Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Ada yang sempurna, tapi pilih yang aneh


__ADS_3

Taxi berhenti tepat di depan pintu masuk. Abi mengantar Nisa menunggu nya sepuluh menit dari jadwal.


"Pulang lah. Jangan kemanapun setelah ini. Kau dalam pengawasan ku."


"Emang mau kemana? Temen aja ngga punya."


"Baiklah, aku pulang seperti biasa."


"Iya," jawab Nisa sembari meraih tangan Abi dan menciumnya. Pintu pun ditutup, dan Nisa pergi dengan taxinya. Melambaikan tangan pada Abi dengan ceria. Sayangnya, Abi hanya membalas dengan kedipan mata. Karena kedua tangannya sudah begitu nyaman di dalam saku celana.


"Ya, seperti itulah. Harus bagaimana lagi? Toh, sudah terbiasa. Dan akan semakin terbiasa," Nisa menggerutu lagi untuk kesekian kalianya.


Taxi pun akhirnya membawa Ia pulang kerumah. Disambut Mama Sofi yang menunggunya di luar dengan sebuah buku di tangannya.


" Katanya ke Rumah sakit, kok lama?"


"Iya, Nisa mampir ke kantor Mas buat ajak makan siang."


"Mau?" tanya Mama Ayu, karena Abi memang sering melewatkan makan siangnya.


"Mau dong. Kan Nisa yang minta. Meski harus dengan sedikit pemaksaan," ucapnya bangga.

__ADS_1


"Iiih, ngga salah Abi pilih kamu jadi istri." bangga Mama, dengan mencubit pipi menantu kesayangannya itu.


Nisa kemudian masuk untuk istirahat di kamarnya. Ia ingin memasak hari ini. Makanan yang enak untuk Abi, hasil kreasinya sendiri. Hanya itu yang bisa Ia lakukan untuk meraih hati sang suami. Meski entah, akan tersampaikan atau tidak, pada bongkahan es berjalan itu.


"Yang penting usaha," tutur Nisa, sembari menarik celana tidurnya yang berkaret itu. Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang, dan memejamkan matanya sejenak.


**


"Pak, semua orang sudah menunggu. Mari, kita berangkat." ajak Dita, begitu formal kali ini. Salah satu alasan asalah, ini masih dalam kantor mereka.


"Ya, baiklah..." Abi menutup laptopnya, dan segera berdiri meraih jas. Dita yang sudah terbiasa pun, dengan cepat membantunya. Ya, itu sudah Ia lakukan sekian tahun, dan selalu spontan dalam setiap tindakannya.


"Ya, seperti biasa." balas Dita, sedikit berat.


Mereka keluar berdua dari ruangan Abi. Melenggang bersama menuju mobil yang terparkir di tempatnya seperti biasa. Semua karyawan menatap keduanya, seperti masih tak terima jika kapal mereka tak berlayar sesuai keinginan.


"Sayang nya. Ada yang sesempurna itu, malah pilih yang aneh."


"Siapa, Nisa?"


"Iya, Dia aneh. Penyendiri, dan tak terlalu cantik."

__ADS_1


"Eh, malah pada ngegibah. Emang kenapa kalau sama Nisa? Ngga pantes?" tegur Feby yang muncul dibelekang mereka.


"Pantes, kalau Nisa bisa menyesuaikan diri dengan suaminya."


"Terus, kenapa dibanding-bandingin sama Bu Dita?"


"Andai kamu tahu, bagaimana mereka Lima tahun ini, Feb. Kebersamaan, dan semuanya. Bahkan begitu sayang ketika di gantikan seperti itu."


"Iya, rasanya belum terima kalau Bu dita ditinggal nikah begitu." sahut yang lain.


Mereka kemudian membubarkan diri, melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Biar bagaimanapun, kapal mereka telah berlabuh di dermaga yang lain. Dan mereka harus terima dengan keputusan itu.


*


" Kenapa diam? " tanya Abi.


" Lalu, aku harus apa? Aku sudah menjelaskan apa saja yang akan kita bahas disana. Dalam pertemuan itu. Dan tinggal nanti, untuk ke pertemuan berikutnya." jelas Dita, yang fokus menatap Hpnya.


Abi hanya bisa kembali diam, dengan semua perlakuan Dita padanya. Hanya tak ingin mengganggu mood gadis itu, karena akan bisa menghancurkan semuanya.


" Tugasku telah tergantikan, Bi. Untuk apa lagi?" gumam Dita dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2