin salju yang lebih banyak diam menyaksikan kegirangannya.
Tak apa. Abi tak mau lagi meninggalakn Nisa sedetikpun. Takut jika semua terulang lagu.
__ADS_1
"Mas?"
"Hmmm?"
"Mantan Mas, ada berapa?"
"Hanya Rere. Kenapa?"
"Nanya aja. Berapa lama sama Rere?" Abi pun mulai menghitung dengan jarinya.
"Tujuh tahun, dari SMA. Dengan sekarang, Dua belas tahun."
"Kan sekarang sama Nisa," sergah nya, dengan dahi berkerut. Abi tersenyum, manis sekali. Sangking gemasnya, Nisa meremas botol air mineral yang ada di tangannya. Bahkan ingin menggigitnya sampai peot.
"Pulang?" gandeng Abi. Nisa membalasnya dengan anggukan, dan berjalan dalam gandeng mesra suaminya. Sepanjang jalan, tanpa pernah di lepas.
"Nisa?" panggil seorang pria. Nisa pun menoleh, karena suara itu terasa familiar baginya.
"David?" sapa Nisa, tampak kurang senang dengan pria itu. Ya, David adalah mantan kekasihnya saat kuliah.
"Ngapain disini? Kerja?" tanya David, bergaya sok keren menghampiri Nisa semakin dekat. Nisa bergeser, menjauh darinya.
"Jangan sok alergi. Masih mending aku nyapa kamu duluan."
"Mau apa?" tanya Nisa, membuang muka.
"Kamu masih gini-gini aja, ngga ada perubahan. Jadi apa kamu di mall ini? Seles, pramuniaga? Kasihan, ngga ada kemajuan. Kuliah ngga selesai." cibirnya. Namun, Nisa begitu malas membalasnya. Untung saja Abi datang dan langsung turun menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Abi, menatap pria parlente itu, dari atas hingga bawah.
"Ini....."
"Saya mantan pacar Nisa. Dulu tapi, jaman kuliah. Sayangnya, dia ngga lanjut, jadi putus aja. Males juga, pacaran sama anak putus kuliah. Masa depan nya ngga jelas." cecar David, dengan semua argumen yang Ia miliki.
"Oh ya?" tanya Abi, dengan begitu datar. Menatap bergantian antara istri dan mantannya.
"Ya... Untung ngga jadi," David masih saja membanggakan dirinya.
"Kamu, sudah sukses agaknya?" tanya Abi lagi. Membuat pria itu semakin membanggakan diri.
"Iya lah," Semakin terbang melayang dengan menaik kan kerah bajunya.
"Okey, kalau udah sukses...." ucap Nisa, dengan tatapan tajamnya. Perlahan melangkah mendekati David dan melepaskan genggaman Abi di tangannya.
"Apa?" David mulai cemas.
"Inget yang di taman?"
Glekk! David menelan salivanya.
"Aku pamit. Masih banyak kerjaan," david melangkah cepat.
"DAVID! Balikin duit gue yang Loe pinjeeem!!!" teriak Nisa dengan segala emosinya. Bahkan, melemparkan botol minuman itu dengan kuat. Tepat, mengenai kepala sang mantan.
"WOW!" kagum Abi, pada kekuatan tersembunyi istrinya.
__ADS_1